Besarnya Perhatian Islam Terhadap Perkara Silaturahmi

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Dalam Islam, silaturahmi mempunyai kedudukan nan agung dan apalagi lebih didahulukan dari amal-amal kebaikan lainnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ

“Dan orang-orang nan mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berkuasa (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin.” (QS. Al-Ahzab: 6)

Ayat ini merupakan ayat nan menghapus norma warisan pada awal Islam nan bersandar pada hijrah dan hubungan pertemanan. Di mana di dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa hubungan kerabat dan kerabat sedarah lebih diutamakan dari hubungan-hubungan selainnya.

Di ayat nan lain, Allah Ta’ala menjadikan wasiat menyambung silaturahmi bersandingan dengan wasiat untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfiman,

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Dan bertakwalah kepada Allah nan dengan (mempergunakan) nama-Nya Anda saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa’: 1)

Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menyambung tali silaturahmi setelah memerintahkan kita untuk bertakwa. Hal ini untuk menunjukkan kepada kita bahwa menyambung silaturahmi merupakan buah dan hasil serta keberkahan takwa kita kepada Allah Ta’ala, menunjukkan juga jujurnya keagamaan kita kepada Allah Ta’ala.

Mereka nan senantiasa menyambung tali silaturahmi dan menjaga hubungan kekerabatan dengan sanak keluarganya adalah orang nan paling sempurna imannya serta paling sempurna ketakwaannya. Sebagaimana perihal ini disebutkan di dalam sabda nan sahih,

ومَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ واليَومِ الآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Dan barangsiapa beragama kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya dia menyambung tali silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 6138 dan Muslim no. 47)

Tidak mengherankan juga jika Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi muslim nan paling perhatian terhadap kerabat dekat dan keluarganya, lantaran beliaulah hamba Allah nan paling bertakwa. Pada permulaan turunnya wahyu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengemukakan kepada Khadijah bakal rasa cemas terhadap dirinya sendiri atas apa nan terjadi kepada beliau dari turunnya wahyu nan sangat berat ini, maka Khadijah radhiyallahu ‘anha mengatakan kepada beliau,

كَلَّا، أبْشِرْ، فَوَاللَّهِ لا يُخْزِيكَ اللَّهُ أبَدًا؛ إنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وتَصْدُقُ الحَدِيثَ، وتَحْمِلُ الكَلَّ، وتَقْرِي الضَّيْفَ، وتُعِينُ علَى نَوَائِبِ الحَقِّ

“Tidak. Bergembiralah engkau. Demi Allah, Allah tidak bakal mencelakakanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau betul-betul seorang nan senantiasa menyambung silaturahmi, seorang nan jujur kata-katanya, menolong nan lemah, memberi kepada orang nan tak punya, engkau juga memuliakan tamu, dan memihak kebenaran.” (HR. Bukhari no. 6982)

Perkara menyambung tali silaturahmi juga merupakan salah satu perkara nan diajarkan dan didakwahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pertama kali. Dikisahkan bahwa ketika Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu sedang berbareng Kaisar Heraklius, Kaisar Heraklius bertanya kepadanya,

“Apa nan diperintahkan olehnya kepada kalian (maksudnya adalah Nabi Muhammad).”

Maka Abu Sufyan menjawab,

اعْبُدُوا اللَّهَ وحْدَهُ ولَا تُشْرِكُوا به شيئًا، واتْرُكُوا ما يقولُ آبَاؤُكُمْ، ويَأْمُرُنَا بالصَّلَاةِ والزَّكَاةِ والصِّدْقِ والعَفَافِ والصِّلَةِ

“(Dia menyuruh kami,) ‘Sembahlah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apa pun, dan tinggalkan apa nan dikatakan oleh nenek moyang kalian. (Dia juga memerintahkan kami untuk) menegakkan salat, menunaikan zakat, berbicara jujur, saling memaafkan, dan menyambung silaturahmi.’” (HR. Bukhari no. 7)

Baca juga: Utang Bisa Menjadi Pemutus Silaturahmi dan Pertemanan

Ancaman bagi seseorang nan memutus hubungan silaturahmi

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat memotivasi umatnya untuk menyambung tali silaturahmi serta menakut-nakuti dan mengingatkan mereka dari ancaman memutusnya. Nabi ingatkan mereka bahwa akibat jelek dari memutus silaturahmi begitu cepatnya sampai kepada pelakunya. Beliau bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ مِنَ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada satu dosa nan lebih layak untuk disegerakan hukumannya bagi pelakunya di bumi berbarengan dengan balasan nan Allah siapkan baginya di alambaka daripada al-baghyu (kezaliman dan melakukan jelek kepada orang lain) dan memutuskan tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, no. 29; Tirmidzi no. 2511; Abu Dawud no. 4902)

Di sabda nan lain disebutkan,

إِنَّ الرَّحِمَ شَجْنَةٌ مِنْ الرَّحْمَنِ فَقَالَ اللَّهُ مَنْ وَصَلَكِ وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَكِ قَطَعْتُهُ

“Sesungguhnya penamaan rahim itu diambil dari (nama Allah) Ar-Rahman, lampau Allah berfirman, ‘Barangsiapa menyambungmu, maka Akupun menyambungnya. Dan barangsiapa memutuskanmu, maka Aku pun bakal memutuskannya.'” (HR. Bukhari no. 5988)

Dalam riwayat Muslim, dikisahkan dengan lebih lengkap,

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُمْ قَامَتْ الرَّحِمُ فَقَالَتْ هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ مِنْ الْقَطِيعَةِ قَالَ نَعَمْ أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ قَالَتْ بَلَى قَالَ فَذَاكِ لَكِ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ { فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمْ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا 

“Sesungguhnya Allah Ta’alalah nan menciptakan seluruh makhluk. Setelah Allah ‘Azza Wajalla menciptakan semua makhluk tersebut, maka rahim pun berdiri sembari berkata, ‘Inikah tempat bagi nan berlindung dari terputusnya silaturahmi (Menyambung silaturahim)?’ Allah Ta’ala menjawab, ‘Benar. Tidakkah Anda rela bahwasanya Aku bakal menyambung orang nan menyambungmu dan memutuskan nan memutuskanmu?’ Rahim menjawab, ‘Tentu.’ Allah berfirman, ‘ltulah nan Anda miliki (apa nan saya sebutkan tadi itulah nan bakal akan saya perbuat).’ Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Jika Anda mau, maka bacalah ayat berikut ini, ‘Maka, apakah kiranya jika Anda berkuasa Anda bakal melakukan kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang nan dilaknat oleh Allah dan ditulikan telinga mereka serta dibutakan pengelihatan mereka. Maka, apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?’ (QS. Muhammad 22-24).” (HR. Muslim no. 2554)

Allah Ta’ala memberikan agunan bagi siapa saja nan menjaga hubungan silaturahmi dengan kerabat dekatnya, menjamin rezeki mereka dan keberkahan hidup mereka. Allah Ta’ala juga menakut-nakuti siapa pun nan memutus hubungan silaturahmi dengan kerabat dan kerabatnya, bahwa Allah juga bakal memutus hubungannya dengan orang tersebut.

Sungguh, sabda dan ayat tersebut menjelaskan kepada kita sungguh besarnya perhatian Allah dan Nabi-Nya terhadap perkara menyambung silaturahmi ini, baik itu dengan saling berkunjung, memberikan hadiah, ataupun memenuhi kebutuhan kerabat dan kerabat kita nan membutuhkan.

Lebaran, momentum terbaik untuk bersilaturahmi

Tidak dapat dipungkiri bahwa kebiasaan dan budaya lebaran di negeri kita merupakan salah satu kesempatan besar untuk menyambung silaturahmi dengan family kita, orang tua kita, dan sanak family kita. Adanya kesempatan liburan secara serempak serta kebiasaan untuk mudik ke kampung halaman, semuanya itu memudahkan kita untuk bisa menyambung silaturahmi.

Marilah kita manfaatkan momentum lebaran dan bulan Syawal ini untuk meraih keistimewaan nan besar dari menyambung silaturahmi. Sebagaimana disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِي الْأَهْلِ مَثْرَاةٌ فِي الْمَالِ مَنْسَأَةٌ فِي الْأَثَرِ

“Belajarlah tentang nasab kalian nan dapat membantu untuk silaturahmi lantaran silaturahmi itu dapat membawa kecintaan dalam keluarga, memperbanyak harta, serta dapat memperpanjang umur.” (HR. Ahmad no. 8855 dan Tirmidzi no. 1979)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa nan mau dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya dia menyambung silaturahminya (dengan kerabat).” (HR. Bukhari no. 5985 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 7571)

Belum lagi, menyambung silaturahmi adalah salah satu karena masuknya seseorang ke dalam surga. Sahabat Abu Ayub Al-Ansari radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

“Seorang laki-laki berkata, ‘Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu ibadah nan dapat memasukkanku ke surga.’ Orang-orang pun berkata, ‘Ada apa dengan orang ini? Ada apa dengan orang ini?’ Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أرَبٌ ما له، تَعْبُدُ اللَّهَ ولَا تُشْرِكُ به شيئًا، وتُقِيمُ الصَّلَاةَ، وتُؤْتي الزَّكَاةَ، وتَصِلُ الرَّحِمَ.

‘Biarkanlah urusan orang ini.’ (Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan sabdanya,) ‘Kamu beragama kepada Allah dan tidak menyekutukannya, menegakkan salat, dan bayar zakat, serta menjalin tali silaturahmi.’” (HR. Bukhari no. 1396)

Wallahu A’lam bisshawab.

Baca juga: Salah Kaprah Memaknai Silaturahim

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah