Cara Nabi Muhammad Saw Menghadapi Fitnah

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Fitnah adalah perkataan alias ucapan nan menanggung ketidakejujuran nan diucapkan alias disampaikan dengan tujuan mencela, merusak nama baik, dan mendiskreditkan seseorang. 

Salah satu unsur tuduhan adalah ghibah dan namimah

Ghibah diambil dari kata ghaib nan artinya tidak datang alias tidak nampak. Jika seseorang menyebut sesuatu nan tidak disenangi oleh orang lain ketika orang itu tidak ada dihadapannya, maka itu disebut dengan ghibah. Sedangkan namimah adalah memperkeruh hubungan antara dua orang alias lebih. 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ

Wahai orang-orang nan beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah Anda mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara Anda nan menggunjing sebagian nan lain. (QS. Al-Hujurat: 12).

Dalam salah satu kisah istri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, ialah Aisyah radhiyallahu anhu nan saat itu sempat mendapatkan tuduhan selingkuh dengan Shafwan bin Al-Mu’aththal As-Sulami. 

Tuduhan perselingkuhan itu terjadi pada masa hidup Nabi Muhammad SAW dan tercatat dalam sejarah dengan peristiwa nan dikenal sebagai "Insiden Ifk" alias "Kebohongan". 

Pada suatu perjalanan kembali dari perang, rombongan Rasulullah SAW beristirahat di sebuah tempat nan disebut dengan Wadi al-Qura. Saat itulah, Aisyah tidak sengaja tertinggal saat perjalanan kembali ke Madinah. 

Seorang sahabat nan diberi tanggung jawab untuk menjaga Aisyah, Safwan bin Al-Muattal, menemukan Aisyah dan membawa kembali ke Madinah dengan selamat.

Namun, kejadian tersebut dijadikan bahan oleh sebagian kaum munafik dan penentang Islam untuk menimbulkan tuduhan terhadap Aisyah serta mengganggu kehormatan beliau. Tuduhan tuduhan ini, nan menuduh Aisyah melakukan tercela dengan Safwan bin Al-Muattal, menyebar luas di kalangan masyarakat Madinah.

Nabi Muhammad SAW, nan sangat mencintai Aisyah radhiyallahu anhu sangat terpukul oleh tuduhan tersebut. Namun, beliau tetap menunggu kebenaran dan bukti nan jelas sebelum mengambil tindakan apapun. 

Di samping itu, Aisyah merasa kebingungan kudu melakukan seperti apa. Jika dia mengakui bahwa itu adalah fitnah, bisa jadi semua orang tidak bakal mempercayainya lantaran tuduhan tersebut sudah menyebar secara luas.

Akhirnya Aisyah memutuskan untuk tak bersuara saja dan menunggu pertolongan dari Allah SWT. 

Kemudian Allah memberikan bukti kebenaran dalam corak wahyu nan turun dan membebaskan Aisyah dari tuduhan tersebut melalui Surat An-Nur ayat 11 nan berbunyi:

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang nan membawa buletin bohong itu adalah dari golongan Anda juga. Janganlah Anda kira bahwa buletin bohong itu jelek bagi Anda apalagi dia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat jawaban dari dosa nan dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka nan mengambil bahagian nan terbesar dalam penyiaran buletin bohong itu baginya balasan nan besar. (QS. An-Nur: 11).

Maka. dari pelajaran nan bisa diambil dari kisah Aisyah adalah ketika mendapatkan tuduhan alias tuduhan dari orang lain, sebaik-baiknya sikap nan kudu diambil adalah tak bersuara tanpa melakukan pembenaran. 

Menghadapi tuduhan dengan tak bersuara melibatkan pemilihan untuk tidak memberikan reaksi nan berlebihan alias sebaliknya menanggapi tuduhan dengan tenang dan dengan minim intervensi.

Diam juga dapat dilihat sebagai kebijakan non-partisipasi dalam perang kata alias bentrok verbal. Dengan tidak memberikan reaksi terhadap fitnah, seseorang dapat menghindari memperburuk situasi dan mengurangi kemungkinan eskalasi konflik. 

Dalam konteks ini, tak bersuara bukan dianggap sebagai tanda kelemahan, tetapi tindakan nan pandai untuk mempertahankan kedamaian dan harmoni.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam