Biografi Abu Amr Bin Al-‘ala’, Imam Qiraah Di Bashrah

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Sesungguhnya orang mukmin nan tulus sangat antusias dalam memanfaatkan musim-musim ketaatan dengan ibadah ibadah dan ketaatan nan sepantasnya. Dan berupaya jangan sampai baginya seperti waktu-waktu dan masa-masa lain. Telah disebutkan dalam riwayat hidup Abu Amr bin Al-‘Ala’ bahwa dia mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari. [1]

Inilah riwayat hidup singkat beliau. Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat nan luas.

Nama lengkap

Nama komplit beliau adalah:

زَيَّانُ بْنُ العلاء بن عَمَّار بن العريان التميمي المازني البصري

Zayyan bin Al-‘Ala’ bin ‘Ammar bin Al-‘Ariyan At-Tamimi Al-Mazini Al-Bashri.

Kunyahnya: ( أبو عمرو ) Abu ‘Amru.

Dia dilahirkan pada tahun 70 Hijriah di Makkah, namun dibesarkan di Bashrah. [2]

Sifat-sifat secara umum

Abu Amr bin Al-‘Ala’ adalah seorang tabiin dan salah satu dari tujuh pemimpin qiraah.

Dia termasyhur dengan kepandaian berbahasanya, kejujuran, kepercayaan, luasnya ilmu, kezuhudan, dan ibadahnya. Dia termasuk orang-orang Arab terhormat. Dia dipuji oleh Al-Farazdaq rahimahullah dan lainnya.

Dia adalah pembimbing qiraah dan bahasa Arab, satu-satunya di zamannya, mahir dalam pengetahuan huruf (qiraah), nahwu, dan mengajar dalam waktu lama. Dia termasuk orang nan paling berilmu tentang qiraah, bahasa Arab, syair, dan sejarah Arab.

Ibrahim Al-Harbi rahimahullah dan lainnya berkata,

كان أبو عمرو من أهل السنة

“Abu Amr termasuk ahlusunah.”

Al-Asma’i rahimahullah berkata,

سمعت أبا عمرو يقول : ما رأيت أحدا قبلي أعلم مني، وقال الأصمعي : أنا لم أر بعد أبي عمرو أعلم منه.

“Saya mendengar Abu Amr berkata, ‘Saya tidak memandang seorang pun sebelumku nan lebih berilmu dariku.'” Aku (Al-Asma’i) berkata, “Saya tidak memandang setelah Abu Amr orang nan lebih berilmu darinya.” [3]

Pada hari wafatnya, orang-orang datang menghibur anak-anaknya. Yunus bin Habib rahimahullah berkata,

تعزيكم وأنفسنا بمن لا نرى شبها له آخر الزمان، والله لو قسم علم أبي عمرو وزهده على مائة إنسان لكانوا كلهم علماء زهادًا، والله لو رآه رسول الله ﷺ لسره ما هو عليه

“Saya turut menghibur kalian dan diri kami dengan kepergian orang nan tidak ada bandingannya sampai akhir zaman. Demi Allah, seandainya pengetahuan Abu Amr dan kezuhudan dibagi kepada seratus orang, niscaya mereka semua bakal menjadi orang-orang berilmu dan zuhud. Demi Allah, seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, beliau pasti bakal ceria dengan keadaannya.” [4]

Keadaannya berbareng Al-Qur’an

Abu Amr bin Al-‘Ala’ rahimahullah sangat perhatian dalam mempelajari Al-Qur’an dan mengambilnya dari para syekh dan pemimpin di masanya. Dia membaca (belajar) di Makkah, Madinah, Kufah, dan Bashrah. Tidak ada seorang pun dari tujuh pemimpin qiraah nan mempunyai lebih banyak pembimbing darinya. Di antara guru-gurunya adalah Hasan Al-Bashri, Sa’id bin Jubair, ‘Ashim bin Abi An-Najud, Abdullah bin Katsir Al-Makki, ‘Atha’ bin Abi Rabah, Mujahid bin Jabr, Ikrimah jejak budak Ibnu Abbas, dan lainnya rahimahumullah.

Setelah itu, dia memimpin dalam mengajarkan Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada manusia, hingga dia mempunyai halaqah (majelis) nan terkenal nan dihadiri oleh siapa saja nan mau belajar qiraahnya.

