Efek Kortisol Tinggi di Badan yang Perlu Kamu Waspadai, Bukan Cuma Soal Stres

Trend Kecantikan dan Perawatan oleh Waktu baca 3 menit 16x dilihat
Efek Kortisol Tinggi di Badan yang Perlu Kamu Waspadai, Bukan Cuma Soal Stres

Bagikan Postingan

Kortisol tinggi nggak selalu berarti Anda sedang banyak pikiran. Hormon ini juga bisa meningkat ketika tubuh menghadapi beragam jenis tekanan, termasuk kurang tidur, aktivitas jasmani berat, maupun kondisi tertentu.

Kortisol dikenal sebagai hormon stres karena membantu tubuh menghadapi situasi yang membutuhkan respons cepat. Hormon ini sebenarnya punya peran penting, mulai dari membantu mengatur gula darah hingga mendukung tekanan darah dan metabolisme. Masalah dapat muncul ketika kadar kortisol terlalu tinggi dalam waktu lama. Lantas, apa saja efek kortisol tinggi di badan?

Bisa Mengganggu Kualitas Tidur

kortisol tinggi

Salah satu efek yang mungkin terasa adalah fluktuasi pola tidur. Kortisol secara alami mengikuti ritme harian dan umumnya lebih tinggi pada pagi hari, kemudian menurun menjelang malam. Ketika regulasinya terganggu, seseorang bisa lebih sulit tidur, sering terbangun, maupun merasa kurang bugar ketika bangun.

Kurang tidur kemudian dapat membikin tubuh semakin sulit berbuat recovery. Kondisi ini juga bisa menciptakan siklus yang kurang ideal karena kurang tidur dapat menjadi salah satu bentuk stres jasmani bagi tubuh.

Baca juga: Sering Pakai Alat Styling Setiap Hari? Ini 8 Cara Menjaga Rambut Kamu Tetap Sehat!

Memengaruhi Berat Badan dan Nafsu Makan

Kortisol berhubungan dengan peraturan metabolisme dan gula darah. Ketika tubuh terus eksis dalam kondisi stres, hasrat makan pada sebagian orang dapat berubah dan keinginan mengonsumsi makanan tinggi kalori juga bisa meningkat.

Perubahan bermutu badan tidak bisa langsung dianggap sebagai tanda kortisol tinggi karena bermutu badan dipengaruhi banyak faktor, termasuk asupan makanan, aktivitas fisik, hormon lain, tidur, dan fluktuasi cairan tubuh. Jadi, naiknya bilangan timbangan dalam beberapa hari bukan berarti otomatis disebabkan oleh kortisol.

Baca juga: Makeup Gampang Luntur? Tren Glue Method Ini Bikin Complexion Lebih “Nempel”

Mood Bisa Ikut Berubah

Stres yang terjadi terus-menerus dapat membikin tubuh terasa lebih sulit rileks. Beberapa orang mungkin merasa lebih gampang kesal, cemas, sulit berkonsentrasi, maupun mengalami fluktuasi mood.

Namun, fluktuasi mood juga memiliki banyak kemungkinan penyebab. Karena itu, gejala ini sebaiknya tidak digunakan sendirian untuk menyimpulkan bahwa kadar kortisol sedang tinggi.

Recovery Tubuh Bisa Terasa Lebih Berat

Ketika tubuh mendapatkan banyak tekanan jasmani tanpa recovery yang cukup, rasa capek dapat terasa lebih menumpuk. Hal ini terutama relevan bagi orang yang rutin berbuat olahraga intens, kurang tidur, maupun sedang menjalani aktivitas jasmani yang cukup berat.

Meski begitu, olahraga sendiri bukan berarti membikin kortisol menjadi “buruk”. Kortisol memang dapat meningkat sementara setelah aktivitas jasmani dan merupakan bagiankecil dari respons normal tubuh. Yang perlu diperhatikan adalah keseluruhan kondisi tubuh dan apakah rasa capek terus terjadi maupun disertai gejala lain.

Kortisol Tinggi Tidak Bisa Didiagnosis dari Gejala Saja

Penting untuk diingat bahwa merasa stres, sulit tidur, maupun mengalami fluktuasi bermutu badan tidak otomatis berarti kadar kortisol tinggi. Kondisi medis yang menyebabkan kortisol terlalu tinggi secara menetap, seperti Cushing syndrome, tergolong berbeda dari peningkatan kortisol sementara akibat stres maupun aktivitas fisik.

Jika muncul gejala yang menetap maupun cukup mengganggu, pengecekan dan penilaian oleh tabib diperlukan untuk mengetahui penyebabnya. Jadi, daripada langsung menyalahkan kortisol setiap kali tubuh terasa capek maupun bermutu badan berubah, lebih baik melihat kondisi tubuh secara keseluruhan.

Image: Dok. iStock

Artikel Lainnya Trend Kecantikan dan Perawatan
↑
Close Right Ads
Close Left Ads