Buah Manis Ramadan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Ramadan adalah sebuah wadah pembentukan jiwa dan kualitas diri seorang muslim. Ibarat perguruan tinggi dengan mahasiswa nan dibentuk oleh pendidikan dan keahlian untuk menghadapi tantangan bumi kerja nan penuh dengan dinamika. Keberhasilannya diukur dari gimana dia dapat memperkuat hidup dan menghidupi keluarganya dengan keahlian nan dia miliki. Bahkan, dengan izin Allah, berbekal keahlian itu dia bisa membuka lapangan pekerjaan bagi para pencari kerja dan berkontribusi pada pengurangan nomor pengangguran untuk bangsa ini.

Adapun Ramadan, dengannya seorang muslim digembleng dan dididik sedemikian rupa dengan ‘sistem’ nan telah dibentuk oleh Allah Ta’ala. Pahala dilipatgandakan, setan dibelenggu, nafsu diredam, pintu surga dibuka, dan pintu neraka ditutup. Kecenderungan hati untuk selalu dekat dengan Allah Ta’ala melalui Al-Qur’an, salat malam, sahur, puasa, sedekah, dan berbuka. Demikianlah, sekelumit gambaran dari pendidikan Ramadan nan telah Allah persiapkan untuk kita. Janji Allah bagi hamba-Nya nan sukses melewati aturan-aturan Allah dalam menjalani pendidikan Ramadan ini adalah takwa.

Sebagaimana seorang mahasiswa nan menginginkan pengetahuan dan gelar kesarjanaannya, begitu pula seorang muslim semestinya menginginkan keistikamahan dalam menjalankan ketaatan dan menjauhi semua larangan hukum dengan ‘gelar’ takwanya. Uniknya, hanya Allah Ta’ala, satu-satunya Zat nan mengetahui siapa saja dari hamba-Nya nan telah menyandang gelar ketakwaan tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang nan beriman, diwajibkan atas Anda berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum Anda agar Anda bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Karenanya, kita tidak boleh terlalu pede dengan amalan-amalan nan telah kita lakukan selama Ramadan, dengan menganggap bahwa pasti semua diterima oleh Allah Ta’ala. Tidak pula kita pesimis bahwa amalan-amalan tersebut tertolak. Diterima alias tidaknya kebaikan seseorang adalah kewenangan prerogatif Allah Ta’ala semata.

Akan tetapi, Allah Ta’ala telah memberikan kita petunjuk untuk mengetahui tanda-tanda diterimanya amalan-amalan kita baik dalam konteks seluruh corak ibadah secara umum maupun ibadah puasa secara khusus.

Sikap terhadap kebaikan ibadah nan telah ditunaikan

Sekali lagi, kita tidak pernah tahu apakah kebaikan ibadah kita diterima oleh Allah Ta’ala. Jangan-jangan ada unsur riya’ dalam menjalankannya, bisa jadi terdapat kekeliruan dalam tata caranya, dan mungkin saja ada rukun-rukun dan syarat nan tidak terpenuhi nan disebabkan lantaran tetap minimnya pengetahuan kita dalam menjalankan beragam ibadah ibadah tersebut.

Namun, para ustadz salaf telah mencontohkan bahwa kita mesti memaksimalkan ibadah ibadah semampu nan mereka bisa untuk menyempurnakannya. Kemudian mereka merasa cemas apakah Allah Ta’ala menerima alias menolaknya. Allah Ta’ala berfirman tentang karakter para salaf tersebut,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ

“Dan orang-orang nan memberikan apa nan telah mereka berikan, dengan hati nan takut.” (QS. Al Mu’minun: 60)

Terhadap ayat di atas, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ (وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ) أَهُوَ الرَّجُلُ الَّذِى يَزْنِى وَيَسْرِقُ وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ قَالَ « لاَ يَا بِنْتَ أَبِى بَكْرٍ – أَوْ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ – وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيَتَصَدَّقُ وَيُصَلِّى وَهُوَ يَخَافُ أَنْ لاَ يُتَقَبَّلَ مِنْهُ ».

“Wahai Rasulullah! Apakah nan dimaksudkan dalam ayat ‘Dan orang-orang nan memberikan apa nan telah mereka berikan, dengan hati nan takut.’, adalah orang nan berzina, mencuri dan meminum khamr?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantas menjawab, “Wahai putri Ash-Shidiq (maksudnya Abu Bakr Ash-Shidiq, pen)! nan dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah seperti itu. Bahkan, nan dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah orang nan yang berpuasa, nan bersedekah, dan nan salat, namun dia cemas amalannya tidak diterima.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad. Disahihkan oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi.)

Oleh karenanya, justru kekhawatiran terhadap ibadah ibadah nan telah ditunaikan merupakan sifat orang-orang nan beriman. Karena, emosi cemas tersebut bakal mendorong dirinya untuk melakukan ibadah nan lebih berbobot dan lebih sempurna sehingga Allah Ta’ala memberikan kemudahan bagi dirinya untuk menjadi hamba Allah nan bertakwa.

Baca juga: Kontinu dalam Menjaga Amal Ibadah Sunah

Tanda Allah menerima kebaikan seseorang

Allah Ta’ala telah memberikan kepada kita sebuah petunjuk untuk mengetahui tanda kebaikan ibadah kita diterima alias tidak, ialah kebaikan-kebaikan serupa nan dilakukan secara konsisten setelahnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

هَلۡ جَزَاۤءُ ٱلۡإِحۡسَـٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَـٰنُ

“Tidak ada jawaban untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” (QS. Ar-Raḥmān: 60)

Lebih spesifik dari ibadah Ramadan, kita dapat mengenali sebuah tanda bahwa ibadah selama bulan puasa seseorang diterima adalah bahwa Allah memberikan kemudahan baginya untuk menjalankan ibadah puasa pada bulan Syawal. Mari kita renungkan perkataan Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah tentang kegunaan Ramadan,

أن معاودة الصيام بعد صيام رمضان علامة على قبول صوم رمضان فإن الله إذا تقبل عمل عبد وفقه لعمل صالح بعده كما قال بعضهم : ثواب الحسنة الحسنة بعدها فمن عمل حسنة ثم اتبعها بعد بحسنة كان ذلك علامة على قبول الحسنة الأولى كما أن من عمل حسنة ثم اتبعها بسيئة كان ذلك علامة رد الحسنة و عدم قبولها

“Kembali lagi melakukan puasa setelah puasa Ramadan, itu tanda diterimanya ibadah puasa Ramadan. Karena Allah jika menerima ibadah seorang hamba, Allah bakal memberi taufik untuk melakukan ibadah saleh setelah itu. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, ‘Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.’ Oleh lantaran itu, siapa nan melakukan kebaikan lantas diikuti dengan kebaikan selanjutnya, maka itu tanda ibadah kebaikan nan pertama diterima. Sedangkan, nan melakukan kebaikan lantas setelahnya malah ada kejelekan, maka itu tanda tertolaknya kebaikan tersebut dan tanda tidak diterimanya.” (Latha’if Al-Ma’arif, hal. 388.)

Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan,

وعلامة قبول عملك : احتقاره واستقلاله وصغره في قلبك

“Tanda diterimanya kebaikan salehmu adalah engkau memandang remeh, sedikit, dan mini ibadah saleh tersebut di dalam hatimu!” (Madarijus Salikin, 2:62)

Pandangan remeh, sedikit, dan mini tersebut berangkat dari kesadaran diri bahwa kita merupakan hamba Allah Ta’ala nan lemah dan sangat berjuntai kepada Allah Ta’ala untuk mendapatkan petunjuk kemudahan dalam menjalankan ibadah.

Mari kita perhatikan diri kita! Betapa kasih sayang Allah sangat besar diberikan kepada kita berupa kesempatan untuk kembali merasakan nikmatnya ibadah Ramadan di tahun ini di mana jutaan hamba-hamba-Nya telah Allah wafatkan sebelum Ramadan. Bagaimana jika kita menjadi bagian dari mereka, sedangkan dosa-dosa tetap bertumpuk?

Karenanya sedikitnya ibadah kita, maka kita perlu memohon pertolongan Allah agar diberikan kemudahan demi kemudahan untuk menjadi seorang hamba nan bertakwa.

Buah manis Ramadan

Tanda dari diterimanya ibadah seorang hamba adalah perubahan diri menjadi pribadi nan lebih baik dari segala aspek. Keistikamahan dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya (yang merupakan tanda ketakwaan seorang hamba) merupakan buah manis dari hasil gemblengan muslim selama bulan puasa merupakan buah manis Ramadan.

Maka, hendaknya, kebaikan puasa selama bulan Ramadan melahirkan azam nan kuat untuk mengiringinya dengan puasa 6 hari di bulan Syawal, kemudian mendorong diri untuk mempunyai kebiasaan melaksanakan puasa Senin Kamis, puasa ayyamul bidh, hingga puasa Daud pada bulan berikutnya.

Terlebih perkara salat, khususnya salat-salat nawafil nan selama Ramadan kita maksimalkan dengan tekun. Salat-salat rawatib, salat malam, Witir, Duha, dan syuruq menjadi rutinitas nan terasa ringan selama Ramadan. Alangkah baiknya, jika rutinitas nan agung ini juga kita pertahankan pada bulan-bulan setelah Ramadan sebagai corak ikhtiar dan optimisme terhadap ibadah Ramadan, serta pertanda Allah menerima ibadah kita. Allahumma amin.

Begitu pula, kebiasaan membaca Al-Qur’an selama Ramadan melahirkan habit untuk senantiasa membaca Al-Qur’an pada bulan-bulan berikutnya dengan intensitas nan lebih tinggi, menambah perbendaharaan hafalan, serta memperkaya diri dengan pengetahuan tafsir guna memperoleh kemudahan dalam mentadaburinya setiap waktu.

Demikian pula, dengan infak nan biasa kita lakukan selama Ramadan. Menjadi rutinitas pula kiranya untuk diri kita dalam memberikan support kepada sesama baik moril maupun materil nan berorientasi untuk mencapai keridaan Allah.

Mudah-mudahan Allah Ta’ala menanamkan semua kebiasaan-kebiasaan baik ini pada diri kita sehingga kita menjadi pribadi nan saleh dan senantiasa mendapatkan pertolongan dan kasih sayang Allah Ta’ala.

Wallahua’lam

Baca juga: Sang Pemenang Ramadan

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah