Jakarta -
Seorang anak laki-laki berjulukan Zorien Royce berumur 4 tahun dari Vernon Hills, Chicago, baru saja mencuri perhatian banyak orang lantaran prestasinya yang luar biasa.
Zorien pun menjadi salah satu orang termuda yang sukses diterima di Mensa, perkumpulan bergengsi bagi orang-orang dengan IQ tinggi, Bunda.
Dilansir dari laman People, Zorien Royce memperoleh skor 156 dari 160 pada Tes Kecerdasan Wechsler untuk anak-anak ketika baru berumur 3 tahun. Skor ini menempatkannya dalam kategori "sangat berbakat".
Saat ini, Zorien sudah bisa membaca setingkat kelas tiga SD dan berbilang dalam lima bahasa berbeda. Kemampuan ini membuatnya menonjol dibanding teman-teman seusianya, Bunda.
Selain Mensa, Zorien juga sukses diterima di Intertel, perkumpulan bergengsi lain untuk anak-anak dengan IQ tinggi.
Orang tua Zorien ceritakan kebiasaan dahsyat sang anak
Orang tua Zorien menceritakan bahwa putranya mempunyai minat yang beragam, termasuk sepak bola dan membaca buku. Minat ini membikin Zorien lebih konsentrasi memahami apa yang betul-betul disukainya.
"Dia suka sepak bola dan suka membaca buku. Jadi, sering kali, tujuan kami adalah memahami apa yang dia inginkan, bukan apa yang kami inginkan darinya," ujar Bunda Zorien, Monirupa Ananya, menilik dari People.
Keputusan untuk berasosiasi dengan Mensa pun lahir dari kebutuhan untuk menghargai keahlian Zorien. Monirupa Ananya menjelaskan sebagai orang tua, dirinya tidak mau sang anak merasa keahlian istimewanya itu diabaikan alias tidak cocok dengan lingkungannya.
Sejak kecil, orang tua Zorien sudah menyadari ada perihal yang berbeda dari putra mereka. Mereka memandang Zorien bisa menangkap hal-hal baru dengan sigap dan menyesuaikannya dalam kesehariannya.
Lebih dari itu, Zorien juga mempunyai ingatan yang kuat, Bunda. Nah, inilah yang membikin orang tua Zorien terkesan dengan keahlian belajarnya yang tampak begitu sigap dan mudah memahami konsep baru.
Zorien dinobatkan sebagai mahir matematika multibahasa
Direktur Pemasaran dan Komunikasi di American Mensa, Charles Brown, menyebut bahwa hanya 5 persen personil Mensa berumur di bawah 12 tahun. Ia menambahkan, American Mensa juga menyediakan beragam sumber daya bagi anak-anak yang berbakat dan orang tua mereka.
Tujuannya adalah untuk membantu agar bisa menghadapi lingkungan yang sering kali tidak disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan anak-anak berbakat.
Charles Brown menjelaskan salah satu tantangan yang dihadapi orang tua Zorien adalah mengenali talenta sang anak. Setelah itu, mereka mencoba menemukan langkah untuk mengembangkan keahlian spesial Zorien.
"Salah satu tantangan tersebut, yang diatasi oleh Naqib dan Monirupa, orang tua Zorien, adalah mengidentifikasi anak mereka sebagai berbakat dan kemudian mencari langkah untuk mengembangkan talenta tersebut," kata Charles Brown.
Nah, berita baiknya, baru-baru ini Mensa membagikan unggahan tentang Zorien di Instagram. Mereka menyebutnya sebagai "ahli matematika multibahasa" dan membuktikan bahwa ternyata keahlian belajar seseorang itu tidak mengenal pemisah usia lho, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·