Birrul Walidain Dari Jarak Jauh

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Tulisan ini teruntuk bagi orang-orang nan sekarang berada jauh dari kedua orang tua nan tetap hidup. Entah itu lantaran merantau untuk studi, bekerja, alias argumen lain nan menyebabkan dia jauh secara bentuk dari kedua orang tuanya. Ingin sekali rasanya berada dekat dengan mereka apalagi pada usia-usia senja, menyuapkan makanan langsung ke mulut mereka, membawa mereka berobat saat sakit, dan selalu ada kapan pun mereka inginkan.

Namun, kadangkala, kondisi nan ada tidak selalu seperti nan diinginkan. Karena keadaan tertentu, kita terpaksa kudu jauh secara bentuk dari orang tua. Sehingga perlu pula bagi kita untuk mengetahui gimana semestinya kita tetap berkhidmat kepada mereka, meskipun dari jarak jauh. Karena sejatinya berkhidmat kepada orang tua adalah perintah utama atas setiap muslim. Saking prioritasnya, dalam banyak dalil, Allah Ta’ala meletakkan perintah melakukan baik kepada kedua orang tua setelah perintah untuk menyembah hanya kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar Anda jangan menyembah selain Dia dan hendaklah Anda melakukan baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra’: 23)

Alasan kenapa begitu pentingnya berkhidmat kepada orang tua sangat jelas. Telah banyak pengorbanan, kasih sayang, dan cinta nan diberikan sejak dalam kandungan, apalagi hingga dewasa seperti saat ini.

Allah Ta’ala berfirman.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia agar melakukan baik kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. Sehingga andaikan dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun dia berdoa, ‘Ya Rabbku, tunjukilah saya untuk mensyukuri nikmat-Mu nan telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan agar saya dapat melakukan kebaikan nan saleh nan Engkau ridai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya saya bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya saya termasuk orang-orang nan bertawakal diri.’” (QS. Al-Ahqaf: 15) 

Meskipun jauh

Hal krusial nan perlu kita pahami bahwa sebaik-baik hormat kepada orang tua adalah melakukan baik kepada mereka dan selalu ada untuk memenuhi kebutuhan mereka. Meskipun semua kebutuhan orang tua bisa kita penuhi dengan materi, tetap saja fitrahnya para orang tua mau selalu dekat secara bentuk dengan anak-anaknya.

Tidak hanya itu, memberikan perhatian dan kasih sayang kepada orang tua secara langsung juga mempunyai akibat positif bagi kesehatan mental dan emosional mereka. Menunjukkan rasa cinta dan perhatian kepada orang tua dapat meningkatkan emosi senang dan kepuasan hidup mereka, sehingga meningkatkan kualitas hidup mereka di masa tua.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

المسلمُ أخو المسلمِ ، لا يَظْلِمُه ولا يُسْلِمُه ، ومَن كان في حاجةِ أخيه كان اللهُ في حاجتِه ، ومَن فرَّجَ عن مسلمٍ كربةً فرَّجَ اللهُ عنه كربةً مِن كُرُبَاتِ يومِ القيامةِ ، ومَن ستَرَ مسلمًا ستَرَه اللهُ يومَ القيامةِ

“Seorang muslim adalah kerabat bagi muslim nan lain, tidak boleh menzaliminya, tidak boleh membiarkannya dalam bahaya. Barangsiapa nan memenuhi kebutuhan saudaranya sesama muslim, maka Allah bakal penuhi kebutuhannya. Barangsiapa nan melepaskan satu kesulitan saudaranya sesama muslim, maka Allah bakal melepaskan dia dari satu kesulitan di hari kiamat. Barangsiapa nan menutup kejelekan seorang muslim, Allah bakal menutup aibnya di hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari no. 2442)

Hadis di atas adalah umum diperuntukkan bagi kerabat sesama muslim. Konon lagi, jika dilakukan kepada orang tua kita? Mereka adalah nan paling berkuasa untuk dijaga dari segala mara bahaya, dipenuhi kebutuhannya, dipermudah urusannya, dan ditutupi aib-aibnya. Tentunya, bakal lebih mudah melakukan segala kebaikan tersebut kepada mereka tatkala kita hidup dan tinggal berdekatan secara bentuk dengan mereka.

Bayangkan saja, bagi nan saat ini dikaruniai anak, gimana jika suatu saat kelak anak-anak nan sangat Anda cintai itu berada jauh darimu. Mereka mempunyai kehidupan sendiri dan jarang berjumpa secara bentuk denganmu. Tidakkah berat terasa di hatimu? Demikian pula nan dirasakan oleh orang tuamu saat ini.

Namun demikian, meski keistimewaan berada dekat secara bentuk dengan orang tua itu sangat besar, kita pun tidak dapat mengelak ketika keadaan-keadaan tertentu memaksa kita untuk merantau berada jauh dari kedua orang tua. Seperti lantaran kebutuhan studi di luar kota ataupun di luar negeri, tugas dinas, ataupun lantaran argumen lainnya.

Oleh karenanya, meskipun berada jauh secara bentuk dari orang tua, tanggungjawab kita untuk melakukan baik dan berkhidmat semaksimal mungkin kepada mereka tetaplah menjadi kewajiban. Jangan mau kalah dengan orang-orang nan diberikan kesempatan oleh Allah untuk berkhidmat langsung kepada orang tuanya. Jarak bukan berfaedah penghalang. Banyak perihal nan bisa kita lakukan sebagai corak hormat kepada kedua orang tua.

Baca juga: Potret Salaf Dalam Birrul Walidain

Bentuk hormat dari jarak jauh

Mendoakan kebaikan untuk kedua orang tua

Pada waktu-waktu mustajabnya doa, mohonlah pembebasan untuk kedua orang tua kita. Sebagaimana angan nan telah diajarkan dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Ya Rabb kami, berilah pembebasan kepadaku dan kedua ibu bapakku, dan orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari Kiamat).” (QS. Ibrahim: 41)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Ya Rabb kami, berilah pembebasan kepada kami dan saudara-saudara kami nan telah beragama lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang nan beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Mendakwahkan sunnah kepada orang tua

Siapa nan tidak menginginkan orang tuanya memegang teguh manhaj salaf dalam beragama? Karenanya, dakwahkanlah dengan lembut kepercayaan nan mulia ini kepada orang tua. Merekalah orang nan paling berkuasa atas kita untuk mendapatkan kemuliaan dakwah sunnah. Sampaikan kepada mereka tentang manhaj salaf saleh dalam memahami kepercayaan mulia ini. Allah Ta’ala berfirman,

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran nan baik dan bantahlah mereka dengan langkah nan lebih baik.” (QS: An-Nahl: 125)

Sikap lemah lembut sangat dianjurkan dalam berceramah terlebih kepada orang tua. Karenanya Allah Ta’ala berfiman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka, disebabkan rahmat dari Allahlah Anda bertindak lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya Anda bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)

Intens melakukan komunikasi dengan orang tua

Luangkanlah waktu untuk berkomunikasi dengan orang tua sesering mungkin. Alhamdulillah, kita hidup di era modern dengan kecanggihan teknologi nan memudahkan banyak urusan kita terlebih komunikasi. Melalui telepon seluler, meski belum sempat menelpon langsung, kita bisa mengirimkan pesan singkat walaupun hanya bertanya berita mereka.

Hal itu mungkin terlihat sederhana, tetapi insyaAllah menjadi sangat berfaedah bagi orang tua. Jarak nan jauh dari mereka menjadikan kepedulian kita menanyakan keadaan mereka sebagai momen nan sangat dinanti-nantikan.

Ingat pula, dalam berkomunikasi dengan orang tua jangan pernah membentak, memarahi, dan menyakiti hati mereka. Allah Ta’ala sangat tegas melarang perihal ini.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar Anda jangan menyembah selain Dia dan hendaklah Anda melakukan baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya alias kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah Anda mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, janganlah Anda membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan nan mulia.” (QS. Al-Isra: 23)

Memberikan nafkah kepada orang tua

Orang tua kita, merekalah, nan membesarkan dan menghidupi kita, apalagi hingga beranjak dewasa di mana semestinya unik untuk seorang laki-laki, tanggungjawab orang tua untuk menafkahi hanyalah sampai usia balig. Namun, tidak sedikit pula anak-anak muda nan tetap berjuntai pada orang tua dari sisi nafkah, padahal usia mereka sudah dewasa.

Karenanya, muslim sejati adalah nan menyadari prinsip diri. Tumbuh dengan usia produktif di tengah-tengah pesatnya teknologi di era ini semestinya memacu semangat kita untuk meraih kesuksesan dalam bagian ekonomi dengan langkah nan syar’i agar menjadi hamba Allah Ta’ala nan dapat memberikan banyak faedah kepada sesama khususnya kepada orang tua.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا ، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ

“Mulailah dari dirimu sendiri, engkau beri nafkah dirimu sendiri. Jika ada lebih, maka untuk keluargamu. Jika ada lebih, maka untuk kerabatmu.” (HR. Muslim no.997)

Saudaraku, sabda di atas jelas menggambarkan kepada siapa semestinya kita memberi nafkah. Maka, pemahamannya adalah bahwa untuk diri kita sendiri saja menjadi prioritas. Apalagi untuk kedua orang tua. Karenanya, utamakanlah kedua orang tua dalam memberi nafkah.

Menjadwalkan berjamu kepada orang tua

Aturlah waktu unik untuk mengunjungi orang tua. Sejauh apa pun jarak kita saat ini dengan mereka, tidak ada argumen rasanya jika kita tidak sempat untuk mengunjungi mereka. Bahkan, hitungan satu kali dalam satu tahun pun terasa tetap kurang, sebagai bentuk hormat kita kepada mereka. Namun, dengan beragam keterbatasan nan ada, meski satu kali setahun, pulanglah.

Waktu Lebaran biasanya menjadi momen mudik pulang kampung untuk mengunjungi orang tua. Sekali lagi, manfaatkanlah waktu tersebut dengan sebaik-baiknya. Maksimalkan waktu nan berbobot untuk bercengkrama dengan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan sungguh keistimewaan mengunjungi kerabat itu sangatlah besar. Apalagi mengunjungi orang tua, nan merupakan kerabat paling dekat dari kita.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

أنَّ رجلًا زارَ أخًا لَهُ في قريةٍ أخرى ، فأرصدَ اللَّهُ لَهُ على مَدرجَتِهِ ملَكًا فلمَّا أتى عليهِ ، قالَ : أينَ تريدُ ؟ قالَ : أريدُ أخًا لي في هذِهِ القريةِ ، قالَ : هل لَكَ عليهِ من نعمةٍ تربُّها ؟ قالَ : لا ، غيرَ أنِّي أحببتُهُ في اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، قالَ : فإنِّي رسولُ اللَّهِ إليكَ ، بأنَّ اللَّهَ قد أحبَّكَ كما أحببتَهُ فيهِ

“Pernah ada seseorang pergi mengunjungi saudaranya di wilayah nan lain. Lalu, Allah pun mengutus malaikat kepadanya di tengah perjalanannya. Ketika mendatanginya, malaikat tersebut bertanya, ‘Engkau mau kemana?’ Ia menjawab, ‘Aku mau mengunjungi saudaraku di wilayah ini.’ Malaikat bertanya, ‘Apakah ada suatu untung nan mau engkau dapatkan darinya?’ Orang tadi mengatakan, ‘Tidak ada, selain lantaran saya mencintainya lantaran Allah ‘Azza Wajalla.’ Maka, malaikat mengatakan, ‘Sesungguhnya saya diutus oleh Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya.’“ (HR. Muslim no. 2567)

Mendekatkan istri dan anak kepada orang tua

Jarak nan jauh bisa jadi penyebab jauh pula kedekatan emosional terlebih bagi orang-orang terdekat kita, seperti istri dan anak-anak. Kitalah nan menjadi penentu hubungan baik antara family mini kita dengan kedua orang tua. Harmonisnya hubungan antar mereka merupakan kebahagiaan nan tak ternilai. Sebaliknya, pertikaian nan mungkin terjadi antara mereka adalah perkara nan sangat tidak kita inginkan.

Karenanya, jadilah penengah nan adil, penyambung hubungan emosional nan selaras bagi mereka. Dalam perihal terjadi sesuatu perihal nan qadarullah menjadi pemicu persoalan, jadilah bijak dan bertindak adillah.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“Hai orang-orang nan beriman, hendaklah Anda jadi orang-orang nan selalu menegakkan (kebenaran) lantaran Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong Anda untuk bertindak tidak adil. Berlaku adillah, lantaran setara itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa nan Anda kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 8)

Baca juga: Ancaman Bagi nan Lalai Dari Birrul Walidain

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah