Dampak Penyakit Dengki Dan Obatnya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Salah seorang ustadz dan cendikiawan ternama asal Turki, Badiuzzaman Said Nursi (1878-1960 M) mengungkapkan akibat penyakit dengki. Menurut dia, orang nan hatinya dipenuhi dengan kedengkian dan permusuhan terhadap sesama mukmin, selain menzalimi saudaranya seiman, sesungguhnya dia sedang menzalimi dirinya sendiri.

"Lebih dari itu, dia melampaui pemisah kasih sayang Ilahi. Sebab, dengan kedengkian dan permusuhan tersebut, dia menjatuhkan diri ke dalam penderitaan nan pedih, dan penderitaan itu bertambah perih jika memandang musuhnya mendapatkan kenikmatan; dia pun tersiksa akibat rasa takut terhadap sang musuh," kata Nursi dikutip dari bukunya Al-Maktubat, laman 446-447.

Jika permusuhan itu muncul akibat kedengkian, lanjut Nursi, balasannya adalah siksa nan pedih. Sebab, kedengkian membikin si pendengki lebih sakit daripada nan didengki.

"Kedengkian dapat membakar pelakunya dengan kobaran apinya, sementara orang nan didengki tidak dirugikan alias hanya menderita sedikit kerugian," kata Nursi.

Nursi pun mengungkapkan obat penawar dari penyakit dengki ini. Menurut dia, obat kedengkian adalah si pendengki kudu merenungkan akibat dari kedengkiannya dan hendaknya dia menyadari bahwa kekayaan, kekuatan, kedudukan, dan hal-hal duniawi nan dinikmati orang nan didengkinya hanya berkarakter sementara dan fana; manfaatnya pun sedikit, namun tantangannya besar.

Adapun jika kedengkian timbul akibat faktor-faktor nan berkarakter ukhrawi, sebenarnya itu bukanlah suatu kedengkian. Kalaupun ada emosi dengki nan timbul pada hal-hal nan berkarakter ukhrawi, bisa jadi si pendengki termasuk orang nan bertindak riya.

Hal itu bakal menghapus kebaikan ukhrawinya di dunia. Atau, si pendengki berprasangka jelek terhadap orang nan didengkinya sehingga dia menzaliminya.

Kemudian, orang nan mendengki sebenarnya tidak rela terhadap takdir dan rahmat Allah. Sebab, dia merasa kecewa atas karunia-Nya terhadap orang nan didengkinya dan merasa senang atas malapetaka nan menimpanya. Artinya, dia seakan-akan mengkritik takdir dan rahmat Allah.

"Sebagaimana diketahui barangsiapa mengkritik takdir Allah, dia laksana orang nan menanduk gunung; dan barangsiapa memprotes rahmat dan karunia Ilahi, dia bakal terhalang darinya," jelas Nursi.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam