Cerai Halal Tapi Dibenci Allah Swt, Ini Haditsnya

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA,JAKARTA -- Agama Islam sesungguhnya tidak melarang perceraian, tapi melakukan pisah sangat dibenci oleh Allah SWT. Hal ini sebagaimana nan disampaikan Nabi Muhammad SAW bahwa talak alias pisah adalah perbuatan legal nan paling dibenci oleh Allah SWT.

أَبْغَضُ الْحَلاَ لِ إِ لَي اللهِ الطَّلاَقِ 

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Abghdhul halaali ilallahi ath thalaaqu (Sesuatu nan legal tetapi paling Allah tidak suka adalah cerai).” (HR Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah)

Berdasarkan hadits Rasulullah SAW tersebut, dapat dipahami bahwa talak alias pisah adalah jalan pengganti terakhir alias sebagai pintu darurat nan boleh ditempuh jika rumah tangga tidak lagi dapat dipertahankan keutuhan dan kesinambungannya. Maka pada saat-saat seperti itu, kepercayaan Islam membolehkan penyelesaian satu-satunya nan terpaksa kudu ditempuh.

Peristiwa perceraian di Indonesia cukup banyak terjadi, kebanyakan lantaran aspek ekonomi. Sebagai contoh kasus perceraian di Kabupaten Indramayu tercatat sangat tinggi. Alasan ekonomi menjadi aspek dominan penyebab perpisahan di antara pasangan suami istri di wilayah tersebut. 

Berdasarkan info Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Indramayu, sepanjang 2023 lalu, tercatat ada 8.869 permohonan perceraian. Dari jumlah itu, sebanyak 7.931 perkara nan diputus alias dikabulkan pengadil untuk bercerai.

Humas PA Kabupaten Indramayu, Dindin Syarief Nurwahyudin, menyebutkan, perkara perceraian nan telah diputus tersebut terdiri dari 5.785 perkara pisah gugat dan 2.146 perkara adalah pisah talak. 

"Jadi nan paling banyak mengusulkan perceraian itu dari pihak istri," kata Dindin, Jumat (7/6/2024).

Dindin mengatakan, perkara perceraian nan diajukan selama 2023 itu meningkat sedikit dibandingkan pada 2022. Dia menyebutkan, sepanjang 2022, tercatat ada 7.771 perkara perceraian nan diputus.

Dindin menjelaskan, kebanyakan argumen perceraian nan disampaikan oleh pemohon adalah lantaran aspek ekonomi. Faktor ekonomi nan rendah akhirnya memicu perselisihan di antara suami dan istri hingga berujung perceraian.

"Ekonomi nan rendah juga mendorong salah satu pasangan, terutama istri, untuk bekerja ke luar negeri sebagai pekerja migran Indonesia (PMI)," jelas Dindin.

Dindin menegaskan, meski secara ekonomi bisa menjadi solusi, namun keberangkatan istri ke luar negeri untuk bekerja dalam waktu lama akhirnya mengganggu ketahanan rumah tangga mereka.

Dindin menambahkan, selain aspek ekonomi, penyebab terjadinya perceraian di antaranya juga lantaran kurang matangnya emosi suami dan istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Salah satu penyebabnya, lantaran usia mereka tetap di bawah umur saat menjalani pernikahan.

"Tahun lampau saya pernah menangani perkara, umur 16 tahun sudah cerai," ujar Dindin.

Dindin menyebutkan, secara keseluruhan, pasangan nan mengusulkan perceraian didominasi umur 22 sampai 30 tahun. Banyak nan mengusulkan perceraian, nan asalnya dari pengecualian kawin. Salah satu akibat negatif perkawinan di bawah umur adalah timbulnya perceraian,.

Dindin mengungkapkan, pihaknya tidak langsung mengabulkan begitu saja permohonan cerai. Pihaknya mengupayakan untuk mencegah perceraian dengan mengadakan mediasi di antara suami dan istri nan hendak bercerai.

"Dari PA upayakan mediasi. Tapi paling sepuluh persen (pasangan suami istri) nan datang untuk mediasi. Dari jumlah itu, nan sukses paling dua persen. Tapi ya itulah upaya kami di muara, nan efektif (mencegah perceraian) harusnya upayanya dari hulu," kata Dindin.

Dindin mengatakan, dibutuhkan upaya berbareng seluruh pemangku kepentingan untuk mencegah terjadinya perceraian. Termasuk peran tokoh agama, tokoh masyarakat, pembimbing di sekolah, orang tua dan masyarakat.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam