Kincai Media , JAKARTA -- Inilah kisah tentang Al-Qamah. Dia sesungguhnya termasuk seorang sahabat Rasulullah SAW. Sejak masa muda, dia dikenal saleh. Patuh, setia, dan alim beragama.
Al-Qamah selalu ada di shaf depan di antara para sahabat lainnya setiap shalat berjamaah. Ia juga dikenal sangat santun terhadap ibunya.
Ayahnya sudah meninggal, segala kepentingan ibunya tidak dia abaikan. Tak sampai hati dia membiarkan ibunya mengambil air.
Keadaan mulai berubah sejak dia berumah tangga. Sesudah Al-Qamah beristri dan tinggal di rumah sendiri--disengaja alias tidak--ia kurang melayani ibunya.
Namun, sang ibu tidak melapor. Hanya tak bersuara saja. Orang sekitar pun tak tahu bahwa ibu Al-Qamah sebenarnya sakit hati.
Tahun demi tahun berlalu. Terbetik berita bahwa Al-Qamah sakit. Sakitnya pun kian hari kian bertambah berat.
Para sahabat yang berhati-hati bersedih. Sebab, Al-Qamah tampak seperti mau meninggal. Mereka silih berganti untuk membacakan talqin.
"Laa ilaaha illallaah ..."
Namun, apa yang terjadi? Beberapa kali mereka coba mengulang, lidah tampak Al-Qamah kelu, tidak bergetar, tidak dapat mengikuti.
Salah seorang sahabat melaporkan kejadian ini kepada Rasulullah SAW. Segera, Nabi SAW datang.
Rasulullah SAW menyuruh seorang sahabat untuk menjemput ibu Al-Qamah.
Sesudah itu, kepada sang ibu, Rasul bertanya, "Apa tingkah Al-Qamah yang memberatkan dirinya ini?"
Ibunya Al-Qamah menyebut bahwa anaknya itu orang baik dan alim kepada Allah. Hanya saja, pada akhirnya wanita ini mencurahkan isi hatinya.
"Saya ini sedih, ya Rasul, sesudah dia berumah tangga, sangat kurang perhatiannya kepada saya. Sebab itu, saya tidak memaafkannya," katanya.
"Kalau begitu," ujar Rasulullah, "Ayo para sahabat kumpulkan kayu bakar, agar Al-Qamah ini dibakar saja."
sumber : Hikmah Republika oleh Usman Al Hudawy
English (US) ·
Indonesian (ID) ·