Waki’ rahimahullah berkata,

قدم أبو عمرو بن العلاء الكوفة فاجتمعوا إليه كما اجتمعوا على هشام بن عروة، أحد حفاظ الحديث

“Abu Amr bin Al-‘Ala’ datang ke Kufah, lampau mereka bergerombol kepadanya sebagaimana mereka bergerombol kepada Hisyam bin ‘Urwah, salah seorang hafizh hadis.”

Sesungguhnya orang mukmin nan tulus itu sangat antusias dalam memanfaatkan musim-musim ketaatan dengan ibadah ibadah dan ketaatan nan sepantasnya, dan jangan sampai baginya seperti waktu-waktu dan masa-masa lain. Telah disebutkan dalam riwayat hidup Abu Amr bin Al-‘Ala’ rahimahullah bahwa dia mengkhatamkan (menyelesaikan) Al-Qur’an setiap tiga hari dan mengevaluasi dirinya atas itu. Barangsiapa nan tidak mempunyai wirid (bacaan) harian dari Al-Qur’an nan dia khatamkan, maka dia menjadi orang nan menyia-nyiakan waktunya dan melampaui pemisah dalam waktu-waktu kehidupannya, kemudian menyesal ketika penyesalan tidak berfaedah lagi.

Dia (Abu Amr) andaikan memasuki bulan Ramadan, bulan Al-Qur’an, tidak sibuk dengan selain Al-Qur’an. Dia terus seperti itu hingga wafat. [5]

Nashr bin Ali Al-Jahdhami rahimahullah berkata, “Ayahku berbicara kepadaku, ‘Syu’bah berbicara kepadaku,

انظر ما يقرأ أبو عمرو وما يختار لنفسه فاكتبه، فإنه سيصير للناس أستاذا.

‘Lihatlah apa nan dibaca Abu Amr dan apa nan dia pilih untuk dirinya, lampau tuliskanlah, lantaran dia bakal menjadi pembimbing bagi manusia.’”

Yahya Al-Yazidi rahimahullah berkata,

كان أبو عمرو قد عرف القراءات، فقرأ من كل قراءة بأحسنها، وبما يختار العرب، وبما بلغه من لغة النبي وجاء تصديقه في كتاب الله عز وجل

“Abu Amr telah mengetahui qiraah-qiraah, lampau dia membaca setiap qiraah dengan nan terbaiknya, sesuai pilihan orang Arab, dan sesuai apa nan sampai kepadanya dari bahasa Nabi, nan mendapatkan pembenaran dalam Kitab Allah Azza Wajalla.”

Dalam qiraahnya, dia memilih untuk meringankan dan mempermudah selama dia menemukan jalannya. Semua orang sepakat dengan qiraahnya, dan mereka menyerupakannya dengan qiraah Ibnu Mas’ud. Sebagian mereka mewasiati sebagian lainnya dengan qiraahnya. [6]

Baca juga: Biografi Abdullah bin Katsir

Gurunya dalam qiraah

Abu Amr bin Al-‘Ala’ mempelajari qiraah dari masyarakat Hijaz, Bashrah, dan Kufah. Tidak ada seorang pun dari tujuh pemimpin qiraah nan mempunyai lebih banyak pembimbing darinya.

Dia membaca Al-Qur’an di Makkah kepada Sa’id bin Jubair, Mujahid bin Jabr, Ikrimah bin Khalid jejak budak Ibnu Abbas, Atha’ bin Abi Rabah, Abdullah bin Katsir, dan diriwayatkan bahwa dia membacanya kepada Abu Al-‘Aliyah Al-Hasan bin Mihran Ar-Riyahi. Dia membaca di Madinah kepada Abu Ja’far Yazid bin Al-Qa’qa’, Yazid bin Ruman, dan Syaibah bin Nashshah. Dia membaca di Bashrah kepada Yahya bin Ya’mur, Nashr bin ‘Ashim, Hasan Al-Bashri, dan lainnya. Dia membaca di Kufah kepada ‘Ashim bin Abi An-Najud. rahimahumullah [7]

Muridnya dalam qiraah

Banyak orang telah belajar kepada beliau, di antaranya adalah Abdullah bin Al-Mubarak, Abdul Malik bin Quraib Al-Asma’i, Yahya bin Al-Mubarak Al-Yazidi, Al-Abbas bin Al-Fadl, Abdul Warith bin Said Al-Tanuri, Shuja’ Al-Balkhi, Husain Al-Ja’fi, Mu’adh bin Mu’adh, Yunus bin Habib Al-Nahwi, Sahl bin Yusuf, dan Abu Zaid Al-Ansari Sa’id bin Aus, Salam Al-Tawil, Sibawaih, dan lainnya rahimahumullah. [8]

Kedudukannya dalam pengetahuan hadis

Abu Amr bin Al-‘Ala’ rahimahullah termasuk imam-imam ahlusunah dan para perawi hadis. [9]

Abu Amr meriwayatkan sedikit sabda dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Iyas bin Ja’far Al-Bashri, Yahya bin Ya’mur, Budail bin Maisarah Al-‘Aqili, Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq, Mujahid bin Jabr, Abu Shalih As-Samman, Abu Raja’ Al-‘Utharidi, Nafi’ Al-‘Umari, ‘Atha’ bin Abi Rabah, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Hasan Al-Bashri, dan lainnya rahimuhumullah.

Yahya bin Ma’in rahimahullah berbicara tentangnya, ” ( ثقة ) terpercaya.” [10]

Wafat

Abu Amr meninggal pada tahun 154 H.

Al-Asma’i rahimahullah berkata, “Abu Amr hidup selama delapan puluh enam tahun. Pada hari kematiannya, orang-orang datang untuk memberikan belasungkawa kepada anak-anaknya. Yunus bin Habib rahimahullah berkata,

تعزيكم وأنفسنا بمن لا نرى شبها له آخر الزمان، والله لو قسم علم أبي عمرو وزهده على مائة إنسان لكانوا كلهم علماء زهادًا، والله لو رآه رسول الله ﷺ لسره ما هو عليه

‘Kami dan kalian sama-sama bersungkawa atas kehilangan seseorang nan kita tidak memandang tandingannya di akhir era ini. Demi Allah, jika pengetahuan dan zuhud (ketakwaan) Abu Amr dibagi kepada seratus orang, maka mereka semua bakal menjadi ustadz nan zuhud. Demi Allah, jika Rasulullah ﷺ melihatnya, pasti beliau bakal merasa senang dengan apa nan ada padanya.’” [11]

Demikian, semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat nan luas. Selawat dan salam atas Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau.

Baca juga: Biografi Nafi’ bin Abi Nu’aim

***

18 Ramadan 1445, Rumdin Ponpes Ibnu Abbas Assalafy Sragen

Penulis: Prasetyo, S.Kom.

Artikel: Muslim.or.id

Referensi:

Ma’rifatul Qurra’ Al-Kibar ‘ala Ath-Thabaqat wal A’shar, Imam Dzahabi, Muassasah Ar-Risalah, cet. ke-2, 1988 M.

Taarikhul Qurra’ Al-’Asyarah, Abdul Fattah Al-Qadhiy, Darul Ghautsaniy, cet. ke-2, 2022 M.

Tarajimul Qurra’ ‘Asyr wa Ruwatihim Al-Masyhurin, Dr. Thaha Faris, Muassasah Ar-Rayyan, cet. ke-1, 2014 M.

Haalus Salaf ma’al Qur’an, Prof. Dr. Badr bin Nashir Al-Badr, Darul Hadharah, cet. ke-2, 2018 M.

Catatan kaki:

[1] Halus Salaf ma’al Qur’an, hal. 479.

[2] Ma’rifatul Qurra’ Al-Kibar, hal. 100-101 dan Tarikhul Qurra’ Al-’Asyarah, hal. 42.

[3] Tarajimul Qurra’ ‘Asyr, hal. 46 – 47.

[4] Tarajimul Qurra’ ‘Asyr, hal. 54.

[5] Halus Salaf ma’al Qur’an, hal. 479 – 481.

[6] Tarajimul Qurra’ ‘Asyr, hal. 47 – 49.

[7] Tarajimul Qurra’ ‘Asyr, hal. 50.

[8] Tarajimul Qurra’ ‘Asyr, hal. 51.

[9] Halus Salaf ma’al Qur’an, hal. 451.

[10] Tarajimul Qurra’ ‘Asyr, hal. 51.

[11] Tarikhul Qurra’ Al-’Asyarah,  hal. 46 dan Tarajimul Qurra’ ‘Asyr, hal. 54.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah