Empat Overdosis Penyebab Hati Keracunan (bag. 1)

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Bagian 1: Overdosis bicara

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah nan lantaran nikmat-Nyalah sampai saat ini kita semua sudah dan tetap menjadi seorang muslim nan semoga selalu diberi hidayah.

Kondisi hati

Sebuah perihal nan familiar dan sering kita dapatkan dalam kajian-kajian tentang hati bahwasanya hati itu terbagi menjadi tiga berasas kondisinya, yaitu:

Pertama: Hati nan sehat

Yaitu, hati nan dengannya amalan-amalan diikhlaskan hanya untuk Allah dan terlepas dari beragam syahwat dan syubhat bumi beserta ranting dan cabang-cabangnya. Orang dengan hati inilah nan bakal selamat di hari hariakhir kelak.

Kedua: Hati nan mati

Kebalikan dari hati nan sehat. Hati nan meninggal adalah hati nan tidak mengenal Rabb-nya, dipenuhi oleh maksiat dan bekerja mengikuti syahwat serta hawa nafsu.

Ketiga: Hati nan sakit

Jenis hati nan ini berada di antara dua kondisi hati nan sehat dan hati nan mati, di mana di dalamnya terdapat ketaatan-ketaatan, bakal tetapi telah terkontaminasi oleh syahwat. Sehingga hati ini terkadang mengarahkan pada kebaikan dan ketaatan dan kadang pula mendorong pada keburukan dan kemaksiatan.

Hal-hal nan menyebabkan hati menjadi sakit

Ada banyak perihal nan membikin hati menjadi sehat, mati, apalagi sakit. Di antara nan menyebabkan sebuah hati kondisinya menjadi sakit adalah keracunan. Ada 4 macam racun hati nan paling luas persebarannya dan paling besar pengaruh juga pengaruh sampingnya pada kondisi hati. Empat racun tersebut berasal dari overdosis pada konsumsi hal-hal nan tidak begitu esensial, terlalu banyak dan melampaui kadar wajar nan seharusnya, sehingga berubah menjadi racun. Yaitu, overdosis/terlalu banyak bicara, overdosis melihat, overdosis makanan, serta overdosis bergaul.

Dalam kitab “Tazkiyatun Nufus” karya Syekh Dr. Ahmad Farid, racun-racun hati nan empat tersebut dinarasikan dengan kata “فضول” (dibaca: fudhul), nan secara bahasa Arab terdapat beberapa arti, seperti “rasa mau tahu nan berlebih” alias “keheranan bakal sesuatu” alias “sesuatu nan tidak berfaedah” alias juga “suatu lebihan alias sisa nan terlampau dari semestinya pada sesuatu”.

Kemudian dalam konteks ini, kata “فضول” dapat diartikan dengan “kelebihan alias terlalu banyak nan tidak ada gunanya”. Kemudian nan bakal digunakan pada kesempatan kali ini adalah kata “overdosis” dalam rangka mempersingkat dan mempermudah tersampaikannya makna pada pembaca.

Overdosis bicara

Selanjutnya, mari kita telaah satu per satu dari racun-racun nan disebabkan oleh overdosis tersebut. nan pertama adalah “overdosis bicara”.

Adalah suatu nikmat tiada tara, Allah nan telah menciptakan kita dan menjadikan manusia sebagai makhluk dengan rupa pembuatan nan paling bagus seperti nan difirmankan-Nya pada surah At-Tin ayat 4. Kemudian sebagai salah satu corak penyempurnaan pada surah Asy-Syams ayat 7 adalah sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Balad ayat 8-9,

أَلَمْ نَجْعَل لَّهُۥ عَيْنَيْنِ  وَلِسَانًۭا وَشَفَتَيْنِ 

“Bukankah Kami sudah menjadikan untuknya sepasang mata, lisan (lidah), dan sepasang bibir?” (QS. Al-Balad: 8-9)

Lisan disebutkan secara definitif dalam firman-Nya sebagai salah satu nikmat, corak penyempurnaan, nan kita pahami sebagai fasilitas, tidaklah secara cuma-cuma, melainkan lantaran memang lisan mempunyai peran sentral dalam berlangsungnya kehidupan manusia. Lisan mempunyai peran baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi, berfaedah sebagai perangkat komunikasi antar makhluk ataupun dengan Rabb, seperti dalam berdoa.

Kita tentu dapat saling memahami satu sama lain, di antaranya adalah melalui perkataan nan disampaikan oleh lisan nan berkedudukan sebagai translator bakal maksud dan kemauan hati dan pikiran kita. Bahkan, dengan perkataan, seorang muslim dan kafir dapat dibedakan, ialah melalui syahadatain yang diucapkan sebagai bukti keislaman seseorang.

Mirisnya, tetap banyak orang nan entah belum tahu, alias tidak tahu, alias sudah tahu, namun abai, ataupun bisa jadi tidak mau tahu sama sekali bakal sungguh besarnya efek-efek nan dihasilkan dari hanya sekadar ucapan nan kita ucapkan melalui lisan kita.

Tidak perlu memandang terlalu jauh. Kita cukup memandang ke diri sendiri, ke sekitar kita, juga ke gadget kita. Tentu banyak sekali ucapan-ucapan dan ujaran-ujaran nan tidak layak justru dinormalisasi. Jika kita kembali ke pengertian daripada “فضول” nan telah disampaikan di atas, maka “فضول الكلام” (dibaca: fudhul kalam) sebagai racun hati nan pertama dibahas ini dapat merujuk kepada di antara tiga perihal berikut:

Pertama: Terlalu banyak bicara, melampaui kadar dan porsi nan wajar.

Kedua: Bicara nan tidak bermanfaat.

Ketiga: Gabungan antara keduanya, banyak bicara nan tidak bermanfaat.

Sehingga, apa-apa nan termasuk ke dalam salah satu dari tiga kriteria di atas, maka sudah termasuk ke dalam racun hati ini dan kudu kita hindari.

Baca juga: Jangan Asal Bicara Agama Tanpa Ilmu

Bentuk-bentuk overdosis bicara

Di antara bentuk-bentuk fudhul kalam alias overdosis bicara nan marak terjadi yaitu:

Pertama: banyak bicara. Ini dapat kita pahami dengan mudah. Setiap banyak bicara pada dasarnya adalah tidak baik. Bahkan, tidak jarang seseorang nan mempunyai kepiawaian, setiap kali berbicara, justru melampaui porsi nan seharusnya. Sehingga mengaburkan maksud, mempersulit pendengar memahami, juga banyak membuang waktu.

Kedua: Bicara nan tidak perlu dan dilarang secara syariat. Seperti berbohong, gosip, adu domba, juga melebih-lebihkan alias mengurang-ngurangi dalam menyampaikan sesuatu, terutamanya ketika bercerita.

Ketiga: Toxic atau bicara kata-kata kasar. Termasuk pula nan tidak disebutkan secara jelas lantaran diplesetkan. Ketika kata tersebut tetap mengandung makna dan penggunaan nan sama, maka dihukumi sama. Dalam perihal ini, sudah menjadi virus terutama pada sebagian besar anak muda generasi sekarang nan seakan tidak dapat lepas dari beragam kata-kata kasar, padahal jelas-jelas tidak boleh lantaran selain tidak elok, juga mempunyai banyak akibat negatif.

Keempat: Termasuk pula menceritakan segala sesuatu nan dilihat ataupun didengarnya, lantaran sudah tidak sesuai porsi, tidak perlu, masuk kategori bohong pula, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,

كفى بالمرء كذبًا أن يحدّث بكل ما سَمِع

“Cukuplah seseorang dikatakan berbohong jika dia menceritakan segala nan didengarnya.” (HR. Muslim no. 5)

Antisipasi dari racun hati ini

Lantas, sebagai seorang muslim, apa nan selayaknya kita lakukan entah itu untuk menghindari dan antisipasi dari racun hati ini alias pula untuk mengobatinya?

Ada banyak sekali dalil beserta atsar dari para ustadz nan dapat kita cermati. Dan di sini, telah dirangkum ke dalam beberapa langkah nan dapat dilakukan. Di antaranya:

Sadar bakal muraqabah Allah

Muraqabah artinya pengawasan. Tentu saja, pertama-tama, kita haruslah sadar bakal pengawasan Allah nan meliputi segala sesuatu, terang-terangan alias sembunyi-sembunyi, kecil-besar, semua Allah ketahui dengan benar. Bahkan, Allah lebih tahu tentang diri kita daripada kita sendiri. Tak terkecuali dalam segala nan kita ucapkan melalui lisan kita. Karena setiap nan kita ucapkan sebenarnya dicatat sebagai kebaikan baik ataukah jelek oleh malaikat nan ditugaskan oleh Allah. Allah Ta’ala mengabarkan,

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌۭ

“Tidak ada suatu kata nan diucapkannya, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas nan selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)

Mengetahui bahwa setiap perkataan mempunyai risiko

Adalah suatu keniscayaan bahwa segala sesuatu pastilah mempunyai dampak, entah baik alias buruk. Begitu pula dengan segala perkataan, tentu ada dampak, risiko, alias pengaruh samping. Ada akibat langsung dan juga tidak langsung, akibat terhadap diri kita alias akibat terhadap orang lain, pun dengan akibat terhadap masa nan bakal mendatang secara umum. Sahabat Muadz bin Jabal pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ فَقَالَ « ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ قاَلَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“’Wahai Nabi Allah, apakah kita bakal disiksa dengan karena perkataan kita?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Semoga ibumu kehilanganmu! (Kalimat ini maksudnya adalah untuk memperhatikan ucapan selanjutnya.) Tidaklah manusia tersungkur di neraka di atas wajah alias di atas hidung mereka, melainkan dengan karena lisan mereka.’” (HR. Tirmidzi. Ia mengatakan bahwa sabda ini hasan sahih.)

Hadis di atas menjelaskan sungguh perkataan dan ucapan mempunyai akibat nan sangat serius, terutama perkataan-perkataan jelek nan menyebabkan siksa neraka di alambaka kelak.

Sahabat Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

ما النجاة؟

“Apa itu keselamatan?”

Rasulullah kemudian menjawab,

أمسك عليك لسانك

“Jagalah olehmu lisanmu.”

Setiap manusia sejatinya sedang menanam. Jika nan ditanam baik, maka baik pula nan bakal dipanen. Jika nan ditanam buruk, maka jelek pula nan bakal dipanen.

Berlepas diri

Ketika kita sudah terlanjur melakukan beragam perihal nan tidak baik nan berangkaian dengan lisan dan ucapan, kemudian kita telah mengetahui akibat buruknya, hendaknya kita melepaskan diri dari perihal itu. Jika tidak bisa langsung terlepas, maka tidak kenapa andaikan dengan bertahap.

Adapun berlepas diri nan dimaksud adalah dengan bertobat. Dan tobat nan paling mudah adalah dengan istigfar. Hendaknya kita memperbanyak istigfar, terkhusus setiap kita khilaf. Qatadah pernah menuturkan,

فأما داؤكم فالذنوب وأما دواؤكم باللاستغفار

“Penyakit kalian adalah dosa-dosa nan kalian kerjakan. Adapun obat kalian adalah dengan beristigfar (meminta ampunan).”

Diam

Dalam sabda nan diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa nan beragama kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah dia berbicara nan baik saja alias diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut memberikan patokan sederhana dalam berbicara dan berkata kata, ialah katakan nan baik-baik alias tak bersuara saja.

Sahabat Abdullah bin Mas’ud juga pernah berujar,

يا لسان قل خيرا تغنم واسكت عن شر تسلم قبل أن تندم

“Wahai lisan (lidah), katakanlah nan baik (saja), niscaya kau bakal mendapatkan (kebaikan). Dan diamlah dari mengatakan nan buruk, maka kau bakal selamat sebelum kau bakal menyesal.”

Maka, sungguh kita bisa memandang bahwa tak bersuara itu jauh lebih baik daripada kita kudu membikin capek diri kita dari berbincang berlebih, terutama ketika itu bukanlah perihal nan baik. Hal ini sebagaimana patokan berupa tips sederhana dari Rasulullah, ialah berbincang nan baik saja alias diam, tidak usah berbincang sekalian.

Sehingga dengan beragam penjabaran juga dalil dan atsar-atsar di atas, kita dapat memahami dan menerapkannya ke dalam kehidupan kita tentang peran sentral ucapan nan keluar dari lisan kita. Secukupnya saja, nan baik saja, jangan melampaui porsi bicara. Sadari juga pengaruh samping dari ucapan nan keluar dari mulut kita. Dan jika tidak bisa bicara nan bermanfaat, lebih baik tak bersuara alias bakal menjadi racun nan membikin hati kita sakit keracunan.

Semoga Allah senantiasa memberi taufik agar kita tetap berada dalam koridor pengendalian lisan nan benar.

Lanjut ke bagian 2: Bersambung

Baca juga: Berbicara dengan Orang Lain Sesuai dengan Tingkat Pemahamannya

***

Penulis: Abdurrahman Waridi Sarpad

Artikel: Muslim.or.id

Sumber:

Disadur dari “Tazkiyatun Nufus” karya Syekh Dr. Ahmad Farid

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah