Dampak Ai, Harga Laptop Bisa Naik Hingga 40%

Mar 11, 2026 12:08 PM - 1 bulan yang lalu 14951

Pasar laptop kabarnya bakal menghadapi kenaikan nilai yang cukup signifikan dalam waktu dekat, di mana menurut kajian TrendForce, nilai laptop mainstream berpotensi meningkat hingga 40% akibat tekanan pada rantai pasokan komponen, terutama memori dan prosesor.

Nah kejadian ini tampaknya merupakan akibat lanjutan dari ledakan industri AI yang saat ini menyerap sebagian besar kapabilitas produksi chip di seluruh dunia.

Dan dikarenakan situasi pasar hardware sekarang berubah cukup drastis, jika tren kenaikan nilai komponen terus berlanjut, laptop mainstream dengan nilai sekitar $900 bisa mengalami kenaikan sekitar 30% hingga 40% dalam waktu dekat. Hal ini tentu terjadi lantaran meningkatnya biaya produksi yang kudu ditanggung oleh produsen.

Nah salah satu penyebab utama kenaikan nilai adalah lonjakan biaya memori, termasuk DRAM dan SSD lantaran sebelum booming AI, komponen memori hanya menyumbang sekitar 15% dari total biaya produksi laptop alias Bill of Materials / BOM, namun seperti yang kita tahu, dalam satu tahun terakhir, nomor tersebut diperkirakan melonjak menjadi lebih dari 30%.

Baca Juga : Harga RAM Melonjak Tajam, DDR5 Naik Hingga 440 Persen Sejak Juli 2025

Bahkan berasas laporan dari Toms Hardware, perusahaan seperti HP menyebut bahwa RAM sekarang bisa mencapai sekitar 35% dari total biaya produksi sebuah PC baru dan jika produsen mau mempertahankan margin untung mereka, jelas kenaikan biaya ini nyaris pasti bakal diteruskan ke konsumen dalam corak nilai jual yang lebih tinggi.

Harga CPU Juga Akan Ikut Naik

Nah masalahnya tidak berakhir disana guys, lantaran berasas laporan dari TrendForce, nilai prosesor juga tampaknya mulai mengalami kenaikan.

Beberapa CPU entry-level yang diproduksi oleh Intel disebut telah mengalami kenaikan nilai lebih dari 15%, selain itu, nilai prosesor kelas menengah hingga high-end juga diperkirakan bakal meningkat pada kuartal kedua tahun ini.

Penyebab utama tekanan ini jelas tentu adalah perubahan konsentrasi industri semikonduktor yang sekarang semakin berpusat pada AI dan Data Center berskala besar, sementara itu konsumen biasa bakal jadi korban terbesar lantaran kapabilitas produksi chip di beragam pabrik semikonduktor lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan AI tersebut.

Namun hingga saat ini tetap belum jelas apakah lonjakan nilai ini hanya berkarakter sementara alias bakal menjadi tren jangka panjang, jika chip untuk AI terus meningkat, kemungkinan tekanan pada industri juga bakal terus berlanjut.

Nah mari kita lihat nanti, untuk sementara jika tidak betul benar dibutuhkan, mungkin kita kudu memperkuat dengan spesifikasi yang ada dan menunda upgrade untuk menghemat biaya.

Tapi gimana menurutmu? komen dibawah guys.

Via : TrendForce


Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya berjuntai pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berbobot secara cuma-cuma — jadi jika Anda menikmati tulisan dan pedoman di situs ini, minta whitelist laman ini di AdBlock Anda sebagai corak support agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui support di Saweria. Terima kasih.

Written by

Gylang Satria

Tech writer yang sehari‑hari berkutat dengan Windows 11, Linux Ubuntu, dan Samsung S24. Punya pertanyaan alias butuh diskusi? Tag @gylang_satria di Disqus. Untuk kolaborasi, email saja ke [email protected]

Post navigation

Previous Post

Selengkapnya