Emot Batu: Arti Dan Kisah Di Baliknya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Emot Batu – Apakah Grameds mengetahui makna emot batu nan belakangan ini kerap digunakan, baik ketika membagikan foto di sosial media maupun percakapan pribadi melalui chat? Meski tampak seperti ukiran batu biasa, tetapi rupanya batu ini mempunyai kisah uniknya tersendiri. Mari kita kupas lebih lanjut misteri dibalik emot batu, yuk simak tulisan berikut ini!

Arti Emot Batu

Dikutip dari laman resmi emoji guide, emot kepala batu digambarkan sebagai sebuah patung Moai raksasa sosok manusia nan terdapat di Pulau Paskah. Wajah datar dari emot kepala batu ini bisa diartikan sebagai ekspresi konyol, tabah, sebal, muka datar, dan lain sebagainya. Emot batu ini juga menjadi referensi dari patung berjulukan Moyai nan terletak di wilayah dekat stasiun Shibuya, Tokyo.

Moai adalah emoji nan sudah disetujui sebagai standar Unicode 6.0 sejak tahun 2010 silam. Munculnya emot kepala batu nan kerap kali diimbuhkan oleh para penunggu bumi maya tersebut viral saat ada unggahan suatu video lelucon nan dinilai kurang kocak di media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, hingga Twitter.

Ada juga netizen nan menganggap bahwa emot batu tersebut merupakan ekspresi seorang nan tampan dan pemberani merujuk pada salah satu bagian dari serial animasi “SpongeBob Squarepants” di mana Squidward dikatakan tampan saat mempunyai wajah nan mirip dengan patung Moai. Meski begitu, tak ada patokan unik nan mengikat perihal penggunaan maupun pemaknaan dari emot batu ini. Setiap orang dipersilakan menggunakan emoji ini untuk mengekspresikan perihal apa saja.

Apabila ditinjau dari segi warna dan bentuknya, emot batu mempunyai perbedaan di masing-masing platform. Bahkan, perbedaannya juga terdapat dari posisi wajahnya menghadap.

Emot kepala batu nan menghadap ke arah kanan dapat ditemukan di WhatsApp serta Messenger. Sementara itu, emot batu nan menghadap ke arah kiri dapat ditemukan di platform Samsung, Facebook, Google, Mozilla, serta Apple. Lain lagi dengan emot nan menghadap ke arah depan dapat ditemukan di Twitter.

Untuk penamaannya sendiri, di masing-masing platform juga berbeda. Nama nan disandang oleh emot batu ini diantaranya adalah Human Rock Carving, Moai, Moyai Statue, dan Easter Island.

Baca juga: 23 Arti Emoticon dari Cowok Saat Chatting, Simak Artinya Disini!

Patung Moai, Batu di Balik Emot Populer

Pulau Paskah  nan merupakan bagian dari negara Cile, tepatnya di bagian selatan Samudra Pasifik adalah salah satu pulau termisterius di seluruh dunia. Pulau ini apalagi masuk ke dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.

Mungkin Grameds sudah pernah mendengar jika di pesisir pulau Paskah ini terdapat ratusan patung raksasa nan telah berumur sekitar 400 tahun nan disebut dengan Moai. Moai adalah patung manusia nan jenisnya monolitis alias dipahat hanya dari satu buah batu. Meski begitu, ada pula Moai nan terdiri dari dua buah batu pahat nan menjadi penyusun antara bagian tubuh dengan kepalanya.

Sekarang ini, terdapat kurang lebih 887 Moai nan tersebar di pulau Paskah alias Rapa Nui, sebagaimana masyarakat lokal menamai pulau tersebut. Ada 13 Moai nan berdiri di dasar tempat ritual terbesar nan dinamakan Ahu Tongariki. Dengan patung-patung tersebut nan ukuranya terlalu besar serta tubuh tanpa kaki, dirasa bakal susah membayangkan langkah patung monolitik raksasa nan apalagi beratnya mencapai 88 ton serta dibangun sekitar 900 tahun silam dapat beranjak ke pulau terpencil ini.

Untuk mencari kebenaran unik di bumi lainnya, Grameds bisa menyimak kitab berikut ini!

1200 Fakta Unik Destinasi Wisata Dunia

Baca Juga: Daftar Negara Tersantai di Dunia untuk Wisata dan Healing

Cara Pembuatan Patung Moai

(Sumber foto: www.pexels.com)

Hampir seluruh patung tersebut dibuat di tambang batu vulkanik Rano Raraku sebelum akhirnya diletakkan di dasar batu berjulukan ahus nan terdapat di beragam titik di garis pantai pulau. Penelitian nan telah dilakukan menemukan bahwa patung-patung nan belum selesai ditambang serta patung-patung terbengkalai nan tergeletak di sisi jalan pulau nan tetap kudu dipindahkan mempunyai ukuran dasar nan lebih lebar andaikan dibandingkan dengan patung nan sudah berdiri tegap di atas ahus.

Hal nan mengejutkan adalah tubuh patung-patung tersebut condong ke depan sekitar 17 derajat nan menyebabkan pusat massa berada pas di atas tepi bawah depan, sehingga berbentuk membulat. Penyesuaian tersebut membikin patung dapat bergulir dari sisi ke sisi untuk diangkut ke tempat tujuan mereka.

Orang-orang Rapanui sebenarnya membikin struktur untuk dapat melakukan perihal nan sama. Ketika patung tersebut mengarah condong ke depan, maka bakal jatuh serta bergerak melintasi bagian depan dan melangkah maju. Saat “berjalan”, Moai dibantu menggunakan tali oleh sekelompok orang Rapanui di tiap-tiap sisi patung memimpin tangga, sedangkan sekelompok mini nan ada di belakang bekerja untuk memantapkan gerakan.

Saat patung sudah berada di ahus, pemahat bakal membikin mata serta membentuk kembali alasnya untuk disesuaikan dengan pusat massa nan memungkinkan patung dapat berdiri tegak dengan sendirinya. Mayoritas Moai dibuat di sebuah kawah gunung berapi nan telah punah berjulukan Rano Raraku nan dulunya berfaedah sebagai tempat tambang patung utama.

Menurut peneliti, Rapanui lebih memilih untuk membikin patung tersebut melangkah dibandingkan dengan menyeret maupun menggelindingkan di atas kayu gelondongan adalah dilihat dari segi kepraktisan. Patung-patung tersebut sangat berat dan bakal menghancurkan kayu gelondongan, sedangkan untuk menyeret patung sebesar itu memerlukan tenaga kerja nan sangat banyak. Di pulau terpencil, tandus, serta mempunyai sedikit sumber daya, membikin patung-patung itu melangkah merupakan metode nan efisien.

Mayoritas patung tersebut dibuat dari bahan dasar batu karang vulkanik nan dapat dengan mudah ditemukan di daerah Rano Raraku. Di Rano Raraku juga ada sekitar 400 patung Moai nan hancur maupun tidak terselesaikan. Patung-patung tersebut terlihat ditinggalkan begitu saja secara tiba-tiba oleh para pembuatnya. Sampai saat ini belum diketahui dengan jelas penyebab patung-patung berparas datar tersebut ditinggalkan dengan kondisi nan demikian.

Ada sebuah dugaan bahwa Pulau Paskah mulanya merupakan pusat dari peradaban nan diyakini sebagai peradaban modern dan sudah sangat tinggi, tetapi tiba-tiba hancur lantaran terjadi musibah alam nan melanda pulau tersebut. Ada pula nan menciptakan teori bahwa Moai dibangun oleh masyarakat kelas bawah dengan tujuan untuk menghormati masyarakat kelas atas.

Penduduk kelas bawah tersebut lampau memberontak dan menyebabkan sebuah perang besar antara kedua golongan nan berakibat hancurnya peradaban di Pulau Paskah. Pendapat tersebut dikuatkan dengan adanya penemuan dari beberapa peneliti nan baru-baru ini menemukan sisa-sisa senjata seperti mata panah serta pisau nan terdapat di gua-gua tersembunyi di Pulau Paskah.

Arti dan Fungsi Patung Moai

(Sumber foto: www.pexels.com)

Sampai saat ini, makna serta kegunaan patung Moai masih menjadi misteri apalagi bagi para arkeolog. Bahkan, belum ada nan mengetahui makna dari kata Moai. Pada beberapa patung Moai ditemukan huruf-huruf hieroglif nan mungkin berisi penjelasan perihal patung tersebut maupun pembuatnya. Akan tetapi, sampai saat ini belum ada arkeolog nan sukses menerjemahkannya.

Bagi orang Rapa Nui, ahu dan patung Moai adalah sumber kekuatan serta daya sipiritual nan keramat dan mempunyai sebuah larangan tersirat. Area nan berada di bawah ahu juga dijadikan sebagai kuburan bagi masyarakat Rapa Nui, berada langsung di pantai, serta sangat rentan terhadap erosi pantai sehingga banyak patung nan runtuh ke laut.

Ahu dan Moai adalah sebuah monumen sakral bagi orang Rapa Nui sekaligus merupakan sebuah pusat identitas serta pusat ekonomi pariwisata. Pada tahun 2022, terjadi kebakaran di pantai nan membikin patung-patung tersebut rentan runtuh ke laut. Rusak serta hilangnya ekspresi budaya Rapa Nui nan unik ini juga memberikan akibat pada kehidupan serta mata pencaharian dari penduduk setempat.

Legenda Patung Moai

Banyak sekali misteri dari Pulau Paskah terutama disebabkan lantaran keterasingannya. Hal tersebut menjadikan budaya serta sejarah dari Rapa Nui belum terurai dengan sepenuhnya nan membikin banyak sekali muncul mitos serta legenda dari Pulau Paskah. Kisah mitos dan legenda tersebut disampaikan secara lisan oleh masyarakat asli, kemudian dikumpulkan oleh visitor kuno. Akan tetapi, mitos-mitos nan umumnya berisi penjelasan dari peristiwa masa sudah dibumbui oleh khayalan baik dari pencerita maupun pendengarnya. Berikut, beberapa mitos dan legenda nan beredar mengenai patung Moai.

Bila Grameds tertarik dan mau mempelajari sejarah bumi lainnya, simaklah kitab berikut ini!

Sejarah Dunia Lengkap

Baca juga: 11 Rekomendasi Buku Sejarah Dunia Terbaik

1. Hotu Matu’a dan Tujuh Penjelajah

Ini merupakan salah saru legenda utama Rapanui dan berisi penjelasan mengenai pemukiman Pulau Paskah. Legenda menjelaskan bahwa Ariki (raja) Hotu Matu’a tinggal di sebuah tempat nan bagus berjulukan Hiva. Pada suatu malam, di dalam mimpinya dia memperoleh pesan bahwa tanah kekuasaannya bakal tenggelam, sehingga dia perlu mencari tempat untuk memindahkan rakyatnya. Berkat saran dari peramal nan bijak, Hotu Matu’a mengirim tujuh penjelajah untuk pergi menuju mentari pagi dan mencari tanah nan bisa digunakan untuk hidup dan menanam makanan pokok mereka, ialah ubi.

Setelah beberapa hari, ketujuh penjelajah tersebut tiba di sebuah pulau mini nan tidak berpenghuni dan terlihat cukup subur, sehingga pas untuk ditinggali. Dalam kisah tersebut, dikatakan bahwa selain ubi, para penjelajah juga membawa Moai dan sebuah kalung mutiara. Barang-barang tersebut ditinggalkan saat mereka kembali ke Hiva dan menyisakan satu penjelajah saja di pulau tersebut.

Beberapa minggu kemudian, Hotu Matu’a sampai di pulau tersebut berbareng dengan dua kapal besar nan berisi rombongan dari istri, kerabat perempuan, dan 100 orang lainnya. Sejak saat itu, pulau tersebut dinamakan sebagai Te pito o te henua nan berfaedah “pusat dunia”.

Legenda tersebut menjadi argumen dari beberapa peneliti nan mengatakan bahwa saat Hotu Matu’a sampai di Pulau Paskah, tempat tersebut sudah dihuni dibuktikan dengan ditemukannya ubi serta beberapa patung Moai. Ada nan meyakini bahwa ketujuh penjelajah tersebut merupakan simbol dari tujuh generasi alias suku nan tinggal di tempat tersebut, dan hanya ada satu nan sukses memperkuat dan bercampur dengan masyarakat Hotu Matu’a. Ketujuh penjelajah tersebut direpresentasikan oleh tujuh Moai yang berada di Ahu Akivi .

2. Telinga Panjang dan Telinga Pendek

Mitos Rapa Nui lainnya menjelaskan bahwa setelah kehadiran orang Polinesia terjadi sebuah imigrasi kontroversial lantaran karakter ras pendatang berbeda dengan karakter dari masyarakat asli. Pendatang baru mempunyai karakter nan lebih gagah serta kokoh dan dikenal sebagai Hanau E’epe alias “ras lebar”, nan merupakan kebalikan dari Hanau Momoko alias “ras kurus”.

Beberapa jenis menyebut bahwa Hanau E’epe mempunyai corak daun telinga nan sangat lebar dan dihubungkan dengan suku Inca, tak seperti Hanau Momoko nan tak mempunyai sifat tersebut, lantaran mereka merupakan keturunan Polinesia.

Meskipun demikian, peneliti lain mempunyai pendapat bahwa perbedaan antara kedua golongan tersebut pada dasarnya hanyalah terletak pada fisiknya saja. Maka dari itu, Hanau E’epe digolongkan sebagai kelas pekerja sedangkan Hanau Momoco merupakan kelas nan dominan. Bagi mereka, daun telinga nan diregangkan sebagai karakter unik Moai, tidak lain merupakan praktik umum nan apalagi banyak ditemukan di seluruh dunia.

3. Make-Make, Dewa Pencipta

Menurut legenda, setelah menciptakan Bumi, Make-Make merasa kesenyapan lantaran dia mengira ada sesuatu nan menghilang. Kemudian, dia memandang bayangannya di air, pada waktu itu datang seekor burung nan hinggap di bahunya untuk beristirahat. Make-Make merasa kagum dengan pantulan gambar nan menyatu tersebut. Lantas, dia memutuskan untuk menciptakan sebuah mahluk nan dijadikan sebagai putra sulungnya.

Kendati demikian, Make-Make tetap belum merasa puas dan mau membikin makhluk sepertinya nan mempunyai keahlian untuk berpikir dan berbicara. Upaya pertamanya adalah menyuburkan beberapa tanah, tetapi tidak berhasil. Lalu, dia menyuburkan air dan laut nan dipenuhi dengan ikan. Pada akhirnya, dia mencoba membuahi tanah liat merah dan dari situlah manusia tercipta. Akan tetapi, manusia dari tanah liat tersebut kesepian. Make-Make kemudian membikin manusia itu tertidur dan menciptakan seorang wanita nan berasal dari tulang rusuknya.

4. Moai Kava Kava

Legenda menjelaskan bahwa pada suatu hari, Ariki Tu’u Koihu nan merupakan putra tertua dari Hotu Matu’a, tengah melangkah pada tengah malam di Puna Pau saat dia menemukan dua roh, alias nan dinamakan aku, aku sedang tertidur di depannya. Setelah memandang dengan lebih dekat, dia menyadari bahwa roh tersebut mempunyai tubuh kerangka. Kemudian, dia memutuskan untuk pergi dan meninggalkan kedua roh tersebut. Meski demikian, saat mencoba lari, Tu’u Koihu malah membangunkan mereka dan membuatnya menjadi dikejar. Akibat rasa takut nan berlebih, Tu’u Koihu mencari pertolongan dan memberi tahu seseorang mengenai perihal nan dilihatnya.

Tu’u Koihu menyangkal bahwa dia pernah memerhatikan mereka, tetapi roh-roh tersebut tidak percaya dan memutuskan untuk terus mengawasinya selama dua hari dua malam. Melihat bahwa Tu’u Koihu tak memberi tahu siapa pun, lantas roh-roh tersebut memilih pergi. Begitu bebas dari roh, Tu’u Koihu kembali ke Tore Ta’hana dan mengukir di sepotong Kayu Toromiro mengenai dua sosok menyeramkan tidak berbentuk nan pernah dia lihat. Ini merupakan  sarana komunikasi nan ditemukan oleh Tu’u Koihu untuk memberi tahu kepada bumi mengenai perihal nan dia lihat.

Menurut tradisi, asal mula tercipranya Kava Kava Moais (“patung dengan tulang rusuk”) nan umumnya terbuat dari kayu dan digantung pada bagian dalam pintu depan, berfaedah untuk mengusir roh-roh jahat.

Itu dia beberapa legenda dan mitos mengenai dengan moai. Bila Grameds tertarik untuk belajar lebih lanjut mengenai apa saja nan ada di bumi ini, simaklah kitab berikut ini!

Wah, Unik Sekali! 100 Fakta Unik di Dunia

Kesimpulan

Emoji ini menunjukkan sebuah Moai yang merupakan patung batu raksasa sosok manusia di Pulau Paskah. Hal ini digunakan untuk ekspresi tabah, datar alias konyol. Moai sendiri merupakan patung manusia berjenis monolitis. Artinya dipahat dari satu buah batu saja. Meski begitu, ada juga Moai yang terdiri dari dua buah batu pahat nan menyusun bagian tubuh dan kepalanya.

Nah, itu dia Grameds penjelasan komplit mengenai emot batu dan patung dibaliknya. Sekarang sudah tak bingung lagi, kan?

Frequently Asked Question

1. Apa Nama Emot Batu?

Nama dari emot batu ini adalah Moai, merupakan simbol dari patung antik nan berada di pulau Paskah.

2. Apa Fungsi dari Emot Batu?

Fungsi dari penggunaan emot batu adalah untuk menunjukan ekspresi tabah, datar, maupun sekadar menunjukkan ekspresi konyol.

3. Bagaimana Cara Mencari Emot Batu di Handphone?

Untuk mencari emoji ini, Grameds dapat menggunakan kata kunci berikut: moai, moyai, patung, wajah.

Sumber Rujukan

  • https://id.emojiguide.com/objek/moai/
  • https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6440224/asal-usul-emoji-kepala-batu-patung-teman-yang-dicuri
  • https://www.kompas.com/tren/read/2022/10/18/100000765/sering-digunakan-apa-arti-emoji-kepala-batu-?page=all
  • https://www.kompas.tv/article/341253/jangan-asal-pakai-emoji-kepala-batu-ternyata-artinya-begini

Penulis

Nanda Akbar Gumilang

ePerpus adalah jasa perpustakaan digital masa sekarang nan mengusung konsep B2B. Kami datang untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan kitab dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk memandang laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Selengkapnya
Sumber Gramedia Official Blog
Gramedia Official Blog