Fatwa Mui ; Hukumnya Boleh Periksa Gigi Saat Berpuasa!

Sedang Trending 4 minggu yang lalu

Kincaimedia- Pernahkah cemas sakit gigi saat bulan puasa?  MUI (Majelis Ulama Indonesia) mempunyai fatwa nan mengatur tentang boleh tidaknya periksa gigi saat berpuasa.  Fatwa ini memberikan angin segar bagi umat Muslim nan memerlukan perawatan gigi selama bulan Ramadhan.

Sebagaimana nan diketahui di setiap memasuki bulan suci Ramadhan, seluruh umat muslim diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa.  Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 183: 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ – ١٨٣

Artinya: “Wahai orang-orang nan beriman! Diwajibkan atas Anda berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum Anda agar Anda bertakwa,”

Oleh karenanya, krusial bagi kita untuk mengikuti patokan dan peraturan puasa, agar ibadah nan kita jalankan ini tidak sia-sia, namalain mendapat berkah dan pahala dari Allah SWT. Salah satu pertanyaan paling umum nan ditanyakan orang selama Ramadhan adalah apakah mereka boleh melakukan perawatan gigi saat berpuasa? Kali ini sahabat Bincangsyariah bakal membahas fatwa nan dikeluarkan oleh MUI Indonesia (Majelis Ulama Indonesia) mengenai pedoman tata langkah merawat gigi nan betul saat berpuasa.

Fatwa MUI Nomor 250/E/MUI-KB/V/2018

Mengacu pada Fatwa MUI Fatwa MUI Nomor 250/E/MUI-KB/V/2018 tentang Tindakan Kedokteran Gigi, memperbolehkan rangkaian pemeriksaan gigi alias check up rutin ke master gigi pada saat berpuasa. Namun tetap dalam tindakan tersebut kudu dilakukan secara hati-hati dan tidak berlebihan. Lantas tindakan apa saja nan diperbolehkan ketika berpuasa? 

Berikut ini penjelasan dari muatan Fatwa MUI mengenai rangkaian perawatan dan pengobatan gigi nan diperbolehkan saat berpuasa:

  1. Pencabutan gigi/ekstraksi gigi tidak membatalkan puasa

Pemberian obat anestesi berupa gel nan dioleskan di dalam mulut, alias disuntikkan dan alias disemprotkan di sekitar gigi tidak membatalkan puasa selama dilakukan dengan berhati – hati dan tidak berlebihan sekalipun ada nan tertelan.

2. Proser berkumur dengan air alias obat antiseptik dalam tindakan pembersihan karang gigi:

a.Apabila dilakukan dengan berhati-hati dan tidak berlebihan maka tidak membatalkan puasa sekalipun ada nan tertelan.

b.Apabila dilakukan dengan tidak berhati – hati dan berlebihan maka bakal membatalkan puasa jika ada nan tertelan.

3. Sensasi rasa segar dari air nan keluar dari perangkat ultrasonic scaler dan pemberian pasta profilaksis dengan beragam rasa di dalam mulut pasien selama pembersihan karang gigi tidak membatalkan puasa.

4. Terjadinya pendarahan selama pembersihan karang gigi tidak membatalkan puasa.

5. Penambalan gigi dan obat nan tertelan (tidak sengaja) selama proses penambalan gigi tidak membatalkan puasa jika dilakukan dengan berhati – hati dan tidak berlebihan.

6. Bahan tambalan sementara nan tertelan tidak membatalkan puasa., 7. Proses pencetakan gigi tidak membatalkan puasa. [Baca juga: Tafsir Mimpi Gigi Rontok Semua]

8. Kesempurnaan wudhu tidak tergantung kepada ada dan tidak adanya gigi alias terhalang dan tidak terhalangnya air sampai ke gigi nan asli, artinya tetap wudhunya utama meskipun terhalang jaket gigi alias veneer.

9. Membuat jaket gigi, membikin veneer, pemasangan behel gigi dan bleaching:

a.Untuk tujuan pengobatan maka hukumnya halal.

b.Untuk menormalkan gigi nan tumbuhnya tidak normal maka hukumnya halal.

c.Untuk tujuan tindakan pencegahan dari timbulnya penyakit, maka hukumnya halal.

d.Untuk tujuan kecantikan tanpa merubah corak aslinya maka hukumnya halal.

e.Untuk tujuan kecantikan tanpa indikasi medis dengan merubah bentuknya nan original maka hukumnya haram.

Demikian penjelasan mengenai fatwa MUI bahwa hukumnya boleh periksa gigi saat berpuasa! Semoga bermanfaat. [Baca juga: Bolehkah Niat Puasa Ramadhan di Siang Hari?]

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah