Calon Suami Atau Istri Ada Hubungan Keluarga, Bolehkah Dinikahi? Perhatikan Ketentuan Ini

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA – Fenomena inses tetap marak terjadi di beragam bagian dunia, termasuk di Indonesia. Inses namalain pernikahan sedarah ini merupakan sistem pernikahan antardua orang nan sedarah namalain tetap dalam satu garis keluarga. 

Secara norma positif di Indonesia, pernikahan sedarah sama sekali tidak diberikan ruang. Kendati demikian, faktanya inses ialah persetubuhan sedarah alias pernikahan sedarah tetap sering terjadi di Indonesia. Lalu gimana norma pernikahan sedarah dalam Islam?

Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Mukti Ali Qusyairi menjelaskan, pernikahan sedarah ini haram hukumnya dalam Islam.

Dalam Alquran telah ditegaskan bahwa umat Islam dilarang untuk menikah dengan orang nan mempunyai hubungan darah. Allah SWT berfirman: 

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ اُمَّهٰتُكُمْ وَبَنٰتُكُمْ وَاَخَوٰتُكُمْ وَعَمّٰتُكُمْ وَخٰلٰتُكُمْ وَبَنٰتُ الْاَخِ وَبَنٰتُ الْاُخْتِ وَاُمَّهٰتُكُمُ الّٰتِيْٓ اَرْضَعْنَكُمْ وَاَخَوٰتُكُمْ مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَاُمَّهٰتُ نِسَاۤىِٕكُمْ وَرَبَاۤىِٕبُكُمُ الّٰتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ مِّنْ نِّسَاۤىِٕكُمُ الّٰتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِنَّۖ فَاِنْ لَّمْ تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ ۖ وَحَلَاۤىِٕلُ اَبْنَاۤىِٕكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ اَصْلَابِكُمْۙ وَاَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ الْاُخْتَيْنِ اِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا  

Artinya: "Diharamkan atas Anda (menikahi) ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu, saudara-saudara wanita ayahmu, saudara-saudara wanita ibumu, anak-anak wanita dari kerabat laki-lakimu, anak-anak wanita dari kerabat perempuanmu, ibu nan menyusuimu, saudara-saudara perempuanmu sesusuan, ibu istri-istrimu (mertua), anak-anak wanita dari istrimu (anak tiri) nan dalam pemeliharaanmu) dari istri nan telah Anda campuri, tetapi jika Anda belum bercampur dengan istrimu itu (dan sudah Anda ceraikan), tidak berdosa bagimu (menikahinya), (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan pula) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua wanita nan bersaudara, selain (kejadian pada masa) nan telah lampau. Sesungguhnya Allah adalah Mahapengampun lagi Mahapenyayang" (QS An-Nisa' [4]: 23)

Kiai Mukti menjelaskan, dalam ayat tersebut Alquran sangat ketat dan jelas merinci siapa saja nan menjadi mahram (haram dinikahi). Menurut dia, orang-orang nan tidak boleh dinikahi tersebut disebabkan oleh beberapa sebab.

"Jadi nasab di dalam Islam itu ada nan dengan karena dilahirkan, ada juga nan dengan karena disusui, itu nan mengakibatkan keharaman," ucap lulusan Universitas Al Azhar Mesir ini. 

Menurut dia, ayat di atas juga menjelaskan satu perihal bahwa penyusuan anak (ar-radha’ah) dapat menyebabkan ikatan kemahraman, ialah wanita nan menyusui dan garis keturunannya haram dinikahi oleh anak nan disusuinya. 

Selain itu, ada juga orang menjadi mahram lantaran disebabkan sebuah pernikahan. Sehingga, haram menikahi mertua laki-laki maupun perempuan. Kemudian, haram juga menikahi tante alias om dari istri/suami, selain jika sudah bercerai.

"Jadi jika tetap dalam pernikahan, haram menikahi tante istri alias tante istri, selain jika sudah pisah itu boleh dinikahi. Tapi jika mertua tetap dilarang dinikahi meskipun sudah cerai, lantaran tidak ada mantan mertua," kata Kiai Mukti.

Di samping itu, di Indonesia ada juga masyarakat nan mengangkat seseorang sebagai anaknya. Menurut Kiai Mukti, pengangkatan anak dalam fikih Islam dikenal dengan julukan tabanni.

Lalu bolehkah menikah dengan ibu nan mengangkat seorang anak? 

Kiai Mukti mengatakan, dalam Islam boleh menikah dengan ibu angkatnya. Namun, dalam menentukan hukumnya kudu dijelaskan lebih dulu dari mana asal usul anak angkatnya tersebut. Karena, bisa jadi anak angkat itu mempunyai hubungan mahram dengan orang tua angkatnya.  

Maka, jika anak angkat itu adalah anak nan mempunyai hubungan mahram dengan orang tua angkatnya maka diharamkan menikahinya lantaran hubungan mahram tersebut. Sebagai contoh, seorang wanita nan mengambil keponakan laki-lakinya (anak laki-laki dari adik alias kakaknya) sebagai anak angkat. 

Antara wanita dan keponakan laki-lakinya tersebut jelas mempunyai hubungan nasab nan menjadikan si keponakan sebagai mahramnya si perempuan. Dalam perihal ini maka keponakan laki-laki haram dinikahi oleh wanita nan menjadi orang tua angkatnya itu. Keharaman ini bukan dari status si laki-laki sebagai anak angkat namun lantaran sebagai mahram.

Sementara, jika anak angkat itu tidak mempunyai hubungan mahram dengan orang tua angkatnya maka diperbolehkan bagi keduanya untuk menikah. "Jadi itu boleh dengan menikah ibu angkatnya (yang tidak mempunyai hubungan mahram)," jelas Kiai Mukti. 

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam