Dinamika Dakwah Islam Di Tengah Kemajemukan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia– Islam adalah agama dakwah nan meminta seluruh umatnya untuk menyerukan agar masing-masing mendakwahkan aliran Islam. Dakwah Islam, termaktub al-Quran surat Yusuf ayat 108 Allah Swt. berfirman:

قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْۤ اَدْعُوْۤا اِلَى اللّٰهِ ۗ عَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَاۡ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَاۤ اَنَاۡ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, saya dan orang-orang nan mengikutiku membujuk (kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha Suci Allah, dan saya tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf [12]: 108).

Lalu apa nan dimaksud dengan Allah Swt., adalah jalan kepercayaan Islam (al-dhin al-islam), jalan nan lurus (as-shirah al-mustaqim). Jika kita mengikuti terjemahan as-shirat di dalam seluruh kitab-kitab kamus Bahasa Arab, kita bakal menemukan makna as-shirat bermakna “jalan nan lurus dan lebar”.

As-shirat sendiri juga berarti “menelan”. Lalu kenapa jalan nan lurus dan lebar itu disebut dengan menelan? Sebab, jalan menuju Allah Swt. bukanlah jalan nan sempit, melainkan jalan nan lebar dan luas. Ada banyanya jalan nan ditempuh oleh beragam perseorangan untuk menempuh perjumpaanya dengan Allah Swt.

Ada nan melangkah melalui jalan dakwah. Ada nan melangkah melalui jalan ta’lim dan ta’allum (belajar dan mengajar), apalagi melangkah dengan jalan sedekah, puasa, haji tak terkecuali jalan-jalan nan ditetapkan oleh Allah Swt. dengan contohnya yaitu, Nabi Muhammad Saw.

Tentu saja, bukan hanya Nabi nan membujuk menuju jalan Allah Swt., melainkan “Aku dan orang-orang nan mengikutiku.” Sebagian mufassir mengatakan bahwa nan dimaksud dengan “mengikutiku” itu adalah sahabat-sahabat Rasulullah Saw. Kenapa disebut dengan “Aku dan orang-orang nan mengikutiku”? Allah Swt. menegaskan di dalam surat Ali Imran 110 Allah Swt. berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

Artinya: “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik nan dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) nan makruf, dan mencegah dari nan mungkar, dan beragama kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada nan beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Ali Imran [3]: 110).

Jika dicari hirarki keagamaan nan paling kuat di tubuh umat Islam, siapa keimanannya nan paling sempurnah setelah Nabi Muhammad Saw., maka jawabannya adalah para sahabat-sahabat Nabi. Namun demikian, sebagian ustadz nan lain berbicara bahwa nan dimaksud dengan “mengikutiku” itu bukan hanya terbatas kepada para sahabat Nabi, melainkan kepada seluruh umat Islam. Nabi menegaskan “Sampaikan dariku walaupun satu ayat.”

Bagaimana langkah mendakwahkannya?

Allah Swt. berfirman dalam surat An-Nahl ayat 125 Allah Swt. berfirman:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran nan baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan langkah nan baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah nan lebih mengetahui siapa nan sesat dari jalan-Nya dan Dialah nan lebih mengetahui siapa nan mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl [16]: 125).

Dalam perihal ini rayuan itu kudu dengan langkah hikmah kebijaksanaan. Sebab, kata Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah, di dalam kitabnya I’lamul Muwaqi’in mengatakan bahwa salah satu dari pondasi hukum Islam adalah adalah hikmah kebijaksanaan. Itulah nan kemudian pada akhirnya menjelma di dalam butir pancasila “Hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”.

Tentu saja berupa nasehat-nasehat nan baik. Dan jika kudu ditempuh dengan obrolan maka berdiskusilah nan baik. Al-hikmah Al-Mauidhatil Hasanah Mujadalah Billati Hiya Ahsan adalah langkah kita di dalam mendakwahkan aliran Allah Swt. Itu artinya, dakwah Islam tidak boleh dengan langkah paksa-memaksa. Dalam al-Qur’an surah Al-Ghasyiyah dinyatakan:

فَذَكِّرْ ۗ اِنَّمَاۤ اَنْتَ مُذَكِّرٌ. لَـسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ 

Artinya: “Maka berilah peringatan, lantaran sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang nan berkuasa atas mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah [88]: 21-22).

Tak hanya itu, tidak boleh dakwah Islam disampaikan dengan laknat, apalagi dengan caci maki. Kata Nabi “Aku diutus bukan untuk melaknat dan mencaci maki.” Kita tahu prinsip dakwah adalah rayuan persuasi agar orang masuk ke dalam kepercayaan Islam. Dan begitu masuk Islam dibawah kembali kepada aliran tauhid, menjadi akhlaknya nan bagus. Al-Qur’an sudah menegaskan:

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

Artinya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, beradab pekerti nan luhur.” (QS. Al-Qalam [68]: 4).

Lalu apa nan membedakan manusia ketika berada dijalan Allah Swt.?

Jawabannya adalah semestinya dia mempunyai adab dan budi pekerti nan baik, terlebih lagi tidak menyombongkan diri dan lainnya. Bahwa sombong dengan ilmu, kekayaan (kekayaan), ibadah, banyaknya pengikuti, adabnya itu tidak boleh. Karena semuanya adalah titipan dari Allah Swt.

Ajakan untuk masuk ke dalam kepercayaan Allah adalah rayuan untuk bertauhid, tidak menyimpang, selain hanya kepada Allah Swt. Ajakan kepada budi pekerti nan luhur dan baik dan tidak sombong. Allah Swt. berfirman:

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـئًـا ۗ وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَ الْمَسٰكِيْنِ وَالْجَـارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَـارِ الْجُـنُبِ وَالصَّا حِبِ بِالْجَـنْبِۢ وَابْنِ السَّبِيْلِ ۙ وَمَا مَلَـكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًا 

Artinya: “Dan sembahlah Allah dan janganlah Anda mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan melakukan oke kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, kawan sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya nan Anda miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang nan sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’ [4]: 36).

Meskipun menghadapi beragam tantangan, dakwah Islam tetap menjadi bagian integral dari kehidupan umat Islam. Dengan tetap menjaga prinsip-prinsipnya dan terus berinovasi dalam metode dan strateginya, dakwah Islam dapat terus menyebarkan kasih, kebenaran, dan kebaikan kepercayaan Islam kepada seluruh umat manusia.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah