Gawai Dalam Genggaman, Amal Dalam Hitungan, Bag. 2

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Menjaga kehormatan diri

Islam adalah kepercayaan nan menjunjung tinggi kehormatan umatnya. Bukan hanya wanita muslimah saja nan perlu menjaga diri, namun laki-laki muslim juga perlu menjaga dirinya. Melalui media sosial, begitu mudahnya segala info itu bisa sampai kepada kita, baik sengaja maupun tidak sengaja. Jika kita tidak pandai-pandai menjaga dan membatasi diri, iklan nan mungkin hanya lewat itu bisa menyeret kita ke dalam kubangan maksiat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكُ ذَلِكَ لاَمَحَااَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِيْنَا هُمَا النَّظَرُ، َاْلأُذُنَانِ زِيْنَا هُمَا الاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِيْنَاهُ الْكَلاَمُ، وَالْيَدُ زِيْنِاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِيْنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوِى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّ بُهُ

“Setiap anak Adam telah mendapatkan bagian zina nan tidak bakal bisa dielakkannya. Zina pada mata adalah melihat. Zina pada telinga adalah mendengar. Zina lidah adalah berbicara kata. Zina tangan adalah meraba. Zina kaki adalah melangkah. (Dalam perihal ini), hati nan mempunyai kemauan angan-angan, dan kemaluanlah nan membuktikan semua itu alias mengurungkannya.”

Ketahuilah saudariku.. siapakah nan paling gigih menarik anak Adam ke dalam perilaku maksiat? Paling gigih berbisik ‘lakukanlah, tidak ada nan melihat’ tatkala bersendirian. Dialah setan, musuh terbesar nan selalu menyeru kepada kemungkaran.

Donasi Semarak Ramadan YPIA

Allah Ta’ala berfirman,

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۚ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang nan beriman, janganlah Anda mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa nan mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan nan biadab dan nan mungkar. Sekiranya tidaklah lantaran karunia Allah dan rahmat-Nya kepada Anda sekalian, niscaya tidak seorang pun dari Anda bersih (dari perbuatan-perbuatan biadab dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa nan dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”  (QS. An-Nur: 21)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا . قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

“Niscaya saya bakal memandang beberapa kaum dari umatku datang pada Hari Kiamat dengan kebaikan laksana gunung-gunung Tihamah nan putih, kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menjadikannya debu nan beterbangan.”

Ada nan bertanya: “Wahai Rasulullah, jelaskanlah sifat mereka kepada kami, agar kami tidak menjadi bagian dari mereka sementara kami tidak tahu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ketahuilah, mereka adalah kerabat kalian, satu bangsa, dan bangun malam sebagaimana kalian. Tapi jika mereka menyendiri dengan larangan-larangan Allah, mereka melanggarnya.” (HR. Ibnu Majah dan di-shahih-kan oleh al-Albani)

Maka wahai saudariku, jangan sampai kita merugi dan tertipu dengan diri sendiri. Sehingga menjadi orang nan menyesal di hari kalkulasi kelak.

Jangan mencuri waktumu

Ketika kita melakukan pekerjaan nan merupakan tanggungjawab kita, maka jangan sampai gawai ini mencuri waktu-waktu kita.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ , شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ , وَصِحَّتِكَ قَبْلَ سَقْمِكَ , وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ , وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ , وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

”Ambillah kesempatan lima (keadaan) sebelum lima (keadaan). (Yaitu) Mudamu sebelum pikunmu, kesehatanmu sebelum sakitmu, cukupmu sebelum fakirmu, longgarmu sebelum sibukmu, kehidupanmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim)

Terlebih, bagi seorang pegawai, tentu bermain gawai ketika jam kerja adalah sesuatu nan tidak dibenarkan dan mengganggu kinerja. Atau seorang pelajar, bermain gawai di waktu pembelajaran juga bukan etika nan baik. Bagi seorang ibu nan mengurus rumah dan anak-anak, bermain gawai di sela-sela pekerjaan rumah bakal menyebabkan pekerjaan rumah bakal terlambat selesai, hidangan terlambat tersajikan sehingga mempengaruhi kelanjutan aktivitas berikutnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَنْ ائْتَمَنَكَ وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

“Tunaikanlah amanah kepada siapa saja nan memberi amanah terhadapmu dan jangan mengkhianati siapa saja nan mengkhianatimu.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

Baca juga: Menjadi Pribadi nan Beradab Dalam Berkomentar Di Dunia Maya

Bersyukur atas Nikmat Kemudahan

Tidak bisa dipungkiri meski banyak nan kudu kita jaga, namun adanya gawai dengan segala macam teknologinya adalah suatu kemudahan nan diberikan oleh Allah untuk umat manusia. Kita bisa menyimak kajian dari jarak jauh, sehingga dakwah Islam semakin meluas. Bisa berbelanja dan berbagi kepada orang lain dengan mudah sehingga lebih efektif dan efisien. Oleh karenaitu, hendaklah kita berterima kasih dengan sebenar-benarnya.

Ibnu Qayyim menyebut rukun syukur, ialah dengan mengakui bahwa nikmat itu berasal dari Allah, kemudian memuji Allah atas nikmat tersebut dan menggunakan nikmat nan telah diberikan tersebut untuk ketaatan kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Maka makanlah nan legal lagi baik dari rezeki nan telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika Anda hanya kepada-Nya saja menyembah.”  (QS. An-Nahl: 114)

Tips-tips kondusif menggunakan gawai

Gawai ini sudah menjadi sebuah kebutuhan bagi masyarakat modern masa ini. Bahkan, pekerjaan pun bisa jadi terikat dengan gawai. Maka perihal nan bisa kita lakukan agar terhindar dari keburukan nan mungkin terlintas adalah memberikan batasan. Di antara batasan-batasan tersebut:

  1. Hanya menginstal aplikasi nan diperlukan

Ada banyak sekali aplikasi cuma-cuma nan tersedia untuk diunduh, namun tentu tidak semua kita perlukan. Maka, sebaiknya kita menginstal aplikasi nan betul-betul kita perlukan nan mendukung aktivitas harian kita.

  1. Mengikuti akun bermanfaat

Ketika kita menggunakan akun media sosial, seperti facebook, instagram, dan lainnya hendaknya kita mengikuti (mem-follow) akun-akun nan memberikan faedah untuk alambaka dan bumi kita. Sehingga info nan muncul di beranda akun kita adalah sesuatu nan bermanfaat. Misalnya, akun para ustadz, akun nasehat islami, akun tips memasak, akun tentang pendidikan anak, dan lain sebagainya.

  1. Berteman dengan orang-orang nan baik

Selain mengikuti akun nan berfaedah untuk lebih menjadikan beranda kita sejuk menyejukkan adalah hanya berkawan dengan orang-orang nan kita ketahui bahwa dia adalah orang baik. Sehingga ketika mengunggah suatu informasi, bakal mendapatkan respon nan positif. Jikalau unggahan itu sesuatu nan keliru, teman-teman kita bakal memberikan nasihat dengan langkah nan hikmah.

  1. Membatasi grup

Setiap organisasi selalu mau mempunyai forum untuk bisa berinteraksi berbareng nan pada akhirnya membentuk grup dalam aplikasi whatsApp. Coba bayangkan jika kita mengikuti alias terikat pada banyak forum, dan semua ada grup masing-masing, berapa grup nan bakal ada dalam akun kita. Maka perlu kita pilah, manakah grup nan betul-betul memberikan faedah dan krusial bagi kita.

  1. Memberikan batas waktu

Dunia maya itu seakan bumi tanpa batas. Jika kita menuruti kemauan semata, bakal berlalu menit demi menit, jam demi jam tanpa kita sadari. Baik itu hanya sekedar berbalas pesan dengan seseorang, membaca berita-berita nan lewat alias apalagi hanya mencari-cari sesuatu resep alias tips memasak. Oleh lantaran itu, ketika bakal memulai, maka sebaiknya kita berikan batas waktu. Misalnya, saya mau mencari resep kue brownies selama 10 menit. Maka ketika berlalu sepuluh menit, kita harus mengakhirinya.

Sebuah upaya nan dilakukan dengan sungguh-sungguh, meski itu adalah sesuatu nan susah tentu tidak bakal dibiarkan begitu saja oleh Allah nan Maha Bijaksana. Di tengah hiruk pikuk media sosial dan bumi maya, kita berupaya menjaga diri dari segala tuduhan untuk memperoleh faedah nan banyak melalui gawai dengan menggunakannya dengan bijaksana.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang nan berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, betul-betul bakal Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah betul-betul beserta orang-orang nan melakukan baik.” (QS. Al-’Ankabut: 69)

Semoga Allah memberikan kebaikan kita di bumi dan di alambaka dan menjauhkan kita dari api neraka.. Amiin..

Kembali ke bagian 1: Gawai dalam Genggaman, Amal dalam Hitungan, bag. 1

Referensi:

  • Ad-Da`u wa ad-Dawa’ u (terjemahan); Macam-Macam Penyakit Hati nan Membahayakan dan Resep Pengobatannya, Ibnu Qayyim al-Jauziyyyah, Cetakan ke tiga, Pustaka Imam asy-Syafi’i, Jakarta: 2011
  • Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi, al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya Ibnu Syaraf an-Nawawi (Edisi Indonesia), Media Hidayah, Yogyakarta: 2006
  • Website almanhaj.or.id

Penulis: Khusnul Rofiana

Artikel Muslimah.or.id

Selengkapnya
Sumber Artikel Islami Muslimah.or.id
Artikel Islami Muslimah.or.id