Enam Syarat Haji Dan Umrah

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Kincaimedia – Melaksanakan ibadah haji dan umrah merupakan tanggungjawab bagi umat Islam nan bisa memenuhinya. Namun, sebelum menunaikan ibadah tersebut, terdapat beberapa syarat nan kudu dipenuhi agar ibadah haji dan umrah dianggap sah. Syarat-syarat ini terbagi menjadi dua kategori, ialah syarat wajib dan syarat sah.

Allah Swt di dalam Alquran Surah Ali Imran ayat 97. “Dan (diantara) tanggungjawab manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah bagi orang-orang nan bisa mengadakan perjalanan ke sana.

” Dan Nabi Saw. pernah bersabda: “Islam dibangun atas lima hal: Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke baitullah dan berpuasa Ramadan” (HR. Albukhari dan Muslim).

Berdasarkan kedua dalil tersebut, maka umat Islam selain mempunyai tanggungjawab untuk salat, puasa dan zakat, mereka juga wajib menunaikan ibadah haji jika mampu. Lalu apakah syarat diwajibkannya haji hanya bisa saja?

Di dalam kitab Alfiqh Al Manhaji Ala Madzhab Al Imam Al Syafii disebutkan ada enam syarat nan kudu dipenuhi umat Islam nan telah wajib menunaikan ibadah haji dan umrah.

Pertama; Islam. Maka, bagi non muslim tidak diwajibkan menunaikan ibadah haji. Karena haji dan umrah merupakan ibadah nan tidak dituntut untuk dilakukan bagi selain orang muslim. Jika non muslim melaksanakan haji dan umrah, maka hukumnya tidak sah, lantaran syarat sahnya ibadah itu kudu Islam.

Kedua. Berakal. Maka orang gila, tidak wajib melaksanakan ibadah haji dan umrah, lantaran dia tidak bisa membedakan antara perintah dan larangan. Selain itu, jika Allah swt. telah mengambil apa nan telah dia beri (akal), maka gugurlah apa nan dia wajibkan (syariat Islam). Dan pembebanan untuk melaksanakan hukum itu tidak sempurna selain dengan akal.

Ketiga. Balig. Maka, haji dan umrah itu tidak wajib bagi umat Islam nan belum balig, lantaran dia belum mukallaf, dimana pembebanan hukum itu ketika telah balig. Sebagaimana sabda Nabi Saw.

رفع القلم عن ثلاث : عن الصبي حتى يبلغ، وعن النائم حتى يستيقظ، وعن المجنون حتى يبرأ ” . رواه ابن حبان والحاكم وصححاه .

Pena itu telah diangkat dari tiga hal. Dari anak mini sampai balig, orang tidur sampai bangun dan dari orang gila sampai sembuh.” (HR. Ibnu Hibban dan Al Hakim, mereka menilai sahih sabda ini).

Keempat; merdeka. Maka, haji dan umrah itu tidak wajib bagi seorang budak lantaran dia tidak mempunyai harta, apalagi hartanya semua adalah kewenangan milik tuannya.

Kelima. Amannya jalan. Jika umat muslim itu takut bakal keamanan dirinya alias hartanya dari musuh, alias di perjalanan itu rawan terjadinya peperangan misalnya, maka dia tidak wajib melaksanakan haji dan umrah lantaran adanya bahaya/darurat. Allah swt. berfirman:

{ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ } .

Dan janganlah Anda jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri. (Al Baqarah/2; 195)

Keenam. Mampu. Karena Allah swt berfirman:

(وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً).

“Dan (diantara) tanggungjawab manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah bagi orang-orang nan bisa mengadakan perjalanan ke sana.”(Q.S: Ali Imran/3: 97)

Selain itu, Ibnu Umar ra. meriwayatkan sabda bahwa ada seorang laki-laki datang menemui Nabi Saw., lampau bertanya:

: يا رسول الله ما يوجب الحج ، قال : “الزاد والراحلة ” رواه الترمذي

Ya Rasulallah, perihal apa nan menjadikan wajibnya haji?. Nabi Saw, menjawab: “Adanya bekal dan transportasi.” (HR. Al Tirmidzi). Oleh lantaran itu sabda nan dinilai hasan ini menafsiri ayat sebelumnya dimana nan dimaksud bisa adalah adanya materi nan cukup dan tersedianya perangkat transportasi.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah