Dajjal Berwujud Fisik Atau Kiasan Apapun Perusak Moralitas Umat? Ini Kata Prof Quraish

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA,  JAKARTA— Terdapat banyak hadits tentang Dajjal . Apa maksud Hadits-hadits ini, dan apakah Dajjal  sekarang telah ada? Apakah dia betul-betul bermata sebelah? Apakah makna api dan air. Dapatkah dia dipahami dalam makna kebenaran dan kebatilan? 

Dikutip dari Harian Republika, nan tayang pada tahun 2000, dalam Quraish Shihab Menjawab, Prof M Qurraish Shihab, menjelaskan hadits-hadits tentang Dajjal , cukup banyak antara lain diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim seperti nan Anda kutip di atas. 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلاَثِينَ، كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللهِ

“Tidak bakal terjadi hari Kiamat hingga dibangkitkan ‘dajjal-dajjal’ (para pendusta) nan jumlahnya mendekati tiga puluh, semuanya mengaku bahwa mereka adalah utusan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dajjal  nan terbesar adalah nan bakal datang menjelang hari kiamat. Pakar Hadits Ibnu Hajar dalam bukunya Fath Albary, berdasar sekian banyak riwayat nan berasal dari sahabat Nabi Abu Said Alkhudry, menyebut sekian banyak sifat dan keadaannya, antara lain bahwa Dajjal adalah seorang Yahudi, tidak mempunyai anak, tidak dapat masuk ke Makkah dan Madinah (HR Muslim), buta sebelah, mata sebelah kirinya berkilau ibaratkan bintang kejora. Ia bakal bangkit dari timur. Ada riwayat nan menyatakan dari Khurasan ada lagi dari Asfahan ialah wilayah Iran sekarang (HR Muslim).

Pada mulanya dia menampakkan kesalehan, kemudian mengaku Nabi dan terakhir mengaku sebagai Tuhan. Memang menurut riwayat dia mempunyai sekian keistimewaan nan dapat mengelabui manusia, tetapi nan menggunakan pikirannya tidak bakal terpedaya apalagi mengakuinya sebagai Tuhan alias nabi.

Berbeda-beda penilaian ustadz tentang riwayat-riwayat menyangkut Dajjal ini. Serta makna hadits-hadits Nabi SAW itu. Kelompok Ahl Sunnah lebih-lebih master hadits mengakui adanya apa nan dinamai Dajjal dan bahwa dia adalah satu sosok manusia nan menjerumuskan umat Islam, tetapi golongan Mu'tazilah nan condong sangat logis menolak kebenaran hadits-hadits itu.

Sebagian ahli filsafat kontemporer memahami hadits-hadits nan berbincang tentang Dajjal  dalam makna kondisi tertentu nan dialami masyarakat. Ada nan memahaminya dalam makna peradaban Barat dewasa ini.

Peradaban tersebut buta sebelah dalam makna hanya memandang satu sisi ialah sisi duniawi dan material dari kehidupan ini dan tidak memandang sisi ukhrawi serta hal-hal nan berkarakter spiritual. Ini mengantar manusia mempertuhan materi, lantaran terpengaruh olehnya apalagi memperturutkan dan mempertuhankannya. 

Apa nan diperlihatkan sebagai sesuatu nan baik pada hakikatnya adalah keburukan, demikian juga nan diperburuknya dapat merupakan sesuatu nan baik. 

Hemat penulis, nan mau memahaminya dalam makna hakiki, kita tetap dapat hidup tenang, alias tidak perlu terlalu cemas menghadapinya, lantaran menurut riwayat, Dajjal  baru bakal datang pada masa kekhalifahan Imam Mahdi nan ketika itu ibukota Islam adalah Qudus (Yerusalem) setelah kaum Muslimin sukses mengalahkan orang-orang Yahudi.

Melihat situasi bumi dewasa ini, perkembangan masalah Palestina, kekuatan orang-orang Yahudi dan pengaruhnya nan demikian besar, sikap masyarakat dan pemerintah Iran dewasa ini nan sangat antizionis, maka agaknya Dajjal dalam pengertian asasi itu, belum bakal muncul di tengah generasi kita dewasa ini. Kecuali jika kita memahami hadits-hadits itu dalam pengertian metafora,  ialah peradaban Barat dengan segala kekurangan dan bahayanya. Wallahua'lam

sumber : Harian Republika

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam