Bolehkah Anak Dijanjikan Hadiah Saat Berhasil Puasa Penuh?

Mar 10, 2026 07:50 AM - 1 bulan yang lalu 20853

Jakarta -

Bulan Ramadhan menjadi momen bagi anak untuk mulai belajar berpuasa. Namun dalam prosesnya, tidak jarang mereka merasa kesulitan menahan lapar dan haus hingga waktu berbuka tiba.

Di tengah perjalanan puasa, anak biasanya mulai mengeluh lapar alias mau berbuka lebih awal. Dalam situasi seperti ini, sebagian orang tua mencoba menyemangati anak dengan beragam cara.

Salah satu langkah yang cukup sering dilakukan adalah memberikan motivasi berupa hadiah. Cara ini biasanya dipakai agar anak lebih antusias menjalani puasa sampai Maghrib.

Namun, langkah ini membikin banyak orang tua mau tahu, apakah menjanjikan bingkisan pada anak yang sukses puasa penuh merupakan langkah yang tepat?

Nah, Bunda mungkin juga pernah memikirkan perihal yang sama ketika mendampingi anak belajar puasa. Lalu gimana pandangan dari sisi ilmu jiwa dan Islam tentang perihal ini?

Bolehkah anak dijanjikan bingkisan saat sukses puasa penuh?

Ustazah sekaligus Psikolog Klinis, Ustazah Tika Faiza, M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa langkah ini sebenarnya boleh saja dicoba. Namun, orang tua juga perlu memahami bahwa ada beberapa perihal yang perlu diperhatikan.

"Kalau dalam perihal ini misalkan biar puasa penuh tujuan gimana reward alias bingkisan itu diberikan ya, biar anak sesuai dengan targetnya. Apakah ini boleh? Secara umum, jika mau dicoba boleh-boleh aja," kata Faiza saat diwawancarai oleh HaiBunda, beberapa waktu lalu.

Meski begitu, Bunda tetap perlu memahami bahwa pemberian bingkisan juga bisa menimbulkan akibat tertentu pada perkembangan anak.

"Tapi orang tua perlu menyadari potensi negatif dari pemberian hadiah. Apa itu munculnya motivasi yang sifatnya ekstrinsik," ujarnya.

Jika anak terlalu sering diberikan hadiah, mereka bisa terbiasa melakukan sesuatu lantaran ada imbalan. Hal ini dikhawatirkan membikin mereka kurang mempunyai inisiatif dari dalam dirinya sendiri.

"Kalau anak dibesarkan dengan selalu diberikan hadiah, termasuk saat puasa, anak bakal terbiasa membangun motivasinya dari luar. Jadi jika enggak ada motivasi dari luar, semacam hadiah, disemangati orang lain, dia enggak punya nih inisiatif untuk bergerak sendiri," tuturnya.

Maka itu, Bunda dan Ayah tetap perlu bijak saat memberikan bingkisan pada anak. Hadiah boleh saja diberikan, tetapi tetap perlu disertai pemahaman agar anak belajar membangun motivasi dari dalam dirinya.

"Ini yang namanya potensi negatif dari pemberian reward yang kurang bijak. Tapi, jika mau dicoba boleh, yang krusial orang tua itu tetap memitigasi akibat negatif seperti ini," ungkapnya.

Tips memberikan bingkisan pada anak agar tetap bijak

Pada kesempatan yang sama, Ustazah Faiza juga menjelaskan beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk meminimalkan akibat negatif dari pemberian bingkisan pada anak. Berikut beberapa langkah yang bisa Bunda lakukan:

1. Tetapkan batas saat memberikan hadiah

Salah satu tips yang bisa dilakukan adalah memberikan batas yang jelas. Menurut Ustazah Faiza, orang tua bisa menjelaskan pada anak bahwa bingkisan tidak diberikan terus-menerus.

"Hal pertama yang bisa dilakukan Bunda dan Ayah adalah dengan memberikan batasan. Misalnya, dengan mengatakan bahwa bingkisan ini hanya diberikan satu kali lantaran bingkisan yang lebih besar nantinya bakal diberikan oleh Allah SWT," ujarnya.

Bunda juga bisa menjelaskan bahwa bingkisan kali ini diberikan lantaran anak tetap dalam tahap belajar. Seiring bertambahnya usia, anak diharapkan bisa berpuasa tanpa kudu selalu dijanjikan hadiah.

"Misalnya, 'Kali ini aja ya nak, Bunda sama Ayah memberikan hadiahnya, lantaran ini kan tetap latihan nih, usianya juga tetap kecil, besok kita latihan puasa tanpa diberi bingkisan pun, tetap bisa puasa,'" katanya.

Selain itu, Bunda dan Ayah juga perlu mengingatkan anak bahwa puasa bukan tentang mendapatkan hadiah. Mereka perlu memahami bahwa ibadah dilakukan lantaran kecintaan kita kepada Allah.

"Kenapa begitu? Karena puasa itu bukan tentang bingkisan dari Bunda dan Ayah. Tapi, puasa itu tentang gimana kita mencintai Allah, gimana kita dapat bingkisan yang lebih besar dari Allah," tutur Ustazah Faiza.

"Karena Allah suka sama anak yang mempunyai kebiasaan baik, termasuk berpuasa. Hal ini agar anak-anak kemudian tidak berpikir bahwa orang tua adalah sumber kesenangan mereka dalam beribadah," sambungnya.

2. Kenalkan anak tentang kehidupan setelah dunia

Selain memberi batas pada hadiah, orang tua juga bisa mulai mengenalkan nilai-nilai tentang kehidupan setelah dunia. Penjelasan ini bisa mulai disampaikan saat anak sudah cukup paham, misalnya ketika mereka duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

"Misalnya mulai usia SD, kita kenalkan tentang kehidupan setelah dunia, seperti tentang akhirat. Kita kenalkan orang yang puasa di alambaka kelak seperti apa keadaannya, sehingga anak ini bisa menahan sesuatu yang kemudian sifatnya hadiah-hadiah yang diberikan oleh 'supporting system' yang ada di dunianya," kata Ustazah Faiza.

Lewat langkah ini, anak perlahan mulai mengerti bahwa ada jawaban yang jauh lebih besar dari Allah atas setiap ibadah dan kebaikan yang mereka lakukan, Bunda.

"Maka, perihal itu bakal membikin wawasan anak terbuka dan membikin mereka bisa untuk menahan kesenangannya untuk sementara waktu. Bahkan, anak juga bisa menahan diri untuk tidak mengharapkan motivasi ekstrinsik dari orang lain," pungkasnya.

Itulah penjelasan tentang bolehkah anak dijanjikan bingkisan saat sukses puasa penuh.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis! 

(ndf/fir)

Selengkapnya