Cara Mendapatkan Pahala Tanpa Beramal

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Di antara corak kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah dengan memberikan kemudahan dan banyak langkah kepada hamba-hamba-Nya dalam mengumpulkan pahala sebagai bekal untuk menyambut hari akhirat. Ketika seseorang beramal dengan ibadah saleh, maka Allah bakal melipatgandakan pahalanya menjadi sepuluh kali lipat, tujuh ratus kali lipat, apalagi tanpa batas, sesuai kadar niat dan keikhlasan seseorang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ

“Setiap ibadah kebaikan nan dilakukan oleh manusia bakal dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan nan semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali ibadah puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri nan bakal membalasnya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ternyata, selain dengan beramal, kita bisa mendapatkan pahala nan banyak seperti sabda di atas meski tidak beramal dengannya. Berikut beberapa langkah agar kita bisa mendapatkan pahala meski tidak dengan beramal.

Pertama, menjadi karena seseorang untuk beramal

Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

“Barangsiapa nan menunjuki kepada kebaikan (kepada orang lain), maka dia bakal mendapatkan pahala seperti pahala orang nan mengerjakannya.” (HR. Muslim)

Maka, siapa saja nan menginformasikan suatu pengetahuan agama, alias poster aktivitas agama, donasi, wakaf, sedekah, dan semisalnya, tatkala ada orang nan beramal dengan karena mengetahui info tersebut dengan mengamalkan pengetahuan kepercayaan nan diperoleh, datang ke pengajian, alias menyalurkan hartanya di jalan Allah, dia bakal mendapatkan pahala meski tidak melakukannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

مَنْ جَهَّز غَازِياً فِي سَبِيلِ الله فَقَد غَزَا، وَمَنْ خَلَّف غَازِياً في أهلِه بخَير فقَد غزَا

“Siapa nan mempersiapkan bekal untuk orang nan bertempur di jalan Allah, maka dia dianggap betul-betul telah (ikut) berperang. Dan barangsiapa nan mengurus family orang nan bertempur di jalan Allah, maka dia dianggap betul-betul telah (ikut) berperang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca juga: Kiat-Kiat Ikhlaskan Niat, Gandakan Pahala

Kedua, berkeinginan kuat mengerjakan suatu amal

Orang dengan keadaan kedua ini, dia bisa mengerjakan suatu amal. Akan tetapi, lantaran suatu hal, terhalangi untuk beramal.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً

“Barangsiapa nan beriktikad (bertekad kuat) melakukan kebaikan lampau tidak (jadi) mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan (pahala) nan sempurna.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Niat nan dimaksud dalam sabda tersebut adalah niat dengan tekad nan kuat dan jujur, bukan sekedar khayalan belaka. Misalnya, ada orang nan beriktikad memberikan infak ke masjid. Qadarullah sampai di masjid dia lupa membawa alias terjatuh dompetnya di perjalanan. Maka, dia sudah dicatat pahalanya di sisi Allah Ta’ala.

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

“Barangsiapa nan bermohon pada Allah dengan jujur agar bisa meninggal syahid, maka Allah bakal memberinya kedudukan syahid meski kelak matinya di atas ranjangnya.” (HR. Muslim)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنِ امْرِئٍ تَكُونُ لَهُ صَلاَةٌ بِلَيْلٍ فَغَلَبَهُ عَلَيْهَا نَوْمٌ إِلاَّ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ صَلاَتِهِ وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ

“Tidaklah seseorang berkeinginan untuk bangun melaksanakan salat malam, namun kantuk mengalahkannya (sehingga tertidur), maka Allah tetap mencatat pahala salat malam untuknya dan tidurnya tadi dianggap sebagai infak untuknya.” (HR. An-Nasai no. 1784)

Ketiga, berambisi nan jujur untuk beramal

Orang dengan keadaan ketiga ini berbeda dengan jenis nan kedua tadi. Jika nan kedua dia memang bisa untuk beramal namun terhalangi, sedang nan ketiga ini memang dari awal tidak mempunyai keahlian dari segi kekayaan dan ilmu, tetapi berambisi jika mempunyai salah satunya bakal beramal dengannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالاً وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِى فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِى مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِى مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لاَ يَتَّقِى فِيهِ رَبَّهُ وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلاَ يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِى مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

“Dunia telah diberikan pada empat orang:

Orang pertama, diberikan rezeki dan pengetahuan oleh Allah. Ia kemudian bertakwa dengan kekayaan tadi kepada-Nya, menjalin hubungan dengan kerabatnya, dan dia pun tahu tanggungjawab nan dia mesti tunaikan pada Allah. Inilah sebaik-baik kedudukan.

Orang kedua, diberikan pengetahuan oleh Allah, namun tidak diberi rezeki berupa kekayaan oleh Allah. Akan tetapi, dia punya kemauan sembari berujar, ‘Seandainya saya mempunyai harta, saya bakal beramal seperti si fulan.’ Orang ini bakal mendapatkan nan dia niatkan. Pahalanya pun sama dengan orang nan pertama.

Orang ketiga, diberikan rezeki oleh Allah berupa harta, namun tidak diberikan ilmu. Ia akhirnya menyia-nyiakan hartanya tanpa dasar ilmu. Ia pun tidak bertakwa dengan kekayaan tadi pada Rabbnya dan dia juga tidak mengetahui tanggungjawab nan mesti dia lakukan pada Allah. Orang ini menempati sejelek-jelek kedudukan.

Orang keempat, tidak diberikan rezeki oleh Allah berupa kekayaan maupun ilmu. Dan dia pun berujar, ‘Seandainya saya mempunyai harta, maka saya bakal berfoya-foya dengannya.’ Orang ini bakal mendapatkan nan dia niatkan. Dosanya pun sama dengan orang ketiga.” (HR. Tirmidzi no. 2325)

Semoga bermanfaat.

Baca juga: Ibadah: Semakin Bermanfaat, Semakin Berpahala

***

Penulis: Arif  Muhammad N.

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah