Cara Rukuk Dan Sujud Dalam Salat Sambil Duduk Atau Berbaring

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Salat sunah merupakan ibadah nan sangat penting, nan perlu dikerjakan secara berkelanjutan. Oleh lantaran itu, diperbolehkan melakukan salat sunah sembari duduk, meskipun bisa berdiri. Karena jika diwajibkan untuk berdiri, maka bakal susah untuk membiasakan kebaikan ini.

Selain itu, banyak orang merasa kesulitan untuk berdiri lama. Jika berdiri diwajibkan (dalam salat sunah), maka kebanyakan salat sunah bakal ditinggalkan. Oleh lantaran itu, kreator hukum memberi keringanan untuk tidak berdiri di dalamnya sebagai dorongan untuk memperbanyak salat sunah, sebagaimana keringanan untuk melakukannya di atas kendaraan saat bepergian. [1]

Diperbolehkannya salat sunah sembari duduk

Baik lantaran ada uzur alias tidak ada uzur, diperbolehkannya salat sunah sembari duduk.

Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang salat seseorang sembari duduk. Beliau bersabda,

مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَل وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ، وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ

“Barangsiapa salat sembari berdiri, maka itu lebih utama. Dan barangsiapa salat sembari duduk, maka baginya separuh pahala orang nan berdiri. Dan barangsiapa salat sembari tidur, maka baginya separuh pahala orang nan duduk.” [2]

Para ustadz sepakat tentang diperbolehkannya salat sunah sembari duduk baik lantaran ada uzur alias tidak ada uzur. [3]

Cara rukuk dan sujud dalam salat sembari duduk

Orang nan salat dengan duduk, boleh baginya memilih antara berdiri alias duduk saat rukuk dan sujud. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan keduanya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan,

أَنَّ رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي جَالِسًا، فَيَقْرَأُ وَهُوَ جَالِسٌ، فَإِذَا بَقِيَ مِنْ قِرَاءَتِهِ قَدْرُ مَا يَكُونُ ثَلَاثِينَ أَوْ أَرْبَعِينَ آيَةً، قَامَ فَقَرَأَ وَهُوَ قَائِمٌ، ثُمَّ رَكَعَ، ثُمَّ سَجَدَ، ثُمَّ يَفْعَل فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْل ذَلِكَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam salat sembari duduk, beliau membaca (Al-Qur’an) sembari duduk. Ketika bacaannya tersisa sekitar tiga puluh alias empat puluh ayat, beliau berdiri, lampau membaca sembari berdiri. Kemudian rukuk, lampau sujud, kemudian melakukan perihal nan sama pada rakaat kedua.” [4]

Dan dalam sabda nan lain, tetap dari Aisyah radhiyallahu ‘anha [5], beliau menceritakan,

أَنَّ رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي لَيْلاً طَوِيلاً قَائِمًا، وَلَيْلاً طَوِيلاً قَاعِدًا، وَكَانَ إِذَا قَرَأَ وَهُوَ قَائِمٌ رَكَعَ وَسَجَدَ وَهُوَ قَائِمٌ، وَإِذَا قَرَأَ وَهُوَ قَاعِدٌ رَكَعَ وَسَجَدَ وَهُوَ قَاعِدٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa salat malam dalam waktu lama sembari berdiri, dan dalam waktu lama sembari duduk. Ketika beliau membaca sembari berdiri, beliau rukuk dan sujud sembari berdiri. Dan ketika beliau membaca sembari duduk, beliau rukuk dan sujud sembari duduk.” [6]

Salat sunah sembari berebahan dan langkah rukuk dan sujud di dalamnya

Sebagian ustadz beranggapan bolehnya seseorang salat sunah sembari berbaring, walaupun dia bisa berdiri alias duduk.

Dalil dari perihal tersebut adalah sabda dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, nan ketika itu mengalami sakit bisul, dia berkata, “Saya bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang salat seseorang sembari duduk, maka beliau bersabda,

مَن صَلَّى قَائِمًا فَهو أفْضَلُ، ومَن صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أجْرِ القَائِمِ، ومَن صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أجْرِ القَاعِدِ

‘Barangsiapa salat sembari berdiri, maka itu lebih utama. Dan barangsiapa salat sembari duduk, maka baginya separuh pahala orang nan berdiri. Dan barangsiapa salat sembari tidur, maka baginya separuh pahala orang nan duduk.’” [7]

Setelah membawakan sabda di atas, Imam Nawawi rahimahullah mengatakan,

والمراد بالنائم المضطجع. ولو تنفل مضطجعا بالإيماء بالرأس مع قدرته على القيام والقعود فوجهان

(أحدهما) لا تصح صلاته لأنه يذهب صورتها بغير عذر وهذا أرجحهما عند إمام الحرمين والثاني وهو الصحيح صحتها لحديث عمران.

“Yang dimaksud dengan tidur (dalam sabda di atas) adalah berebahan (miring). Jika seseorang salat sunah sembari berebahan dengan memberi isyarat kepala (ketika rukuk dan sujud), padahal bisa berdiri dan duduk, maka ada dua pendapat:

(Pertama) Salatnya tidak sah lantaran menghilangkan corak salat tanpa uzur, dan ini nan lebih kuat menurut Imam al-Haramain.

(Kedua) Dan ini nan benar, salatnya sah berasas sabda Imran (di atas).” [8]

Baca juga: Tatacara Bersuci untuk Salat Ketika di Pesawat

Salat wajib tidak boleh dilakukan sembari duduk alias berbaring, selain ada uzur

Semua nan disebutkan di atas adalah untuk salat sunah. Adapun salat wajib, para ustadz sepakat bahwa berdiri adalah rukun di dalam salat bagi nan mampu.

Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku menderita wasir, maka saya bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang salat, maka beliau bersabda,

صَل قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

“Salatlah sembari berdiri! Jika tidak mampu, maka sembari duduk. Jika tidak mampu, maka sembari berebahan miring.” [9]

Para ustadz sepakat bahwa berdiri adalah rukun dalam salat wajib bagi nan bisa melakukannya. [10]

Dalam salat wajib, rukuk dan sujud tidak gugur lantaran tidak bisa berdiri

Barangsiapa nan tidak bisa berdiri dalam salat wajib, maka dia boleh salat sembari duduk, tetapi rukuk dan sujud tidak gugur darinya jika dia bisa melakukannya. Demikian juga, barangsiapa nan bisa berdiri tetapi tidak bisa rukuk alias sujud, maka berdiri tidak gugur darinya. Maka, nan mudah tidak gugur lantaran nan sulit, sebagaimana kaedah,

الميسور لا يسقط بالمعسور

“Sesuatu nan mudah tidak gugur lantaran sesuatu nan sulit.”

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,

[ومن قَدَرَ على القِيَامِ، وعَجَزَ عن الرُّكُوعِ أو السُّجُودِ، ‌لم ‌يَسْقُطْ ‌عنه ‌القِيَامُ]، ويُصَلِّى قائِمًا، فَيُومِئُ بالرُّكُوعِ، ثم يَجْلِسُ فَيُومِئُ بالسُّجُودِ

“Barangsiapa nan bisa berdiri, tetapi tidak bisa rukuk alias sujud, maka berdiri tidak gugur darinya. Dia salat sembari berdiri, lampau memberi isyarat dengan rukuk, kemudian duduk, lampau memberi isyarat dengan sujud.” [11]

Penjelasan rinci tentang bab ini telah disebutkan oleh para ustadz dalam norma salat orang nan mempunyai uzur.

Ringkasan dari penjelasan di atas

Pertama: Dalam salat wajib, tidak boleh beranjak dari satu posisi ke posisi nan lebih rendah, selain ada uzur. Sedangkan dalam salat sunah, boleh (walaupun tanpa uzur) beranjak ke posisi salat sembari duduk dan berebahan dengan syarat tidak berebahan telentang.

Kedua: Rukuk dan sujud tidak mengenai dengan berdiri dalam salat wajib. Sehingga jika bisa melakukan rukuk dan sujud, keduanya tidak gugur, meskipun tidak bisa berdiri. Adapun dalam salat sunah, keduanya mengikuti posisi berdiri. Jika berdiri ditinggalkan, maka boleh meninggalkan rukuk dan sujud sembari berdiri (meskipun mampu). [12]

Catatan tentang salat sunah sembari berbaring

Pertama: Jumhur ustadz beranggapan bahwa salat sunah sembari berebahan tidak diperbolehkan.

Ibnu Taimiyah berkata, “Salat sunnah sembari berebahan tanpa uzur tidak diperbolehkan, selain oleh sekelompok mini dari pengikut Syafi’i dan Ahmad. Dan kami tidak mendapatkan riwayat dari salah satu dari mereka bahwa mereka salat sembari berebahan tanpa uzur. Dan jika ini diperbolehkan, tentu mereka bakal melakukannya.” [13]

Oleh lantaran itu, hendaknya perihal ini tidak sering dipraktikkan, apalagi dijadikan sebagai kebiasaan. Wallahu a’lam.

Kedua: nan dimaksud dengan berebahan adalah berebahan miring.

Jika seseorang berebahan telentang, padahal bisa berebahan miring, maka salatnya tidak sah. [14]

Demikian penjelasan ringkas, dan insyaAllah menyeluruh, tentang langkah rukuk dan sujud dalam salat sembari duduk alias berbaring. Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah bagi Nabi Muhammad, keluarga, dan pengikut beliau.

Baca juga: Hukum Bertayamum untuk Salat ketika Safar

***

14 Zulkaidah 1445, Rumdin Ponpes Ibnu Abbas Assalafy Sragen.

Penulis: Prasetyo, S.Kom.

Artikel: Muslim.or.id

Referensi utama:

Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, Tim Ulama Kuwait, Dar Shofwah – Mesir, cet. ke-1, 1421 (Maktabah Syamilah)

Al-Mughni, Abdullah bin Ahmad Ibnu Qudamah, Dar Alamil Kutub – Saudi, cet. ke-3, 1417 (Maktabah Syamilah)

Catatan kaki:

[1] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 27: 161.

[2] HR. Bukhari (Fath Al-Bari, 2: 586.)

[3] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 34: 109.

[4] HR. Muslim (1: 505 – cetakan Halabi)

[5] HR. Muslim (1: 504 – cetakan Halabi)

[6] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 27: 161-162.

[7] HR. Bukhari no. 1116.

[8] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 3: 275.

[9] HR. Bukhari (Fath Al-Bari, 2: 587, cetakan Salafiyah)

[10] Al-Mughni, 1: 463, Lihat juga Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 34: 106.

[11] Al-Mughni, 2: 572.

[12] https://nahrjari.com.sa/ar/node/610

[13] Al-Nukat wa Al-Fawaid Al-Sunniyah, 1: 87 dari Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah, 27: 163. Lihat juga https://dorar.net/feqhia/1283

[14] Syarh Al-Nawawi ‘ala Muslim, 6: 15.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah