Burnout Guru, Tanda Depresi Yang Sering Terabaikan Di Kalangan Pendidik

Nov 27, 2025 04:40 PM - 4 bulan yang lalu 128979

Jakarta -

Ketika bicara soal burnout, rupanya pembimbing juga mengalaminya lho, Bunda. Burnout pembimbing ini bisa menjadi tanda depresi yang sering terabaikan di kalangan pendidik.

Tidak hanya bekerja sebagai pengajar saja, pembimbing juga berkedudukan sebagai pengasuh anak. Peran dobel inilah yang dapat menimbulkan stres, hingga memicu depresi.

Saat mendengar kata "burnout", besar kemungkinan itu mengarah pada gangguan depresi mayor. Apa artinya itu, Bunda?

Menilik dari laman Healthline, gangguan ini ditandai dengan suasana hati yang terus-menerus dan hilangnya minat pada semua aktivitas. Depresi ini memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia.

Di Amerika Serikat saja, diperkirakan 21 juta orang dewasa pernah mengalami setidaknya satu bagian depresi mayor, lho. Depresi ini tidak pandang bulu, Bunda.

Siapa saja bisa mengalaminya, di pekerjaan apa pun, dan pembimbing termasuk salah satu yang berisiko tinggi. Simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

Penyebab utama burnout pada guru

Burnout memang umum terjadi di kalangan guru, Bunda. Banyak pembimbing yang merasa kelelahan akibat tanggung jawab yang berat setiap harinya.

Menilik informasi dari State of the US Teacher Survey pada 2021, sebanyak 50 persen pembimbing melaporkan mengalami burnout, sementara 27 persen lainnya mengatakan mereka menunjukkan indikasi depresi.

Sebuah tinjauan pada 2022 menemukan bahwa tingkat depresi pembimbing rata-rata mencapai 30,7 persen, Bunda. Angka ini menjadi bukti bahwa tetap banyak pembimbing yang mengalami tekanan emosional yang serius.

Seorang pekerja sosial klinis berlisensi dan kepala klinis pelaksana di Gallus Detox, Denver, Colorado, Steve Carleton, mengatakan bahwa temuan ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor.

Faktor-faktor tersebut antara lain meningkatnya beban kerja, tuntutan pekerjaan yang tinggi, kurangnya dukungan, dan stres lantaran membagi waktu antara mengajar dan tanggung jawab yang lainnya, Bunda.

"Temuan ini menunjukkan bahwa depresi adalah masalah nyata di kalangan guru, menekankan perlunya lebih banyak perhatian dan sumber daya untuk kesehatan mental guru," tutur Carleton.

Tanda-tanda burnout pada guru

Setelah memahami penyebab burnout yang terjadi pada guru, rupanya ada lho tanda-tandanya, Bunda. Berikut penjelasannya.

1. Sering tidakhadir dari pekerjaannya

Guru yang mengalami burnout condong lebih sering tidakhadir dari pekerjaannya. Mengapa demikian? Hal ini biasanya lantaran munculnya rasa capek dan kurang motivasi untuk menghadapi pekerjaan sehari-hari.

2. Kelelahan

Kelelahan bentuk dan mental kerap muncul sebagai tanda burnout pada guru. Guru bisa merasa tidak punya daya sama sekali untuk mengajar alias melakukan kegiatan sehari-hari.

"Kelelahan adalah corak tekanan psikologis yang terjadi ketika seseorang merasa terlalu banyak bekerja, kurang dihargai, dan tidak bisa menghadapi tuntutan serta angan pekerjaan," jelas seorang pekerja sosial berlisensi dari Morris Plains, di New Jersey, Candace Kotkin-De Carvalho.

3. Suasana hati yang rendah

Selain kelelahan, pembimbing yang mengalami burnout juga kerap merasa sedih alias kehilangan semangatnya, Bunda. Suasana hati rendah ini bisa muncul nyaris setiap hari dan bisa berpengaruh pada kualitas mengajar mereka.

4. Mudah tersinggung

Sifat mudah tersinggung ini juga menjadi tanda burnout, lho. Hal-hal mini yang terjadi di sekolah bisa menjadi pemicu reaksi emosional yang berlebihan pada guru.

5. Kurang konsentrasi pada pekerjaan

Burnout membikin pembimbing terkadang kurang konsentrasi pada pekerjaan mereka. Hal ini yang nantinya bisa berpengaruh pada siswa dan kegiatan belajar mengajar.

"Tanda umum depresi pada pembimbing adalah emosi kewalahan dan tidak bisa menghadapi tuntutan pekerjaan mereka," kata seorang pekerja sosial, Steve Carleton.

Tips mengatasi burnout pada guru

Kalau sudah memahami beragam tandanya, berikut beberapa tips sederhana untuk mengelola burnout pada guru:

1. Fokus pada diri sendiri

Sebagai guru, wajar saja jika lebih memprioritaskan kebutuhan orang lain daripada diri sendiri. Terkadang, susah juga menemukan waktu untuk diri sendiri, apalagi ketika di rumah.

Dalam perihal ini, merawat diri sendiri bisa menjadi langkah yang tepat untuk membantu pembimbing tetap sehat, baik secara bentuk maupun mentalnya.

"Yang utama adalah memastikan merawat diri sendiri terlebih dahulu. Luangkan waktu untuk melakukan kegiatan yang memberi kebahagiaan, seperti olahraga, hobi, alias berkumpul dengan kawan dan keluarga," kata pekerja sosial berlisensi dari Morris Plains, New Jersey, Candace Kotkin-De Carvalho.

2. Belajar menetapkan batasan

Tidak apa-apa jika mau menetapkan batasan, misalnya saja menolak pekerjaan tambahan yang mengganggu waktu di rumah. Ini krusial agar pembimbing tidak terlalu capek dan tetap konsentrasi pada tugas utamanya.

Nah, jika bicara soal menetapkan batas memang mudah diucapkan, tapi bakal susah untuk dilakukan. Karena itu, pembimbing bisa bekerja sama dengan ahli kesehatan mental agar bisa belajar komunikasi yang tegas dan mengatasi rasa bersalah saat berbicara "tidak".

3. Membangun jaringan support sendiri

Sistem pendidikan mungkin tidak menyediakan support kesehatan mental yang cukup. Untuk membantu mengatasi perihal ini, pembimbing bisa mempunyai rekan sejawat yang dapat memberikan support serta rasa empati. 

"Bangun organisasi rekan sejawat yang dapat menawarkan support dan empati, lantaran mereka memahami tantangan unik dalam mengajar. Ini tidak hanya memberi pembimbing tempat kondusif untuk berbagi dan menemukan pengertian, tetapi juga dapat memberikan buahpikiran untuk mengelola depresi dan langkah mengatasi stres mengenai pekerjaan," tutur pekerja sosial, Steve Carleton.

4. Mengambil jarak singkat

Salah satu langkah sigap untuk mengurangi burnout adalah menjauh sejenak dari pekerjaan. Cara ini juga bertindak di lingkungan sekolah, Bunda.

"Beristirahat sejenak dari mengajar dapat memberi waktu untuk beristirahat dan menata ulang diri. Ini bisa berupa liburan, pergi akhir pekan, alias apalagi beberapa hari rehat di rumah," kata Steve Carleton.

5. Pertimbangkan pindah sekolah

Terkadang, pembimbing tidak peduli seberapa keras usahanya untuk mengatasi burnout, terlebih lagi jika lingkungan kerjanya tidak mendukung. Apabila situasi di sekolah tidak bisa berubah, mungkin sudah saatnya mencari kesempatan mengajar baru di tempat lain.

Demikianlah penjelasan mengenai burnout pada pembimbing yang sering terabaikan di kalangan pendidik.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/rap)

Selengkapnya