Cara Islam Menghadapi Permasalahan Hidup: Bukan Dengan Putus Asa

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Manusia adalah makhluk sosial nan hidup dalam lingkungan nan kompleks, di mana masalah ekonomi dan family seringkali menjadi pusat perhatian. Ekonomi mempengaruhi langkah manusia memenuhi kebutuhan dasarnya, sedangkan family merupakan unit terkecil dalam struktur sosial nan mempengaruhi perkembangan individu. 

Keduanya saling mengenai dan mempengaruhi kehidupan manusia secara signifikan.

Masalah ekonomi mempunyai akibat nan mendalam pada kehidupan manusia. Ketersediaan sumber daya ekonomi, seperti uang, pekerjaan, dan akses terhadap pelayanan kesehatan dan pendidikan, secara langsung mempengaruhi kesejahteraan perseorangan dan keluarga. 

Ketika seseorang alias family mengalami kesulitan ekonomi, perihal ini dapat menyebabkan stres, ketidakstabilan finansial, apalagi kemiskinan. 

Dalam situasi seperti ini, prioritas kehidupan sehari-hari, seperti makanan, perumahan, dan pendidikan, menjadi susah dipenuhi, nan pada gilirannya dapat mempengaruhi kesehatan bentuk dan mental perseorangan serta hubungan dalam keluarga.

Maka, ketika menghadapi masalah hidup berupaya merupakan suatu langkah nan krusial dan tidak dapat diabaikan. 

Berikhtiar menunjukkan kemauan dan upaya aktif untuk mencari solusi alias mengatasi tantangan nan dihadapi. Tanpa upaya dan tindakan konkret, masalah tersebut mungkin bakal terus bersambung alias apalagi memburuk.

Berikhtiar adalah manifestasi dari kepercayaan bahwa kita mempunyai kendali atas hidup kita sendiri. Meskipun ada banyak perihal di luar kendali kita, seperti kejadian tak terduga alias kondisi eksternal, namun berupaya memungkinkan kita untuk bertindak sesuai dengan kapabilitas dan sumber daya nan kita miliki. 

Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Hai orang-orang nan beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang nan sabar. (Q.S Al-Baqarah: 153). 

Tafsir Kementerian Agama RI menjelaskan kandungan ayat tersebut adalah sebagai berikut:

Tidak saja melimpahkan nikmat-Nya, Allah juga menimpakan beragam ujian kepada orang nan beriman. Karena itu, Allah meminta mereka bersabar dan terus melaksanakan salat. Wahai orang-orang nan beriman! mohonlah pertolongan kepada Allah, baik dalam rangka melaksanakan kewajiban, menjauhi larangan, maupun menghadapi cobaan, ialah dengan sabar dan salat nan disertai rasa khusyuk, sungguh, Allah beserta orang-orang nan sabar dengan memberikan pertolongan dan keteguhan hati dalam menghadapi segala cobaandi antara ujian nan dihadapi orang mukmin dalam mempertahankan keagamaan mereka adalah bertempur melawan kaum kafir.

Jangan-lah Anda mengatakan bahwa orang-orang nan terbunuh di jalan Allah, mereka telah mati. Sebenarnya mereka hidup, tetapi Anda tidak menyadari-Nya. Mereka hidup di alam nan lain. Mereka mendapat kenikmatan nan demikian besar dari Allah.

Oleh lantaran itu, menghadapi persoalan dengan sabar dan bermohon kepada Allah adalah tindakan nan dianjurkan. 

Setiap persoalan pasti ada jalan keluarnya, maka setiap orang kudu berupaya mencari jalan keluar dari setiap persoalan dan terus meminta pertolongan Allah agar senantiasa diberi kemudahan dalam setiap urusannya. 

Begitupun dalam Surat Al-Ankabut ayat 69 nan berbunyi:

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Orang-orang nan berupaya untuk (memperoleh) kami, betul-betul bakal kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Sesungguhnya Allah betul-betul beserta orang-orang nan melakukan baik. 

Ayat di atas menekankan pentingnya upaya dan upaya dalam menghadapi permasalahan, dengan kepercayaan bahwa Allah bakal membimbing mereka nan berusaha.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam