Cara Memperoleh Ridha Allah Di Bulan Ramadhan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia– Memperoleh ridha Allah adalah tujuan utama bagi banyak umat Islam, terutama di bulan Ramadhan nan dianggap sebagai bulan penuh berkah dan ampunan. Berikut adalah beberapa langkah nan dapat membantu seseorang memperoleh ridha Allah di bulan Ramadhan.

Ramadhan adalah bulan spesial dimana pahala dilipatgandakan, sehingga umat muslim berlomba-lomba beragama dan melakukan kebaikan di Ramadhan. Tentunya, sebagai muslim nan paling diharapkan adalah diterimanya kebaikan perbuatannya. Namun, alangkah lebih baik lagi jika mendapatkan pula ridha Allah Swt. Bagaimana langkah untuk mendapat ridha Allah di Ramadhan? Dan apa nan sebaiknya dilakukan di bulan ini?

Sebenarnya, puasa adalah upaya meneladani sifat-sifat Allah Swt. Kebutuhan manusia alias kebutuhan fa’ali manusia adalah makan, minum dan hubungan suami istri. Dia tetap punya kebutuhan-kebutuhan nan lain, tetapi kebutuhan bakal makan dan minum itu bisa ditangguhkan sementara oleh manusia dalam beberapa waktu.

Berbeda halnya dengan keahlian bernafas. Kita tidak mungkin bisa tahan tidak menghirup oksigen. Kebutuhan fa’ali manusia nan bisa ditangguhkan dalam waktu tertentu adalah makan dan minum. Demikian juga dia dapat mengendalikan kebutuhan seksualnya. Allah Swt. tidak makan, minum dan tidak mempunyai pasangan.

Inilah nan pertama diteladani oleh manusia dari sifat Allah Swt. sesuai dengan keahlian manusia. Allah Swt. mengukur bahwa rata-rata manusia bisa tidak makan, minum dan tentu lebih bisa lagi tidak melakukan hubungan seks. Makan dan minum ditaksir normalnya sebutlah 12 jam.

Maka dengan demikian, Allah Swt. menetapkan bahwa puasa tidak makan, minum dan seterusnya dimulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Sekalipun tetap bisa lebih dari itu. Buktinya, kata Quraish Shihab, ada orang di Eropa nan mungkin puasanya sampai 14 dan 15 jam.

Meneladani sifat-sifat Allah Swt

Bukan hanya ini nan mestinya diteladani dari segi hukum (hukum), tetapi dari segi substansi nan dikehendaki oleh kepercayaan adalah meneladani sifat-sifat Allah Swt. Meneladani gimana Dia Maha Pemaaf, Maha Mengetahui, Menahan amarah, Maha Dermawan, tak terkecuali Maha Kaya. Kayanya Allah bukan dalam makna mempunyai materi nan banyak, tetapi kayanya Allah itu Dia tidak memerlukan sesuatu apapun.

Artinya, manusia mempunyai kebutuhan  dan Allah Swt. tidak butuh sesuatu apapun untuk wujud-Nya, serta tidak butuh sesuatu untuk kelanjutan wujud-Nya. Berbeda dengan manusia butuh Allah untuk mewujudkan kita, setelah diwujudkan kita tetap mempunyai kebutuhan untuk kelanjutan hidup.

Jadi, ghaniyy dalam bahasa kepercayaan bagi manusia adalah sedikit sekali kebutuhannya. Semakin sedikit kebutuhan Anda, maka semakin tidak butuh Anda. Semakin kaya Anda, maka semakin banyak kekayaan Anda. Tetapi Anda tetap merasa butuh. Itu sebabnya, kekayaan 360 derajat lingkaran. Lingkaran walaupun mini itu 360 derajat, dan lingkaran meski besar tapi tidak melingkar itu tidak 360 derajat. Inilah sebenarnya nan mau kita teladani.

Sekarang banyak orang punya kekayaan banyak tapi miskin. Tidak sedikit orang nan tidak punya kekayaan tidak mau mengulurkan tangan. Dalam al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 273 dinyatakan:

لِلْفُقَرَاۤءِ الَّذِيْنَ اُحْصِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ ضَرْبًا فِى الْاَرْضِۖ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ اَغْنِيَاۤءَ مِنَ التَّعَفُّفِۚ تَعْرِفُهُمْ بِسِيْمٰهُمْۚ لَا يَسْـَٔلُوْنَ النَّاسَ اِلْحَافًاۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌࣖ ۝٢٧٣

Artinya: “(Apa pun nan Anda infakkan) diperuntukkan bagi orang-orang fakir nan terhalang (usahanya lantaran jihad) di jalan Allah dan mereka tidak dapat berupaya di bumi. Orang nan tidak mengetahuinya mengira bahwa mereka adalah orang-orang kaya lantaran mereka memelihara diri dari mengemis. Engkau (Nabi Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya (karena) mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. Kebaikan apa pun nan Anda infakkan, sesungguhnya Allah Maha Tahu tentang itu. (QS. Al-Baqarah [2]: 273).

Nabi pernah berfirman sebelum masuknya bulan Ramadhan “Sebentar lagi bakal datang mengunjungimu bulan Ramadhan, di sana ada satu malam nan lebih mulia dan lebih baik dari 1000 bulan, ialah Lailatul Qadar. Dalam bulan ini hendaklah kalian melakukan empat hal. Dua dari nan empat itu jika Anda lakukan Allah ridha dan senang pada kamu. Dan dua lagi jangan tidak Anda tidak meraihnya. Dua perihal nan menjadikan Tuhan ridha kepada Anda adalah hendaklah kalian bersaksi bahwa tidak tidak ada Tuhan selain Allah dan memohon maghfirah-Nya. Dua lainnya nan jangan tidak Anda tidak meraihnya pada bulan ini adalah minta agar kalian memperoleh surga dan terhindar dari neraka.”

Tak heran, jika orang-orang tua dulu kala setelah menjelang buka puasa dia bakal membaca:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْأَلُكَ الجَنَّةَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

Artinya: “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan nan berkuasa disembah selain Allah dan saya memohon pembebasan pada Allah, saya meminta surga dan meminta perlindungan dari neraka.”

Boleh jadi kita membacanya, bakal tetapi ada banyak orang nan tidak tahu maksudnya. Jadi kita hanya membaca. Padahal, sebenarnya tidak semuda itu Allah Swt. ridha dan tidak semuda itu dapat surga hanya dengan angan “Ya Allah kasih saya surga”.

Jadi ada makna nan sangat dalam sekali. Ketika Rasulullah Saw. berbicara dan bersyahadat. Nabi Saw. pernah bersabda:

 وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا قَالَ أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ 

Artinya: “Dan Rasulullah Saw. bersabda: “Perbaharuilah ketaatan kalian”, maka ditanyakan kepada beliau; Bagaimana kami memperbaharui ketaatan kami wahai Rasulullah? Nabi bersabda: “Perbanyaklah mengucapkan, La Ilaha illallah” (HR. Ahmad).

Ilaha adalah nan menguasai alam raya ini dan nan mengaturnya, menguasai hidup dan matinya manusia. Artinya, tidak ada nan menguasai dan mengatur alam raya ini selain Allah Swt. Kata Quraish Shihab, inilah nan kudu ditanamkan di hati kita selama bulan Ramadhan penuh bahwa, penguasa absolut adalah Allah Swt.

Dalam perihal ini bukan hanya sekedar tidak ada nan disembah selain Allah Swt. Hingga pada akhirnya dia bakal mengalir di darah dan pikiran kita dan sampai pada puncaknya sebagaimana nan di alami oleh Rasulullah Saw.

Suatu waktu Nabi sedang bersandar di bawah pohon dan pedangnya juga berada di situ. Rupanya beliau terlena dan pedangnya ada nan mengambil. Tiba-tiba saja nan mengambil bilang “Siapa nan bisa menyelamatkan Anda dari pedang ini?” Nabi menjawab “Allah Swt.” Akhirnya orang itu seketika gemetar dan pedangnya terjatuh. Nabi berbicara “Sekarang siapa nan bisa?” Dia pun malu lampau meninggalkan Nabi.

Jelasnya, tidak ada sesuatu nan terjadi selain Allah Swt. menghendakinya. Karena itu, Nabi berpesan “Jika Anda meminta maka mintalah kepada Allah Swt., dan ketika memohon perlindungan maka mohonlah kepada Allah Swt.” Sekali lagi, tanamkan perihal ini selama bulan Ramadhan maka Allah Swt. bakal ridha dan senang kepada kita. Jadi Allah Swt. puas.

Tentang Lailatul Qadar. Ia adalah tamu agung. Ia hanya bakal datang berjamu kepada orang nan dia anggap sudah siap menyambutnya. Kalau tidak siap maka dia tidak bakal pernah datang. Dan tentu saja dalam menyambutnya bukan hanya satu malam apalagi satu jam. Tidak. Setidaknya, persiapan itu paling tidak sejak awal Ramadhan. Misalnya dengan langkah memperbanyak baca syahadat, istighfar dan tentunya juga memperbanyak amal-amal shaleh dalam segala hal.

Kenapa kudu memperbanyak baca syahadat? Sebab, kepercayaan kita kepada Allah Swt. tidak sempurna. Seringkali dalam akal kita ada nan terlintas sesuatu nan mengurangi penghormatan kita kepada Allah Swt. Boleh jadi nan terlintas rasa-perasaan nan tidak sesuai dengan kebesaran Allah Swt.

Atau menggeruduk dan memprotes kenapa si A kaya dan saya tidak. Bahkan, menduga bahwa ada selain Tuhan nan berkuasa. Inilah nan mengurangi makna syahadat. Dan untuk membersihkannya maka kudu memperbanyak baca syahadat. Demikian juga dengan istighfar. Di Ramadhan inilah tempat kita untuk membersihkannya.

Demikian penjelasan tentang langkah memperoleh Ridha Allah di bulan Ramadhan. Semoga kita semua termasuk orang nan mendapatkan pembebasan dan ridha Allah. Wallahu a’lam bisshawab.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah