Bolehkah Panitia Sekolah Mengambil Zakat Siswa?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia- Bolehkah panitia sekolah mengambil amal siswa? Salah satu agenda wajib tahunan sekolah adalah menginstruksikan kepada seluruh siswanya untuk bayar amal fitrah langsung ke Lembaga Sekolah. Mekanismenya, para siswa membawa beras sesuai takaran nan telah ditentukan untuk diberikan ke pihak sekolah. 

Kemudian, pihak sekolahlah nan mendistribusikan beras tersebut ke pihak nan memerlukan (mustahiq) melalui panitia nan sudah dibentuk. Keputusan ini berasas inisiatif langsung dari kepala sekolah dan disetujui oleh seluruh pihak atasan. Tetapi, muncul kebingungan dari pihak panitia apakah dirinya termasuk mustahiq zakat, sehingga juga boleh mengambil amal siswa alias tidak. Lantas, bolehkah panitia sekolah mengambil amal siswa?

Dalam literatur kitab fikih, seseorang boleh mengambil kekayaan amal andaikan dia termasuk bagian dari mustahiq zakat. Salah satu mustahiq amal nan boleh mengambil amal adalah amil zakat. 

Menurut Ibnu Qasim Al-Ghazali amil adalah orang nan ditunjuk oleh kepala negara (imam) untuk memungut dan mendistribusikan amal kepada pihak-pihak nan berkuasa menerimanya. Sebagaimana dalam kitab Mughni al-Muhtaj, juz, 3 laman 157 berikut,

وَالْعَامِلُ مَنِ اسْتَعْمَلَهُ الْإِمَامُ عَلَى أَخْذِ الصَّدَقَاتِ وَدَفْعِهَا لِمُسْتَحِقِّيهَا

Artinya : “Amil adalah orang nan ditunjuk pemimpin untuk memungut amal dan mendistribusikan kepada nan pihak-pihak nan berkuasa atas amal tersebut” 

Berdasarkan keterangan diatas panitia amal nan dibentuk oleh sekolah tidak termasuk amil nan berkuasa menerima bagian amal melainkan hanya berstatus sebagai wakil zakat, karena tidak diangkat oleh pihak nan berkuasa nan menjadikepanjangan tangan kepala negara dalam urusan zakat. 

Lain halnya jika pembentukan tersebut sesuai dengan ketentuan perundang-undangan nan bertindak di mana minimal dicatatkan ke KUA untuk amil perseorangan alias amil kumpulan perseorangan. Sebagaimana dalam kitab Hasyiyah at-Tarmasi, juz, 5 laman 404 berikut,

قَوْلُهُ وَالْعَامِلُونَ عَلَيْهَا أَي الزَّكَاةِ يَعْنِي مَنْ نَصَبَهُ الْإِمَامُ فِي أَخْذِ الْعِمَالَةِ مِنَ الزَّكَوَاتِ) قَلَوِ اسْتَأْجَرَهُ مِنْ بيت المَالِ أَوْ جَعَلَ لَهُ جُعَلا لَمْ يَأْخُذْ من الزَّكَاةِ، قِيلَ إِنَّمَا يَجُوزُ  اعطاء العامل اذا لم يوجد متطوع، وَمُقْتَضَاهُ أَنَّ مَنْ عَمِلَ مُتَبَرِّعًا لَا يَسْتَحِقُ شَيْئً عَلَى القاعدة

Artinya :”Pernyataan Ibnu Hajar Al-Haitami; ‘Dan amil-amil amal ialah orang-orang nan diangkat kepala negara untuk mengurusi zakat. Apabila kepala negara mempekerjakan amil dimana upahnya diambil dari kas negara alias berkomitman untuk memberikan hadiah atas pekerjaan mengurusi amal maka dia tidak boleh mengambil bagian dari zakat.

Dalam pendapat lain dikatakan bahwa bolehnya memberikan amal kepada amil tersebut dengan syarat tidak ditemukannya orang nan bersedia secara suka rela menjadi amil. Hal itu selaras dengan norma nan menyatakan bahwa pada dasarnya orang nan bekerja dengan suka rela tidak berkuasa mendapatkan apa-apa.”

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa panitia amal nan dibentuk oleh sekolah tidak termasuk amil nan berkuasa menerima bagian amal melainkan hanya berstatus sebagai wakil zakat, karena tidak diangkat oleh pihak nan berkuasa nan menjadi kepanjangan tangan kepala negara dalam urusan zakat.

Demikian penjelasan mengenai bolehkah panitia sekolah mengambil amal siswa. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. [Baca juga: Hukum Membayar Zakat Anak Sudah Dewasa, Sahkah?]

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah