Bolehkah Membaca Hizib Untuk Balas Dendam Karena Putus Cinta?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia– Putus cinta merupakan pengalaman nan pahit dan meninggalkan luka mendalam. Rasa sakit hati, kecewa, dan kemarahan sering kali muncul. Apalagi jika putus cinta terjadi karena salah satu pasangan berkhianat dan tak bersuara diam selingkuh dibelakang. Pasti dalam akal Anda terbesit sebuah pertanyaan: bolehkah membaca hizib untu rasa dendam ini dibalaskan?

Di satu sisi, kepercayaan Islam mengajarkan untuk mengampuni dan mengikhlaskan. Kebencian dan dendam hanya bakal membawa akibat negatif bagi hati dan jiwa. Di sisi lain, rasa sakit hati nan teramat dalam mendorong seseorang untuk mencari solusi, termasuk dengan langkah spiritual seperti membaca hizib. Lantas bolehkah membaca hizib untuk membalas dendam akibat putus cinta?

Hizib dalam Islam sejatinya merupakan sebuah corak angan kepada Allah Swt. Berdoa agar mendapat keberuntungan alias terhindar dari mara bahaya. Berdoa merupakan salah satu titah Allah Swt, perihal ini sebagaimana telah Allah ditegaskan dalam Al-Qur’an surah Ghafir ayat 60 berikut;

وَقَالَ رَبُّكُمُ ‌ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Artinya, “Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepadaku, niscaya bakal saya perkenankan bagimu (apa nan Anda harapkan). Sesungguhnya, orang-orang nan menyombongkan diri tidak mau beragama kepadaku, bakal masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan buruk dina’.”

Perihal membaca hizib untuk balas dendam kepada orang nan telah berkhianat alias melakukan kejam kepada kita, seperti membaca Hizbul Bahr dan Hizib An Nashr karya Abu Al Hasan As Syadzili, Hizbu Az Zajr milik Attijani, Hizib As Sakran oleh Ali Bin Abi Bakr Assegaf, Hizbu An Nashr kepunyaan Abdullah Bin Alawi Al Haddad, dan seterusnya.

Terkait persoalan membaca hizib untuk membalas dendam, menurut Syaikh Abu Abdillah Musthafa Bin Al ‘Adwi dalam kitabnya Silsilah At Tafsir juz 75 laman 12 menyatakan condong memperbolehkan, bakal tetapi sebaiknya dihindari perbuatan tersebut.
Penjelasan lengkapnya sebagai berikut:

ومن أهل العلم من يقول: إن الحال بحسبه، فإن كان الشخص يؤذيك أذىً مستمراً بما لا تطيقه ولا تتحمله فجائز لك أن تدعو الله تعالى عليه، أو إذا كان يفسد وكان شره مستطيراً في الأرض فجائز لك أن تدعو عليه، واستدل بدعاء نوح عليه السلام، ودعاء موسى عليه السلام على فرعون

Artinya, “Di antara sebagian ustadz berpendapat, bahwa situasi kezaliman sangat menentukan hukum. Jika seorang kejam menyakitimu tanpa henti dan engkau tak bisa melawannya, engkau boleh mendoakannya celaka. Atau, engkau berhadapan dengan orang nan bakal menebar kerusakan di seluruh penjuru, maka boleh juga engkau mendoakannya celaka. Hukum ini berdasar pada doanya Nabi Nuh ‘alaihissalam dan Nabi Musa ‘alaihissalam.” 

Meskipun teks diatas memperbolehkan membaca hizib untuk balas dendam kepada orang nan telah berkhianat alias melakukan kejam kepada kita. Ada juga sebagian ustadz nan berpandangan lebih baik tidak mendoakan celaka untuk mereka nan menzalimi kita. Dalam artian mengampuni kezaliman mereka lebih utama daripada balas dendam mendoakan mereka celaka. Sebagaimana telah dijelaskan Syaikh Abu Abdillah Musthafa Bin Al ‘Adawi berikut:

وقد اختلف أهل العلم في الدعاء على الظالم: هل الأفضل فعله أم تركه؟ فمن أهل العلم من يقول: إن ترك الدعاء أفضل؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم ذكر حديث الشفاعة الطويل

Artinya, “Para ustadz berbeda pendapat mengenai angan celaka untuk orang zalim. Apakah sebaiknya dilakukan alias ditinggalkan? Sebagian ustadz berpendapat, tentu nan lebih baik adalah tidak mendoakan mereka celaka. Hal ini berlandas pada hadist as-syafa’ah (hadits tentang syafaat nan bicara soal argumen kenapa para rasul selain Nabi Muhammad Saw. tidak mendapat mandat syafaat besar (as-syafaah al’udzma) di Hari Kiamat. Alasannya, lantaran mereka pernah mendoakan umatnya celaka di bumi semasa di dunia).”

Dengan demikian balas dendam akibat putus cinta dengan membaca hizib sebaiknya tidak dilakukan. Pasalnya, kebencian dan dendam hanya bakal membawa akibat negatif bagi hati dan jiwa. Untuk itu, seyogianya dihilangkan dalam hati.

Demikian penjelasan dendam akibat putus cinta, bolehkah membaca hizib untuk membalasnya? Semoga berfaedah Wallahu a’lam bishawab. [Baca juga: Pernah Dengar Istilah Hizib ? Apa Artinya ?]

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah