Fake Smile Atau Genuine Smile, Mana Yang Lebih Baik? Ketahui Ciri-ciri Dan Manfaatnya!

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Fake smile alias genuine smile– Grameds, apakah Kamu menyadari bahwa dalam keseharian, kita sering kali berinteraksi dengan beragam perseorangan nan memperlihatkan beragam ekspresi wajah, salah satunya dengan senyuman.

Senyuman melambangkan kebahagiaan, kegembiraan, dan harmoni sosial. Ini juga bisa menjadi sinyal bahwa seseorang terbuka untuk berasosiasi dan membantu memenuhi kebutuhan dasar kita bakal rasa memiliki.

Meski begitu, senyum nan mereka tunjukkan juga bisa beragam bentuknya. Senyum tersebut bisa tiruan atau fake smile dan senyum jujur alias genuine smile.

Kedua senyum ini seringkali ditunjukkan untuk menjadi respons terhadap pertanyaan alias situasi nan susah diungkapkan dengan kata-kata. Dalam konteks ini, senyum bisa menjadi penutup atas kebohongan, ekspresi ketidaksukaan terhadap sesuatu alias seseorang, alias apalagi emosi tulus nan susah disampaikan secara langsung.

Pembahasan mengenai fake smile dan genuine smile ini bakal lebih jelas jika kita dapat mengetahui terlebih dulu gimana langkah membedakannya dengan memerhatikan ciri-cirinya. Yuk, kita simak pembahasannya, Grameds!

Perbedaan Ciri Fake Smile dan Genuine Smile 

(Sumber foto: www.pexels.com)

Terdapat ragam senyum nan dapat menandakan kebahagiaan maupun ketidaksukaan. Senyum nan tulus maupun tiruan biasanya terlihat dari ekspresi matanya. Berikut beberapa karakter fake smile dan genuine smile.

1. Ciri-Ciri Fake Smile

Fake Smile alias senyum tiruan bisa dibedakan dengan memerhatikan corak bibir mereka. Saat seseorang tersenyum palsu, bibir mereka condong terangkat ke belakang, menciptakan kesan lesung pipi nan dalam alias senyum menyeringai.

Bentuk bibir nan tidak melengkung dengan baik dan tidak sejajar antara bibir atas dan bawah merupakan tanda dari fake smile.

Fake smile juga condong terlihat lebih lebar. Otot-otot nan terpaksa ‘membuat’ seseorang tersenyum dapat menciptakan kesan senyuman nan lebih lebar.

Namun, senyuman semacam ini biasanya tidak bakal memperkuat lama, lantaran otot bakal kembali ke posisi semula dengan cepat.

2. Ciri-Ciri Genuine Smile

Senyuman bukanlah sekadar ungkapan dari hati dan bibir. Ciri-ciri dari senyum nan tulus adalah ketika seseorang tersenyum dengan tulus, matanya juga turut tersenyum.

Mata tersebut bakal terlihat tersenyum secara alami, dengan kerutan nan mencapai hingga mata. Seluruh wajahnya juga terlibat dalam senyum ini, terlihat dari kerutan di sekitar mata dan mulut nan ikut tersenyum. Selain itu, genuine smile condong memudar secara alami dan bertahap.

Hal ini dikarenakan senyuman melibatkan aktivitas beberapa otot di bagian bawah wajah, termasuk pipi dan bibir. Tak hanya itu, senyuman nan tulus juga mengaktifkan otot-otot di sekitar mata, nan dapat mencerminkan tingkat kejujuran dari senyuman tersebut. Semakin banyak kerutan nan terbentuk di sekitar mata, semakin tulus pula senyuman tersebut.

Genuine smile juga merupakan senyuman nan disebabkan oleh kebahagiaan, cinta, kehangatan, alias emosi positif lainnya. Ini adalah respons spontan dan tidak sadar terhadap kebahagiaan, pengalaman positif, alias pemikiran, mencerminkan keadaan inner kita nan bahagia.

Manfaat dari Fake Smile dan Genuine Smile

Meski terkesan tidak jujur, tapi kadang kala fake smile justru merupakan solusi terbaik di dalam situasi nan kurang baik. Oleh lantaran itu, Grameds juga perlu memahami seperti apa manfaat  nan mungkin terkandung dari fake smile dan genuine smile.

1. Manfaat Fake Smile

Penting untuk dicatat bahwa tidak semua senyum tiruan berkarakter negatif. Terkadang, senyum tiruan dipakai untuk menyampaikan emosi nan susah diungkapkan dengan kata-kata. Ini bisa menjadi respons atas emosi tidak nyaman, keengganan, alias apalagi ketidaksetujuan terhadap suatu hal.

Contohnya, saat seseorang tersenyum tiruan dalam konteks tertentu, mungkin saja itu adalah langkah mereka untuk menyembunyikan emosi tidak suka alias ketidaknyamanan, namun tetap menghargai situasi alias orang nan ada di sekitarnya.

Melansir kompas.com, dinyatakan bahwa semua orang mungkin pernah menghadapi momen di mana mereka tersenyum tiruan alias fake smile. Terkadang, dalam situasi sedih pun, kita mungkin memaksakan diri untuk menampilkan senyuman.

Namun, terdapat kebenaran menarik bahwa senyuman tiruan tersebut bisa mengangkat suasana hati dan membantu kita memandang bumi dengan lebih positif.

Penelitian terbaru nan dimuat dalam jurnal Experimental Psychology menemukan bahwa pura-pura tersenyum bisa memengaruhi bagian otak nan mengenai dengan suasana hati.

Tim intelektual dari University of South Australia memimpin studi ini, menegaskan bahwa senyuman tiruan dapat mengubah persepsi kita terhadap ekspresi wajah dan bahasa tubuh orang lain menjadi lebih positif. Hal ini pada akhirnya bisa meningkatkan suasana hati secara alami.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengumpulkan sekelompok peserta dan meminta mereka untuk meletakkan pena di antara gigi mereka. Dengan langkah ini, peserta secara otomatis merasa seperti tersenyum.

Mereka kemudian diminta untuk mengevaluasi ekspresi wajah dan aktivitas orang lain, baik saat ada pena di mulut mereka alias pun tidak.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika peserta menggigit pena, mereka condong memandang ekspresi wajah dan aktivitas orang lain secara lebih positif.

Tindakan memaksa wajah untuk tersenyum dalam penelitian ini meningkatkan pandangan peserta terhadap orang lain ke arah nan lebih positif, tanpa memperhitungkan kondisi mental perseorangan peserta.

Penemuan ini menggambarkan bahwa senyuman, meskipun palsu, mempunyai akibat positif nan signifikan pada emosi kita. Dr. Marmolejo-Ramos, ketua peneliti studi ini nan juga merupakan mahir kognisi manusia dan buatan, menyatakan bahwa ketika otot wajah memberi sinyal bahwa kita bahagia, kita condong memandang bumi dengan langkah nan lebih positif.

Ia juga menambahkan bahwa dalam penelitian itu, mereka menemukan bahwa saat kita tersenyum, meskipun secara terpaksa, perihal itu merangsang amigdala atau pusat emosional otak untuk melepaskan neurotransmitter yang mendorong keadaan emosional nan positif.

Implikasi dari penemuan ini cukup menarik dalam konteks kesehatan mental. Jika kita bisa memanipulasi otak untuk merespons rangsangan dengan kebahagiaan, maka ada potensi untuk menggunakan sistem ini sebagai perangkat bantu dalam meningkatkan kesehatan mental kita.

Fake smile sepertinya telah menjadi sebuah kejadian nan menarik, tidak hanya untuk diteliti secara ilmiah, namun juga sebagai tema dalam tulisan fiksi. Salah satunya dalam kitab berjudul “The Boy with a Fake Smile”.

The Boy with a Fake Smile

Dalam kitab ini digambarkan karakter salah satu perseorangan nan mempunyai kehidupan pahit. Baginya, senyum orang lain hanya sekadar topeng untuk menyembunyikan luka nan dalam.

Meskipun dia mahir dalam menyembunyikan diri, namun jika dilihat dari dekat, kehancuran dan kerapuhan dalam dirinya mungkin bisa terlihat.

Buku ini menegaskan bahwa apa nan terlihat dari luar tidak selalu mencerminkan kenyataannya. Kehidupan memaksa seseorang untuk memerankan peran nan sesuai. Kenneth, nan telah merasakan kerasnya kehidupan, terbiasa berkedudukan seperti seorang tokoh handal dengan jurus andalannya, fake smile.

2. Manfaat Genuine Smile

(Sumber foto: www.pexels.com)

Ada begitu banyak argumen untuk tersenyum secara tulus lebih sering. Sesuatu nan tulus tentu saja lebih banyak mengandung daya positif dibandingkan dengan sesuatu nan dipaksakan. Begitu pun dengan senyuman. Oleh lantaran itu, tidak ada salahnya jika Grameds lebih memahami lagi mengenai pentingnya memberikan senyum nan tulus alias genuine smile. Berikut beberapa faedah dari genuine smile nan layak untuk Grameds praktikkan.

  • Baik untuk Kesehatan

Senyum bakal menurunkan debar jantung dan membantu Kamu mengatasi stres lebih baik saat berada dalam situasi nan menekan. Selain itu, memberikan senyuman nan tulus dengan sedikit tawa juga dapat membantu menurunkan tekanan darah kamu.

  • Membantu Kamu Hidup Lebih Lama

Jika fisikmu terbiasa untuk menangkap dan memberikan perihal positif, tentunya kesehatanmu bakal terjaga secara positif juga. Dengan kesehatan nan prima tentu saja angan untuk hidup lebih lama semakin tinggi pula. Hal ini juga dibahas dalam kitab “Berani Tersenyum Meski Terluka” nan ditulis oleh Zanuba Muhlisin.

Buku ini membahas realitas bahwa dalam hidup, bahwasanya kita sering kali mengalami sakit hati akibat tindakan orang lain nan kita anggap menyakiti emosi kita. Baik itu dalam hubungan pertemanan, lingkungan kerja, alias percintaan, terkadang pengkhianatan meninggalkan luka nan susah sembuh.

Tidak jarang sakit hati ini terjadi dalam hubungan asmara, di mana kekecewaan dan patah hati akibat ditinggalkan alias diselingkuhi begitu menghantui. Beberapa orang dapat dengan mudah melanjutkan hidup setelah kejadian tersebut, namun bagi nan lain, susah untuk melupakan dan melewati rasa sakit tersebut.

Zanuba Muhlisin menggambarkan bahwa kesedihan dan sakit hati nan kita rasakan merupakan hasil dari kegagalan kita dalam mendidik hati untuk selalu bersikap tulus dan positif. Tidak hanya itu, sakit hati juga merupakan akibat dari kerusakan pada persepsi dan kemauan kita. 

Dalam kitab ini, pembaca diajak untuk menyelami pemahaman nan mendalam tentang penyakit hati dan proses penyembuhannya. Oleh lantaran itu, pembaca juga diajak untuk berani tersenyum meski sedang dalam keadaan terluka.

  • Membuat Orang Berpikir Baik tentang Kamu

Senyum itu keren! Siapa saja tentunya lebih senang diberi senyuman daripada ekspresi wajah cemberut alias marah. Jika Kamu memberikan senyuman dengan hati nan tulus, orang lain pasti bisa merasakannya juga. Hal ini sejalan dengan nan dipaparkan dalam kitab “Tersenyumlah, Dunia bakal Tersenyum Bersamamu” nan memancarkan semangat dan daya positif.

Tersenyumlah

Melalui kitab ini, kita bakal menemukan sungguh senyum dan tangis telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan manusia sejak awal kelahirannya. Sungguh, kebiasaan tersenyum dan menangis itu bisa jadi sebuah keajaiban konyol nan kerap terlupakan.

Berkisah tentang motivasi dan berpikir positif, kitab ini membujuk pembacanya untuk menghadapi tantangan hidup dengan semangat nan membara. Setiap laman dipenuhi dengan rayuan kata-kata nan mengilhami, membakar semangat, dan menghidupkan kembali kepercayaan diri nan mungkin sempat redup. 

Buku ini layak dijelajahi oleh siapa pun, karena di dalamnya tersimpan kunci untuk membuka pintu kebahagiaan dan makna nan tersembunyi dalam kehidupan, termasuk melalui senyuman.

Tak hanya itu, senyum nan tersaji dalam kitab ini punya kekuatan luar biasa. Bayangkan Anda sedang duduk di kereta api dengan dua penumpang di depan Anda. Satu dengan wajah murung dan tidak ramah, nan lainnya dengan senyuman cerah nan menyejukkan. 

Tentu saja, kebanyakan dari kita bakal memilih menyapa nan tersenyum, lantaran senyum itu bisa meleburkan suasana dingin dan membawa kehangatan nan menyenangkan.

  • Membuat Kamu Merasa Lebih Baik

Disadari alias tidak, saat kita tersenyum, maka respons alias aktivitas tersebut membawa lebih banyak kebahagiaan pada saat itu. Meski mungkin saja saat itu Kamu sedang merasa kurang nyaman, tapi tersenyum dapat memaksa daya positif datang dan membikin dirimu merasa lebih nyaman alias lebih baik.

Tips agar Lebih Sering Tersenyum

Tentu kita sudah mengetahui bahwa senyum itu baik untuk Kamu, ya, Grameds! Jadi, mari kita lihat beberapa tips berikut untuk membantu Anda meningkatkan senyum.

1. Tentukan Pemicu Senyum

Peneliti menyatakan ada setidaknya 50 jenis senyum di kehidupan ini, dari senyum kemenangan, senyum sopan, hingga senyuman nan berkerut pada gigi lantaran rasa pahit.

