Beauties, jika Anda sedang mencari referensi baru, daftar pemenang Women’s Prize for Fiction mungkin bisa menjadi salah satu referensi. Penghargaan sastra bergengsi ini diberikan setiap tahun kepada novel terbaik berkata Inggris yang ditulis oleh perempuan.
Tak hanya mendapat apresiasi dari para kritikus, banyak novel pemenangnya juga sukses memikat pembaca lewat cerita yang kuat dan karakter yang membekas. Berikut lima novel pemenang Women’s Prize for Fiction yang layak masuk daftar bacamu!
The Correspondent – Virginia Evans (2026)

The Correspondent – Virginia Evans (2026)/Foto: goodreads.com
Novel The Correspondent mengisahkan tentang perempuan berumur 73 tahun, Sybil Van Antwerp, yang menjalani hari-harinya dengan menulis surat kepada keluarga, teman, hingga orang-orang yang pernah datang dalam hidupnya. Lewat surat-surat tersebut, Sybil perlahan mengenang beragam keputusan, penyesalan, dan hubungan yang membentuk perjalanan hidupnya.
Dengan format epistolary alias novel berbentuk surat, Virginia Evans sukses menawarkan cerita yang hangat sekaligus reflektif tentang keluarga, persahabatan, dan kesempatan kedua. Gaya penceritaannya yang intim membikin novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah yang berfokus pada perkembangan karakter.
The Safekeep – Yael van der Wouden (2025)

The Safekeep – Yael van der Wouden (2025)/Foto: goodreads.com
Ditulis oleh perempuan asal Belanda, Yael van der Wouden, The Safekeep merupakan novel berlatar di Belanda pada awal 1960-an, sekitar 15 tahun setelah Perang Dunia II. The Safekeep menceritakan kehidupan Isabel, wanita yang hidup tenang di rumah warisan keluarganya. Kehidupannya mulai berubah ketika sang kakak membawa Eva untuk tinggal sementara di rumah tersebut, memunculkan ketegangan sekaligus rahasia yang perlahan terungkap.
Lewat perpaduan historical fiction dan drama psikologis, Yael van der Wouden menghadirkan kisah yang penuh emosi tentang keluarga, identitas, dan luka masa lalu. Alurnya yang perlahan membangun rasa penasaran membikin novel ini susah untuk dilepaskan.
Demon Copperhead – Barbara Kingsolver (2023)

Demon Copperhead – Barbara Kingsolver (2023)/Foto: goodreads.com
Terinspirasi dari novel klasik David Copperfield karya Charles Dickens, Demon Copperhead mengikuti perjalanan seorang anak laki-laki yang tumbuh di daerah Appalachia, Amerika Serikat. Tema yang dibawa cukup berat dan personal, dengan beragam tantangan hidup, Demon berupaya memperkuat sembari mencari tempatnya di dunia.
Barbara Kingsolver memadukan kisah individual dengan rumor sosial yang relevan, mulai dari kemiskinan hingga krisis opioid di Amerika Serikat. Dengan karakter utama yang kuat dan narasi yang emosional, Demon Copperhead menjadi salah satu novel kontemporer yang banyak mendapat pujian.
The Book of Form and Emptiness – Ruth Ozeki (2022)

The Book of Form and Emptiness – Ruth Ozeki (2022)/Foto: goodreads.com
The Book of Form and Emptiness merupakan salah satu kitab yang mengeksplorasi duka dengan baik. Berpusat pada Benny Oh, remaja berumur 14 tahun yang kudu menghadapi kehilangan sang ayah. Setelah kepergian sang ayah, Benny mulai mendengar bunyi dari benda-benda meninggal di sekitarnya, membawanya pada perjalanan yang penuh pertanyaan tentang kehidupan, kesedihan, dan makna keberadaan.
Melalui sentuhan magical realism, Ruth Ozeki menghadirkan kisah yang unik sekaligus menyentuh. Novel yang dengan jelas mengeksplorasi hubungan keluarga, kesehatan mental, dan proses menerima kehilangan dengan langkah yang hangat dan reflektif.
Hamnet – Maggie O’Farrell (2020)

Hamnet – Maggie O’Farrell (2020)/Foto: goodreads.com
Sebelum diangkat ke movie layar lebar, Hamnet awalnya merupakan kitab yang terinspirasi dari kisah family William Shakespeare dengan berfokus pada Agnes dan putranya, Hamnet. Novel ini menggambarkan kehidupan family William Shakespeare pada abad ke-16, termasuk duka mendalam yang mereka alami setelah kehilangan putra tercinta yang baru berumur 11 tahun, Hamnet.
Dengan bahasa yang puitis dan perincian yang kaya, Maggie O’Farrell menghadirkan kisah tentang cinta, kehilangan, dan kekuatan sebuah keluarga. Hamnet tetap menjadi salah satu novel pemenang Women’s Prize for Fiction yang paling banyak direkomendasikan sampai sekarang, yang membuatnya juga diadaptasi menjadi sebuah film.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik wanita dan juga laki-laki, kami juga mempunyai organisasi unik untuk Anda yang tetap berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)