Faedah Dari Kata واخشوني dan واخشون di Dalam Al-quran

Sedang Trending 4 minggu yang lalu

Pernah satu ketika penulis menanyakan perbedaan kata واخشوني dan واخشون di dalam Al-Quran kepada Ustadzah salah satu halaqah Quran nan penulis ikuti.

Tentu jika tidak memperhatikan dan berhati-hati, kita bisa salah alias tertukar dalam membaca dua kata ini. Dikarenakan nan pertama dibaca lebih panjang (dua harakat) dari nan kedua. Terutama ketika kita membacanya dari hafalan, dengan tanpa memandang mushaf.

Dua kata ini terdapat pada tiga ayat pada dua surah berbeda di dalam Al-Quran. Kata واخشوني terdapat pada ayat,

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَٱخْشَوْنِى وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِى عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan dari mana saja Anda (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja Anda (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, selain orang-orang nan kejam diantara mereka. Maka janganlah Anda takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan agar Anda mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 150)

Donasi Semarak Ramadan YPIA

Sedangkan واخشون terdapat pada ayat,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحْمُ ٱلْخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيْرِ ٱللَّهِ بِهِۦ وَٱلْمُنْخَنِقَةُ وَٱلْمَوْقُوذَةُ وَٱلْمُتَرَدِّيَةُ وَٱلنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ ٱلسَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى ٱلنُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُوا۟ بِٱلْأَزْلَٰمِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ ٱلْيَوْمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِن دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَٱخْشَوْنِ ۚ ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ فَمَنِ ٱضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) nan disembelih atas nama selain Allah, nan tercekik, nan terpukul, nan jatuh, nan ditanduk, dan diterkam hewan buas, selain nan sempat Anda menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) nan disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, karena itu janganlah Anda takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk Anda agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi kepercayaan bagimu. Maka peralatan siapa terpaksa lantaran kelaparan tanpa sengaja melakukan dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 3)

Dan juga,

إِنَّآ أَنزَلْنَا ٱلتَّوْرَىٰةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا ٱلنَّبِيُّونَ ٱلَّذِينَ أَسْلَمُوا۟ لِلَّذِينَ هَادُوا۟ وَٱلرَّبَّٰنِيُّونَ وَٱلْأَحْبَارُ بِمَا ٱسْتُحْفِظُوا۟ مِن كِتَٰبِ ٱللَّهِ وَكَانُوا۟ عَلَيْهِ شُهَدَآءَ ۚ فَلَا تَخْشَوُا۟ ٱلنَّاسَ وَٱخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِى ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَٰفِرُونَ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan sinar (yang menerangi), nan dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi nan menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang berilmu mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah Anda takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah Anda menukar ayat-ayat-Ku dengan nilai nan sedikit. Barangsiapa nan tidak memutuskan menurut apa nan diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang nan kafir.” (QS. Al-Maidah: 44)

Baca juga: Ketika Orang Tua Mengharapkan Anak Menjadi Ahlul-Quran

Apabila diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia dua kata ini berfaedah sama yaitu: Takutlah kepadaKu.

Namun jika kita memandang pada bahasa aslinya, ialah bahasa Arab, terdapat huruf ya (ي) tambahan pada ayat nan terdapat pada surat Al-Baqarah. Fungsinya sebagai penekanan alias peringatan nan lebih besar. Artinya Allah memerintahkan kaum muslimin untuk takut kepadaNya dengan penekanan alias peringatan nan besar.

Sebab jika kita memandang pada konteksnya, ayat ini berkenaan dengan pemindahan posisi kiblat bagi kaum muslimin. Dari nan sebelumnya menghadap ke Baitul Maqdis, menjadi menghadap ke arah Ka’bah di Mekkah.

‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia mengatakan, “Perkara nan pertama kali dinaskh (dihapus hukumnya) di dalam Al-Quran adalah masalah kiblat. Hal itu terjadi ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Pada waktu itu kebanyakan penduduknya adalah Yahudi. Maka Allah ta’ala memerintahkan untuk menghadap ke Baitul Maqdis. Orang-orang Yahudi pun merasa senang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap ke Baitul Maqdis selama sekitar belasan bulan, padahal beliau sendiri lebih menyukai (untuk menghadapkan wajah ke) kiblat Ibrahim. Karena itu, beliau berdo’a memohon kepada Allah sembari mengadahkan wajahnya ke langit, maka Allah ta’ala pun menurunkan ayat,

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى ٱلسَّمَآءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَىٰهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

“Sungguh Kami (sering) memandang wajahmu mengadah ke langit, maka sungguh Kami bakal memalingkanmu ke kiblat nan Anda sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja Anda berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya.” (QS. Al-Baqarah: 144)

Hal itu menyebabkan orang-orang Yahudi menjadi goncang seraya mengatakan,

مَا وَلَّىٰهُمْ عَن قِبْلَتِهِمُ ٱلَّتِى كَانُوا۟ عَلَيْهَا ۚ قُل لِّلَّهِ ٱلْمَشْرِقُ وَٱلْمَغْرِبُ

“Apakah nan memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) nan dulu mereka telah berkiblat kepadanya? Katakanlah, ‘Kepunyaan Allah-lah timur dan barat.” (QS. Al-Baqarah: 142) (Ibnu Abi Hatim (I/103), tahqiq: Dr. Al-Ghamidi)

Pemindahan posisi kiblat ini adalah ujian nan berat kaum muslimin. Mengingat posisi kaum muslimin saat itu belumlah kuat, dan tetap bertetangga dengan orang-orang Yahudi.

Ibnu Katsir mengatakan, “Ketika perihal itu terjadi (pemindahan kiblat -pent), hati sebagian orang dari kalangan munafik dan orang nan ragu-ragu dan kafir dari kalangan Yahudi semakin goncang, menyimpang dari petunjuk, dan terombang-ambing dalam kebimbangan.” (Shahih Tafsir Ibnu Katsir Juz 2, Jilid 1, hal. 489)

Dan firman Allah ta’ala:

جَعَلْنَا ٱلْقِبْلَةَ ٱلَّتِى كُنتَ عَلَيْهَآ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُ

“Dan Kami tidak menetapkan kiblat nan menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa nan mengikuti Rasul dan siapa nan membelot. Dan sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu terasa banget berat, selain bagi orang-orang nan telah diberi petunjuk oleh Allah.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Artinya, Allah ‘azza wa jalla seakan-akan berfirman, “Hai Muhammad, pertama kali Kami mensyariatkan kepadamu untuk menghadap ke Baitul Maqdis, lampau Kami palingkan engkau darinya menuju Ka’bah, agar tampak jelas siapa saja orang nan mengikuti dan mentaatimu serta menghadap bersamamu ke mana saja engkau menghadap, “dan siapa nan membelot”, maksudnya murtad dari agamanya. Dan sungguh pengalihan kiblat dari Baitul Maqdis ke Baitullah itu terasa sangat berat bagi mereka, selain orang-orang nan diberi petunjuk oleh Allah ta’ala ke dalam hatinya serta meyakini kebenaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa nan dibawanya adalah benar, tidak ada keraguan padanya.” (Shahih Tafsir Ibnu Katsir Juz 2, Jilid 1, hal. 495)

Oleh karenanya pada ayat ini Allah memberi penekanan dengan adanya tambahan huruf ya (ي)  pada kata واخشوني (takutlah kepadaKu).

Ibnu Katsir mengatakan, “Maksudnya, janganlah kalian takut terhadap hujjah-hujjah nan salah dari orang-orang kejam nan menyusahkan, tetapi takutlah HANYA kepada-Ku SAJA. Sesungguhnya hanya Allah sajalah nan berkuasa untuk ditakuti daripada mereka.” (Shahih Tafsir Ibnu Katsir Juz 2, Jilid 1, hal. 508)

Adapun pada surat Al Maidah, digunakan kata واخشون tanpa tambahan huruf ya (ي)  karena tidak adanya latar bentrok pada kedua ayat tersebut. Dan pada surat Al-Maidah ayat ketiga pun disebutkan bahwa orang-orang kafir telah berputus asa untuk mengalahkan umat Islam. Dan Allah telah menyempurnakan kepercayaan Islam ini, serta telah mencukupkan nikmatNya untuk kaum muslimin dan telah meridai Islam sebagai satu-satunya kepercayaan nan haq disisiNya.

Demikian sedikit kegunaan nan dapat penulis sampaikan. Dan hanya kepada Allah-lah kita memohon petunjuk.

Baca juga: 5 Hikmah Muraja’ah Al-Quran

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

  • Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 1, Pustaka Ibnu Katsir Jakarta
Selengkapnya
Sumber Artikel Islami Muslimah.or.id
Artikel Islami Muslimah.or.id