Buku Cerpen Rumah Kawin Karya Zen Hae Masuk Rekomendasi Buku Sastra Masuk Sekolah

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Buku Cerpen Rumah Kawin Karya Zen Hae masuk Rekomendasi Buku Sastra Masuk Sekolah
Buku Cerpen Rumah Kawin Karya Zen Hae masuk Rekomendasi Buku Sastra Masuk Sekolah

Buku Cerpen Rumah Kawin Karya Zen Hae masuk Rekomendasi Buku Sastra masuk Sekolah jadi Kontroversial. Sebagaimana diketahui Zen Hae adalah penulis cerpen, puisi, esai, dan kritik sastra yang lahir di Jakarta, 12 April 1970. Beliau merupakan lulusan IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta)

Isi Buku alias Cerpen Rumah Kawin Karya Zen Hae adalah Sebuah kumpulan cerita pendek nan menggambarkan dengan penuh khayalan dan perincian mengenai kehidupan individu-individu yang sering dijumpai namun diabaikan oleh masyarakat, seperti pemulung, pecandu alkohol, dan orang-orang nan terpinggirkan. Melalui cerita-cerita dalam buku ini, penulis menggambarkan bahwa mereka tidak hanya berkompetisi dengan penolakan dari masyarakat, tetapi juga dengan pertarungan dengan jiwa mereka sendiri.

Beberapa cerita pendek yang ada pada kitab ini juga menceritakan mengenai kisah-kisah khayalan nan disampaikan dengan kefasihan dan style bahasa deskriptif nan khas.

Sebagaimana dijelaskan dalam Panduan Penggunaan Rekomendasi Buku Sastra, bahwa dalam kitab dengan titel Rumah Kawin ini terdapat istilah-istilah seksualitas dan Mengandung kekerasan verbal.

Dalam kitab penduan sudah dijelaskan sebagai berikut:

A. Terdapat istilah-istilah seksualitas

1)   Halaman 47 kalimat “Tangannya terus meremasi pantat Sarti dan menyorongkan mulut monyongnya ke mulut wayang  bermata burung hantu itu.”

2)   Halaman 48 kalimat “Batang zakar Mamat Jago yang serupa ikan bagus terasa menekan selangkangan Sarti.”

3)   Halaman 58 kalimat “Ia membaringkan Sarti di ranjang.” dan seterusnya menggambarkan mengenai aktivitas seksual

4)   Halaman 64 kalimat “Mamat Jago mengerang dan menekan pantat Sarti. Kali ini membiarkan Mamat Jago meremas dan menekan pantatnya”

5)   Halaman 95-96 kalimat “Hingga suatu hari perempuan itu memergoki saya separuh bugil sembari menggumuli anjingnya yang terus mengaing.”

6)   Halaman 101 kalimat “Perempuan muda bertubuh sintal-putih-berkeringat, menggeliat dengan rambut acak-acakan dan mata redup, di atas hamparan sprei kusut.”

7)   Halaman 106 kalimat “Kenapa tidak main seks dengan manekin itu?”

8)   Halaman 108-109 mendeskripsikan mengenai hubungan seks

9)   Halaman 115 kalimat “Sama telanjang, sama menghadap luar.”

B. Kekerasan verbal - penghinaan terhadap bentuk dan penggunaan kata-kata kasar dan mengandung istilah seksual

1)   Halaman 48 kalimat “Heh, budek lu.” dan kalimat “Sundal lu!”

2)   Halaman 69 kalimat “Perempuan laknat.”

3)   Halaman 80 kata “Bajingan”

4)   Halaman 81 kalimat “Orang Gila! Minggir. Mau mampus lu.”

5)   Halaman 96 kalimat “Dasar tokoh gila lu!”

6)   Halaman 99 kalimat “Dasar anjing lu!”



Masuknya Buku Cerpen Rumah Kawin Karya Zen Hae sebagai salah satu Rekomendasi Buku Sastra Masuk Sekolah Untuk siswa SMA SMK Sederjat nan jelas-jelas mengandung unsur seksualitas dan kekerasan verbal akhirnya menimbulkan kontroversial dan protes. Salah satunya dari Perkumpulan Nusantara Utama Cita (NU Circle)

Dalam beberapa media disampaikan bahwa NU Circle Protes Keras, dan Ingatkan Nadiem Tak Sebarkan  Adegan Seksualitas di Sekolah. Berikut ini salinan protes nan sampiakan Wakil Ketua Perkumpulan Nusantara Utama Cita (NU Circle) Ahmad Rizali.

Wakil Ketua Perkumpulan Nusantara Utama Cita (NU Circle) Ahmad Rizali   mengingatkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Ristek Nadiem Makarim agar tak menyebarkan segmen seksualitas di lingkungan sekolah. Dalam program Sastra Masuk Kurikulum, nan menjadi pendukung Kurikulum Merdeka dan Merdeka Belajar, banyak karya sastra beradegan cabul dan vulgar direkomendasikan secara resmi menjadi referensi anak-anak di sekolah.

“Adegan cabul nan mengumbar narasi seksualitas  dan persenggamaan sangat tidak layak masuk kurikulum pendidikan nasional. Nadiem harus menghentikan kecerobohan ini. Pemerintah kudu menjaga keadaban manusia melalui pendidikan kemanusiaan nan setara dan beradab,” tegas Ahmad Rizali di Jakarta, Selasa (28/5/2024).

Dalam Program Sastra Masuk Kurikulum, Kemdikbud Ristek membikin rekomendasi sejumlah karya sastra sebagai bacaan pembimbing dan anak-anak sekolah. Konyolnya banyak karya sastra murahan yang mengumbar segmen seksualitas dan persenggamaan  dimasukkan secara resmi sebagai bahan referensi nan direkomendasikan.

Salah satu contohnya  adalah cerpen berjudul “ Rumah Kawin” yang ditulis Zen Hae. Cerpen ini diterbitkan tahun 2004.

Di laman 48 cerpen tersebut berbunyi, “Batang “zak...” Mamat Jago nan serupa ikan “....” terasa menekan “selang....” Sarti.”

Halaman 47 “ Tangannya terus meremasi “pan...” Sarti dan menyorongkan mulut monyongnya....ke....”

Halaman 58 “ Ia membaringkan Sarti di ranjang” dan seterusnya menggambarkan aktivitas seksualitas.

Ditegaskan Ahmad, panduan yang dibuat Kemdikbud Ristek dalam Program Sastra Masuk Kurikulum termasuk dalam kategori pelanggaran norma kesusilaan lantaran telah mengumbar persenggamaan melalui tulisan.

“UU No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi jelas mengatur masalah ini dan melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat. Karena itu NU Circle minta program ini kudu dihentikan dan dibuat secara lebih beradab dan lebih profesional,” tegas Ahmad.

UU No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi mendefinisikan pornografi adalah gambar, sketsa, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, mobilitas tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui beragam corak media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum nan memuat kecabulan alias pemanfaatan seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat

Dalam pasal 4 ayat 1 tegas disebutkan larangan memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, alias menyediakan pornografi nan secara eksplisit memuat persenggamaan, termasuk persenggamaan nan menyimpang, kekerasan seksual, masturbasi, ketelanjangan alias tampilan nan mengesankan ketelanjangan, perangkat kelamin alias pornografi anak.

“In  bukti Profil Pelajar Pancasila nan tidak diturunkan secara langsung dari setiap Sila Pancasila telah membikin Kemdikbud Ristek bebas merdeka melakukan apa saja termasuk memasukkan pendidikan  ketidakberadaban dalam Kurikulum Merdeka,” tegasnya.

Menurutnya, problem besar pendidikan nasional saat ini adalah rendahnya mutu berpikir siswa karena kompetensi literasi dan numerasi  sangat memprihatinkan. “Mengapa Kemdikbud tidak konsentrasi di sini. Seharusnya perang besar pemerintah adalah memberantas kegoblokan ini dan bukan membikin program yang justeru menurunkan logika sehat dan mengubah syahwat kebinalan,” ujarnya geram.

Ahmad mendesak Pemerintah, termasuk Pemerintahan Prabowo- Gibran  kelak lebih konsentrasi memerangi kegoblokan literasi dan numerasi ini dengan menerbitkan Peraturan Presiden alias Instruksi Presiden tentang Peningkatan Mutu Literasi dan Numerasi Pendidikan Dasar dan Menengah.

Demikain info tentang Buku Cerpen Rumah Kawin Karya Zen Hae masuk Rekomendasi Buku Sastra masuk Sekolah jadi Kontroversial.



Selengkapnya
Sumber Jelajah Informasi
Jelajah Informasi