Cara Dzikir Yang Benar Di Bulan Ramadhan Menurut Quraish Shihab

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia Dzikir merupakan salah satu amalan nan dianjurkan di bulan Ramadhan. Namun, banyak orang nan berdzikir tetapi hanya terpaku kepada beberapa aktivitas tertentu, padahal sangatlah luas langkah melakukannya. Lalu, selama ini apakah sudah betul pengamalan dzikir kita? Nah berikut langkah dzikir nan betul di bulan Ramadhan menurut Quraish Shihab.

Hakikatnya, saat bulan puasa segala kebaikan shaleh dilipatgandakan pahalanya, terhapusnya dosa orang nan bertaubat, dan segala kemuliaan lainnya nan dilimpahkan Allah Swt. secara unik di bulan suci ini. Salah satunya mendapatkan kemuliaan itu dengan langkah berdzikir.

Salah satu dari rekomendasi di dalam konteks puasa adalah dzikir. Tentu saja jika dzikir maka gandengannya adala fikir. Dua perihal ini fikir dalam corak tafakur alias dzikir dalam corak tadzakkur sangat mudah sekali. Akan tetapi sayangnya tidak banyak orang melakukannya secara benar.

Saking mudahnya, kita bisa melakukan kapan dan dimana saja, tetapi kita sering mengabaikannya. Biasanya, jika bulan Ramadhan nan paling banyak dilakukan adalah membaca al-Qur’an, shalat tarawih dan jika mempunyai rezeki lebih seseorang bakal memberikan buka puasa gratis.

Namun demikian, ada banyak orang nan salah mengerti tentang dzikir (dzikrullah). Difikirnya, bahwa dzikir itu hanya Subhanallah, Alhamdulillah dan Masyaallah, padahal tidak seperti itu (bukan hanya itu). Dzikrullah itu mengigat alias menyebut. Jadi dzikir bia mengingat alias menyebut. Apa nan Anda sebut bisa mengingatkan orang lain, dan apa nan Anda ingat bisa Anda sebut.

Memang, kita diperintahkan untuk berdzikirlah, sebut-sebutlah dan ingat-ingatlah Allah Swt. dengan dzikir nan banyak. Dzikrullah alias menyebut nama Allah itu bisa dengan menyebut nama-Nya, Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim. Bisa juga dengan menyebut perbuatannya. Misalnya dengan menyebut “Oh hebatnya alam raya ini”.

Tidak hanya itu, bisa juga dengan mengingat hari-hari Tuhan. Apa itu hari-hari Tuhan? Adalah hari-hari di mana tampak dengan jelas kekuasaan Tuhan. Misalnya, tsunami, gempa, gunung meletus dan lainnya. Itulah kekuasaan Tuhan. Termasuk ingat juga pada proklamasi kemerdekaan adalah nikmat nan sangat luar biasa.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَٰلِقٍ غَيْرُ ٱللَّهِ يَرْزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ ۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

Artinya: “Hai manusia, ingatlah bakal nikmat Allah kepadamu. Adakah pembuat selain Allah nan dapat memberikan rezeki kepada Anda dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah Anda beralih (dari ketauhidan)?” (QS. Fatir [35]: 3).

Lebih dari itu, mengenang tokoh-tokoh (sepeti menceritakan Rasul) nan baik juga termasuk dzikrullah (selama Anda kaitkan dengan Allah Swt). Membaca menyangkut semua perihal ini adalah dzikrullah nan sangat dahsyat. Itulah aliran agama. Anda bisa di mana dan kapan pun untuk melakukannya. Ini sebagaimana dinyatakan al-Qur’an surat Ali Imran ayat 191, Allah Swt. berfirman:

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ۝١٩١

Artinya: “(yaitu) orang-orang nan mengingat Allah sembari berdiri, duduk, alias dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang pembuatan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari balasan neraka.” (QS. Ali Imran [3]: 191).

Dari sini kita tahu, bahwa ketika al-Qur’an menganjurkan untuk kita berdzikir berfaedah bukan perintah mengaji saja (sekalipun termasuk dzikir), melainkan ada banyak bentuk-bentuk dzikir nan kita mengetahuinya. Bahwa segala sesuatu nan terbentang di alam raya ini (dan sesuatu nan terjadi di dalamnya) bisa kita jadikan jangkar untuk berdzikir kepada Allah Swt.

Syahdan. Kegiatan nan kita lakukan alias orang lain melakukannya nan berada diluar kontrolnya pun juga dituntut untuk berdzikir. Misalnya seperti bersin. Begitu seseorang nan bersin berbicara Alhamdulillah, maka Anda menjawab Yarhamukallah.

Tentang tafakkur. Anda juga bisa lakukan dimanapun dan kapanpun saja. Cobalah sisakan waktu sejenak untuk merenung. Sebuah hadits menyatakan:

فِكْرَةُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً

Artinya: “Berpikir sejenak lebih baik daripada ibadah selama 60 tahun.”

Gunakanlah apa nan Anda ketahui untuk meraih apa nan Anda tidak tahu. Itu artinya, jangan jadikan bulan Ramadhan ini hanya pada hal-hal nan biasa kita lakukan setiap hari. Lakukanlah ibadah-ibadah alias dzikir nan bisa menambah pahala Anda nan tidak hanya berfokus kepada ngaji dan ngaji.

Tak sedikit dari kita nan berbicara “kita mau beribadah”. Sayangnya, sebagian dari kita banyak nan mempersempit makna ibadah. Tentu saja ini lantaran kesalahpahaman nan diakibatkan oleh ahli-ahli fiqh (hukum). Mengingat, sebagian masyarakat kita itu hukum oreinted (halal dan haram).

Ahli-ahli fiqh ketika menulis kitab norma Islam dan Fiqh dia bagi dalam sekian bab nan berbeda-beda. Secara umum bisa kita katakan ibadah, muamalah, jinayah. Iya kan. Baru ibadah dia hanya sebut empat (baru satu diikutkan dalam ibadah) shalat, puasa, amal dan haji. Tetapi berbincang norma shalat, puasa, amal dan haji plus thaharah (bersuci) wudhu. Itu ibadah dalam fiqh. Apakah melayani anak dan suamu termasuk ibadah? Jawabannya ibadah.

Kata Quraish Shihab, ibadah bukan hanya ini. Salahnya kita dalam memahami ibadah itu dalam pengertian nan keliru. Jika ditelisik kata ibadah berasal dari kata “abd”, abdullah, hamba Allah. Ini nan populer. Namun, sebenarnya, kata “abd” itu digunakan oleh bahasa dalam tiga arti.

Pertama, patuh-kepatuhan nan boleh jadi lantaran dorongan takut, mengharap dan boleh lantaran dorongan cinta. Kedua, “abd” bisa juga berfaedah tumbuhan nan mempunyai aroma nan harum. Ketiga, “abd” bisa juga berfaedah perangkat nan digunakan untuk sesuatu tombak kecil. Ini dari segi bahasa.

“Abd” juga bisa kata jadiannya ubudiyyah dan bisa kata jadiannya ibadah. Hamba sahaya itu adalah abd. Tentunya sikap nan dilakukan dan dituntut darinya itu adalah ketaatan kepada tuannya (harus alim pada tuannya), sehingga apa dilakukannya itu disebut ubudiyyah.

Dalam perihal ini berbeda dengan ibadah. Kalau ibadah adalah ketundukan nan luar biasa kepada sesuatu nan Anda takuti luar biasa, alias kagum luar biasa nan Anda tidak tahu hakikatnya. Jadi tidak ada ibadah kepada makhluk, melainkan ibadah itu hanya kepada Allah Swt., dan Anda tidak tahu prinsip Allah Swt. (ibadah alias ubudiyyah ada kaitannya dengan hati, seperti cinta. Itu artinya, jika tidak ada kaitannya dengan hati maka itu tidak dinamai ibadah).

Sederhananya, dzikir sangatlah dianjurkan dalam bulan Ramadhan, namun tidaklah terbatas hanya dengan membaca al-Qur’an alias kalimat tertentu. Mengingat Allah Swt. bukanlah perihal nan susah dengan menjadikan seluruh nan ada di alam raya ini sebagai jangkar untuk berdzikir kepada-Nya, dimanapun dan kapanpun. 

Demikian tata langkah dzikir nan betul bulan Ramadhan menurut Quraish Shihab. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawab.[Baca juga: Bolehkah Niat Puasa Ramadhan di Siang Hari?]

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah