Bukan Olok-olok, Canda Dan Jenaka Dibolehkan Dalam Islam

Sedang Trending 2 hari yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Baru-baru ini, pengguna media sosial dihebohkan oleh perangai beberapa anak muda. Pasalnya, dalam sebuah video nan viral, mereka tampak sedang makan ayam goreng di restoran sigap saji sembari mengucapkan olok-olok tentang anak-anak Palestina nan sedang menjadi korban genosida Zionis Israel.

Olok-olok nan ditunjukkan para gadis asal Jakarta itu menuai kecaman beragam pihak. Apalagi, seorang dari mereka, ialah nan berkaca mata, mengatakan dirinya menyantap ayam goreng nan menurutnya, serasa makan "tulang anak-anak Palestina."

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), olok-olok adalah 'perkataan nan mengandung sindiran.' Berbeda dengan banyolan dan jenaka, ada kesan bahwa olok-olok bermaksud untuk mengejek walaupun kata-kata nan digunakan barangkali "lucu" bagi nan mengucapkannya.

Islam tidak melarang seseorang menyampaikan perihal nan kocak alias melakukan jenaka. Dalam Alquran surah an-Najm ayat 43 dijelaskan, di antara fitrah manusia adalah tertawa. Hidup memang tak selalu "hitam", tetapi adakalanya juga "putih", ialah cerah dan penuh kegembiraan.

Salah satu corak rasa ceria itu adalah ekspresi canda. Nabi Muhammad SAW pun dalam hidupnya pernah bercanda.

Dalam adab islami, membikin orang lain senang pun dianjurkan sebagai kebajikan. Nabi SAW bersabda, "Senyummu untuk saudaramu adalah amal (sedekah)” (HR Imam Ahmad).

Bercanda boleh dilakukan, asalkan tidak diiringi beragam perbuatan tak terpuji. Misalnya, berbohong, berbincang kotor, mengolok-ngolok, alias merendahkan sesama manusia. Janganlah hanya demi mendapatkan tawa dari orang lain, perbuatan-perbuatan jelek itu dilakukan.

Nabi SAW bersabda, ”Celakalah orang nan berbincang lampau mengarang cerita bohong agar orang lain tertawa" (HR Abu Dawud). Dalam sabda lainnya, beliau menegaskan, "Sesungguhnya tidaklah saya berbicara, selain nan benar” (HR Tirmidzi).

Canda Nabi

Dikisahkan dalam sebuah riwayat, ada seorang laki-laki meminta kepada Nabi Muhammad SAW agar beliau membawanya di atas kendaraan. Lantas, Rasulullah berkata, ”Aku bakal membawamu di atas anak unta.”

Orang tadi pun bingung. Sebab, dia hanya memandang seekor unta dewasa, bukan anak unta.

Rasulullah menjelaskan, ”Bukankah nan melahirkan anak unta itu seekor unta juga?” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

Contoh lainnya dari banyolan Nabi adalah kisah berikut. Suatu hari, Rasulullah SAW kehadiran seorang nenek tua nan bertanya, ”Apakah kelak diriku bakal masuk surga?”

Nabi SAW pun menjawab, ”Tidak bakal ada nenek-nenek di surga.”

Mendengar jawaban itu, spontan sang nenek menangis sedih. Lantas, Rasulullah SAW menjelaskan kepadanya. Kelak, tidak ada nenek-nenek di surga. Sebab, semua mahir surga bakal kembali belia. Sang nenek pun kembali tersenyum senang.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam