Galaxy Digital Siapkan US$ 5 Juta Hadapi Quantum

Jul 22, 2026 08:08 AM - 1 minggu yang lalu 8191

Kincai Media – Perusahaan investasi aset digital Galaxy Digital meluncurkan Bitcoin Quantum Readiness Initiative. Program ini disiapkan untuk membantu jaringan Bitcoin menghadapi potensi ancaman komputer kuantum di masa depan.

Inisiatif tersebut dipimpin CEO Galaxy Digital Mike Novogratz. Perusahaan mengalokasikan biaya hibah hingga US$5 juta alias sekitar Rp81 miliar dengan dugaan kurs Rp16.300 per dolar AS.

Dana itu bakal digunakan untuk mendukung pengembangan teknologi kriptografi tahan kuantum, riset ilmiah, dan pembentukan majelis penasihat khusus. Program ini menjadi salah satu langkah sektor swasta yang secara unik diarahkan pada mitigasi akibat quantum computing terhadap Bitcoin.

“Sebagai salah satu pelaku utama di industri aset digital, kami percaya krusial untuk menjadi bagian dari solusi terhadap potensi ancaman yang dapat ditimbulkan komputasi kuantum terhadap Bitcoin,” ujar Mike Novogratz.

Galaxy Digital Bentuk Dewan Quantum

Selain menyiapkan hibah, Galaxy Digital membentuk Quantum Advisory Council. Dewan ini berisi sejumlah master di bagian komputasi kuantum dan kriptografi.

Anggota awalnya antara lain Barry Sanders, guru besar dari University of Calgary. Ada juga Damien Bérubé, peneliti MIT Sea Grant Knauss Fellow, serta Eran Tromer, guru besar pengetahuan komputer di Boston University.

Galaxy digital menyatakan pendaftaran hibah bagi developer telah dibuka. Tujuannya adalah mempercepat riset dan penerapan teknologi keamanan generasi berikutnya untuk Bitcoin.

Langkah ini menunjukkan bahwa ancaman quantum tidak lagi hanya menjadi obrolan akademik. Sejumlah pelaku industri mulai menyiapkan pendanaan, riset, dan tata kelola agar transisi keamanan bisa dibahas lebih awal.

Ancaman Q-Day terhadap Bitcoin

Ancaman utama yang dibahas organisasi mata duit digital dikenal sebagai Q-Day. Istilah ini merujuk pada momen ketika komputer kuantum mempunyai keahlian memecahkan sistem kriptografi yang saat ini melindungi Bitcoin.

Bitcoin saat ini menggunakan Elliptic Curve Cryptography alias ECC untuk mengamankan transaksi dan kepemilikan aset. Sistem ini menjadi dasar tanda tangan digital yang membuktikan bahwa pemilik aset berkuasa memindahkan Bitcoin.

Secara teori, komputer kuantum yang cukup kuat dapat memakai Shor’s Algorithm untuk menghitung private key dari public key. Jika keahlian itu tercapai, pelaku kejahatan berpotensi mengambil alih dompet, membikin tanda tangan digital palsu, dan memindahkan aset.

Risiko tersebut belum menjadi ancaman langsung dalam waktu dekat. Namun, lantaran Bitcoin menyimpan nilai besar dan perubahannya memerlukan konsensus luas, persiapan lebih awal dinilai penting.

Jutaan BTC Disebut Rentan

Dompet lama dan alamat Bitcoin yang digunakan berulang kali disebut sebagai golongan yang paling rentan terhadap akibat quantum. Kerentanan muncul lantaran public key dapat terekspos ketika transaksi dilakukan.

Sejumlah solusi mulai dibahas di organisasi pengembang. Pilihannya meliputi pemindahan aset ke alamat yang tahan terhadap komputasi kuantum, mengambil skema tanda tangan digital baru, dan penerapan proposal peningkatan jaringan seperti BIP-360 dan BIP-361.

Namun, perubahan besar pada Bitcoin tidak dapat dilakukan secara cepat. Jaringan ini berkarakter terdesentralisasi, sehingga pembaruan besar memerlukan obrolan panjang, pengujian, persetujuan komunitas, dan kesiapan infrastruktur.

Baca Juga: Galaxy Digital Boncos Besar di Tengah Lesunya Kripto

Project Eleven pada Mei memperkirakan komputer kuantum yang cukup kuat untuk memecahkan kriptografi Bitcoin kemungkinan besar datang sebelum 2033, apalagi berpotensi sekitar 2030. Laporan itu juga memperkirakan sekitar 6,9 juta BTC berada di alamat yang berpotensi rentan terhadap serangan kuantum.

Pada Juni, majelis penasihat quantum Coinbase juga mendorong developer Bitcoin memulai proses migrasi menuju sistem keamanan baru. Coinbase memperkirakan sekitar 7 juta BTC saat ini berpotensi terekspos akibat tersebut.

Pemerintah AS Ikut Bergerak

Ancaman komputasi kuantum juga mulai masuk agenda pemerintah Amerika Serikat. Dalam bahan yang dirujuk, Presiden Donald Trump disebut menandatangani dua perintah pelaksana pada Juni untuk mempercepat pengembangan teknologi kuantum nasional.

Kebijakan tersebut juga memajukan sasaran penerapan standar kriptografi pasca-kuantum di lembaga federal menjadi Desember 2031. Langkah ini menunjukkan kriptografi tahan kuantum tidak hanya menjadi rumor aset digital, tetapi juga keamanan nasional dan prasarana publik.

Project Eleven pada 16 Juli juga memperkenalkan metode baru bagi pemilik dompet Bitcoin untuk membuktikan kepemilikan aset setelah Q-Day. Teknik itu memanfaatkan verifikasi terhadap parent key agar pemilik aset tetap mempunyai jalur pemulihan jika sistem tanda tangan lama tidak lagi aman.

Perkembangan ini memperkuat argumen kenapa industri Bitcoin mulai membahas kesiapan jangka panjang. Risiko belum terjadi, tetapi proses migrasi sistem keamanan tidak bisa dilakukan mendadak.

Galaxy Ingin Jembatani Bitcoin dan Quantum

Kepala Galaxy Research Alex Thorn menilai tetap ada jarak besar antara perkembangan teknologi quantum dan organisasi developer Bitcoin. Menurutnya, bumi komputasi kuantum bergerak cepat, sementara solusi post-quantum di ekosistem Bitcoin tetap berada pada tahap awal.

Melalui Bitcoin Quantum Readiness Initiative, Galaxy Digital mau mempercepat riset, mendanai pengembang, dan meningkatkan pemahaman penanammodal serta regulator mengenai akibat masa depan.

Program ini juga dapat menjadi ruang bertemunya peneliti, pengembang, dan pelaku industri. Dengan begitu, obrolan tentang ancaman quantum tidak hanya berakhir pada skenario teoritis, tetapi mulai diarahkan pada pilihan teknis yang dapat diuji.

Dalam program tersebut, Galaxy Digital menyiapkan hibah hingga US$5 juta, membentuk Quantum Advisory Council, dan membuka pendaftaran bagi developer yang mau mengerjakan solusi kriptografi tahan kuantum untuk Bitcoin.

Disclaimer: Semua konten yang diterbitkan di website Kincai Media ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan yang telah tayang di Kincai Media bukan nasihat investasi alias saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata duit digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Kincai Media tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.Selalu Melakukan Perdagangan di Exchange yang Legal di Indonesia (Di bawah Pengawasan OJK)

Selengkapnya