Jakarta -
Kisah menyentuh datang dari seorang Bunda berjulukan Ria Tapodoc West, yang membuktikan bahwa kepercayaan dan hatikecil seorang ibu bisa menjadi kekuatan luar biasa. Meski sempat divonis kehilangan janin, dia memilih untuk tidak menyerah dan keputusan itu berujung pada sebuah keajaiban yang mengubah hidupnya. Simak yuk Bunda kisahnya.
Ria Tapodoc, seorang wanita berumur 44 tahun yang tinggal di Dubai, mengalami momen yang sangat mengguncang saat master menyatakan bahwa debar jantung bayinya tidak dapat ditemukan.
Berdasarkan kalkulasi medis dari siklus menstruasi terakhirnya, usia kehamilan diperkirakan sudah mencapai enam hingga delapan minggu yang berfaedah debar jantung semestinya sudah bisa terdeteksi.
Kabar tersebut membuatnya panik, sedih, dan hancur. Ia segera menghubungi sang suami, Ian West, untuk datang ke klinik. Didampingi keluarga, Ria mencoba memahami penjelasan master sembari menahan tangis.
"Saya merasa panik, sedih, hancur, dan saya langsung menelepon suami saya untuk segera datang ke klinik. Ketika suami saya datang, kami kembali masuk ke ruang master kandungan, dan master menjelaskan beberapa perihal kepada kami," ujar Ria Tapodoc dikutip dari laman People.
Dokter kemudian menyarankan pemeriksaan lanjutan berupa tes darah untuk memantau kadar hormon hCG. Tes dilakukan dua kali dalam rentang waktu satu minggu untuk memandang apakah terjadi peningkatan yang menandakan kehamilan berkembang normal.
"Kami memutuskan untuk melakukan tes darah pada hari yang sama guna memeriksa kadar hCG saya saat itu juga, lampau melakukan tes lagi seminggu kemudian untuk memandang apakah kadarnya meningkat dua kali lipat sesuai rekomendasi dokter," katanya.
Lantaran tidak adanya debar jantung yang terdeteksi, Ria Tapodoc dihadapkan pada dua pilihan berat, menunggu keguguran alami alias menjalani prosedur dilatasi dan kuretase (D&C). Namun, Ria Tapodoc dan suaminya memilih untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan besar dan tetap melanjutkan rencana awal mereka untuk menikah di Seychelles.
Saat tiba di Seychelles, mereka memutuskan untuk mencari pendapat kedua dan menjalani tes darah. Tiga jam kemudian, mereka menerima hasilnya dengan perawat memberi tahu bahwa kadar hCG-nya tidak meningkat dan kehamilannya tidak dapat dipertahankan.
"Saya mulai menangis. Suami saya sangat sedih. Bisa dibilang hari pernikahan kami adalah hari terburuk!," kata Ria Tapodoc.
Meski hasil medis menunjukkan sebaliknya, Ria Tapodoc tetap percaya bahwa bayinya tetap ada. Keyakinan itu semakin kuat ketika dia kembali ke Dubai. Ia merasakan perubahan pada tubuhnya, termasuk mual dahsyat terhadap aroma bahan bakar sesuatu yang tidak biasa baginya sebagai awak kabin selama 15 tahun.
"Saya hanya tahu tubuh saya sedang hamil. Bau bahan bakar yang selama bertahun-tahun sudah biasa bagi saya, untuk pertama kalinya justru membikin saya sangat pusing dan mual hingga saya muntah di kantong abu-abu," tuturnya.
Perasaan itu mendorongnya untuk melakukan tes darah ketiga. Hasilnya mengejutkan, kadar hormon hCG tidak hanya meningkat dua kali lipat, tetapi apalagi tiga kali lipat. Dari titik itulah, kehamilan Ria mulai menunjukkan perkembangan yang sehat.
"Keesokan harinya, saya melakukan tes darah ketiga dan hormon saya tidak hanya meningkat dua kali lipat. (Kadar hormon) itu apalagi meningkat tiga kali lipat," kata Ria Tapodoc.
Setelah melalui ketidakpastian, akhirnya Ria dan suaminya mendengar debar jantung sang bayi untuk pertama kalinya. Momen tersebut menjadi titik kembali emosional yang tak terlupakan.
"Kali pertama kami mendengar debar jantungnya, kami berdua menangis. Rasanya luar biasa setelah beberapa kali dinyatakan tidak ada, lampau akhirnya bisa mendengar debar jantungnya untuk pertama kalinya. Itu tak terlupakan dan menjadi hari paling senang dalam hidup saya," ucap Ria Tapodoc.
Kisah Ria Tapodoc menjadi viral setelah dia membagikannya melalui video di Instagram. Dalam video tersebut, dia menunjukkan perjalanan emosionalnya dari divonis kehilangan janin hingga akhirnya memeluk putrinya yang sekarang berumur 6 tahun, Harper.
"Syukurlah saya mencari pendapat kedua! Hidup saya pasti bakal sangat berbeda sekarang. Pernahkah Anda diberi tahu ‘tidak’, tetapi jauh di dalam hati Anda merasa kenyataannya berbeda? Dalam kasus saya, saya sudah merasakan ikatan dengan Harper bahwa dia ada, meskipun saat itu dia tetap terlalu mini untuk apalagi bisa bergerak," tulisnya.
Enam tahun kemudian, ibu yang bangga ini mengatakan bahwa putrinya adalah gadis mini paling berdikari yang pernah ditemui.
Ria Tapodoc mengungkapkan rasa syukurnya lantaran tidak mengambil keputusan secara terburu-buru. Menurutnya, jika dia langsung percaya pada hasil awal, mungkin dia tidak bakal pernah mempunyai putrinya hari ini.
"Saya sangat berterima kasih mempunyai putri saya. Saya bisa saja kehilangannya hanya dengan memandang hasil pertama dan kedua dari USG serta tes darah saya. Sekarang, saya mau mengajarkan kepada putri saya tentang kekuatan ketahanan dan untuk tidak menyerah sampai semua kemungkinan telah dicoba," tuturnya.
“Menjadi seorang ibu mengajarkan saya bahwa hidup tidak selalu kudu sempurna, dan kadang bisa menghadirkan kejutan yang tak terduga. Yang terpenting adalah kemauan untuk hidup, tekad saya untuk berjuang dan memperkuat dalam mencapai tujuan saya," imbuh Ria Tapodoc.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·