Namun, senyuman tulus alias genuine smile sudah tentu mengenai dengan emosi positif tertentu, seperti kegembiraan, keceriaan, cinta, dan kehangatan. Jadi, jika Grameds ingin tersenyum dengan tulus lebih sering, Kamu bisa mencari langkah untuk mengeksploitasi emosi-emosi tersebut.

Langkah awal nan bisa Grameds lakukan adalah dengan menulis daftar singkat kenangan alias gambaran nan membikin Kamu tersenyum.

Apakah itu menghangatkan hati Grameds ketika sedang memikirkan seseorang tertawa? Atau Grameds bisa mengingat sebuah percakapan nan pernah Kamu miliki nan selalu memicu tawa?

Grameds bisa mulai mempraktikkan dengan menyimpan gambaran mental nan membahagiakan ini sebagai amunisi senyumanmu dan gunakan pikiran tersebut setiap kali Kamu mau tersenyum.

2. Cari Media nan Lucu

Sebagai orang dewasa, kita mudah sekali terjebak dalam pola pikir “Saya adalah orang dewasa nan serius! Saya kudu menjaga image dan pekerjaan saya. Saya tidak punya waktu untuk menonton lelucon nan tidak penting!”

Jujur saja, kita sering jatuh ke dalam pola pikir ini, kan, Grameds? Tetapi sesungguhnya, tersenyum, tertawa, dan bersenang-senang sama pentingnya dengan pertumbuhan dan pencapaian diri lainnya.

Jadi luangkan waktu untuk menonton pagelaran komedi, membaca buku, dan menonton movie nan tidak mempunyai tujuan selain membikin Anda tertawa.

Grameds bisa mulai mencoba langkah ini dengan membikin agenda di akhir pekan untuk pergi ke bioskop dan menonton movie lucu.

Namun, jika Grameds tidak percaya untuk pergi ke bioskop, Kamu juga bisa mencoba menonton video-video kocak di YouTube.

3. Cari Orang-orang nan Bersikap Ceria

Psikolog sosial James Fowler dan Nicholas Christakis pernah melakukan penelitian. Inti dari karya ilmiah mereka sederhana, ialah kita menjadi seperti kawan kita (bahkan kawan teman kita, dan kawan teman kawan teman kita!).

Kita mengambil kebiasaan, pola pikir, perasaan, dan standar kualitas kesehatan dari teman-teman kita ini.

Jadi, jika Grameds ingin tersenyum lebih banyak, salah satu solusi mudahnya adalah dengan menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman-teman nan paling ceria.

Meskipun tetap saja kita bisa menyerap segala jenis emosi dari teman-teman kita, tapi senyum dan tawa adalah ekspresi emosi nan sangat menular.

Kesimpulan

Dari ulasan nan telah disajikan, terlihat bahwa senyum memainkan peran krusial dalam hubungan manusia sehari-hari. Fake smile nan sering kali merupakan respons atas situasi nan susah alias sebagai upaya untuk menyembunyikan perasaan, mempunyai faedah tersendiri.

Meskipun terkesan tidak jujur, senyum tiruan dapat mengubah suasana hati, membikin orang merasa lebih positif, dan apalagi membantu meningkatkan kesehatan mental. Penelitian juga menunjukkan bahwa senyuman tiruan mempunyai akibat positif pada otak, merangsang bagian nan mengenai dengan suasana hati nan lebih baik.

Di sisi lain, genuine smile, nan tulus dan alami, membawa daya positif nan lebih besar. Senyuman tulus ini tidak hanya membikin orang merasa lebih baik, tetapi juga membantu mengurangi stres dan menurunkan tekanan darah.

Senyum tulus juga memengaruhi persepsi orang lain terhadap kita, membikin mereka berpikir positif tentang diri kita. Oleh lantaran itu, krusial bagi kita untuk memahami perbedaan antara fake smile dan genuine smile serta faedah nan terkandung di dalamnya.

Melalui senyuman, kita dapat membawa kebahagiaan bagi diri sendiri dan orang lain di sekitar kita. Jadi, senyum dapat mempunyai beragam makna tergantung pada konteks dan ekspresi nan menyertainya.

Grameds bisa menambah wawasan dan literasi mengenai senyum dengan membaca buku-buku nan tersedia di gramedia.com. Sebab, sebagai #SahabatTanpaBatas Gramedia selalu memberikan info dan produk terbaik untuk kamu.

ePerpus adalah jasa perpustakaan digital masa sekarang nan mengusung konsep B2B. Kami datang untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan kitab dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk memandang laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Selengkapnya
Sumber Gramedia Official Blog
Gramedia Official Blog