Hadis: Mukmin Yang Kuat

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Teks hadis

Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Seorang mukmin nan kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin nan lemah, namun pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa nan berfaedah bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan loyo/malas. Apabila sesuatu menimpamu, janganlah berkata, ‘Seandainya dulu saya melakukan demikian, niscaya bakal begini dan begitu.’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Itulah ketetapan Allah. Dan apa nan Dia inginkan, maka Dia kerjakan.’ Dikarenakan ucapan ’seandainya’ itu bakal membuka celah perbuatan setan.” (HR. Muslim no. 2664. Lihat Syarh Nawawi, jilid 8, hal. 260.)

Kandungan hadis

Hadis nan mulia ini menunjukkan:

Pertama: Allah Ta’ala mempunyai sifat cinta kepada sesuatu. Kecintaan Allah kepada sesuatu bertingkat-tingkat. Kecintaan-Nya kepada mukmin nan kuat (imannya) lebih dalam daripada kecintaan-Nya kepada mukmin nan lemah (imannya). Orang mukmin nan kuat adalah orang nan menyempurnakan dirinya dengan 4 hal: 1) pengetahuan nan bermanfaat, 2) beramal saleh, 3) saling membujuk kepada kebenaran, dan 4) saling menasihati kepada kesabaran. Adapun mukmin nan lemah adalah nan belum bisa menyempurnakan semua tingkatan ini.

Kedua: Kebaikan pada diri orang-orang beragama itu bertingkat-tingkat. Mereka terdiri dari tiga golongan manusia. Pertama, kaum As-Sabiqun ilal khairat, orang-orang nan bersegera melakukan kebaikan-kebaikan. Mereka adalah orang-orang nan menunaikan kebaikan nan wajib maupun nan sunah serta meninggalkan perkara nan haram dan nan makruh. Kedua, kaum Al-Muqtashidun alias pertengahan. Mereka itu adalah orang nan hanya mencukupkan diri dengan melakukan tanggungjawab dan meninggalkan keharaman. Ketiga, Azh-Zhalimuna li anfusihim. Mereka adalah orang-orang nan mencampuri kebaikan kebaikan mereka dengan amal-amal jelek.

Ketiga: Perkara nan berfaedah ada dua macam: perkara akhirat/keagamaan dan perkara keduniaan. Sebagaimana seorang hamba memerlukan perkara agama, maka dia juga memerlukan perkara dunia. Kebahagiaan dirinya bakal tercapai dengan senantiasa antusias untuk melakukan hal-hal nan berfaedah di dalam kedua perkara tersebut.

Perkara nan berfaedah dalam urusan kepercayaan kuncinya ada 2: pengetahuan nan berfaedah dan kebaikan saleh. Ilmu nan berfaedah adalah pengetahuan nan membersihkan hati dan roh sehingga dapat membuahkan kebahagiaan di bumi dan di akhirat, ialah pengetahuan nan diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam nan terdapat dalam pengetahuan hadis, tafsir, dan fikih serta ilmu-ilmu lain nan dapat membantunya seperti pengetahuan bahasa Arab dan lain sebagainya. Adapun kebaikan saleh adalah kebaikan nan memadukan antara niat nan tulus untuk Allah serta perbuatan nan selalu mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sedangkan perkara bumi nan berfaedah bagi manusia adalah dengan bekerja mencari rezeki. Pekerjaan nan paling utama bagi seseorang, berbeda-beda tergantung pada perseorangan dan keadaan mereka. Batasan untuk itu adalah selama perihal itu betul-betul berfaedah baginya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Bersemangatlah untuk meraih apa nan berfaedah bagimu.”

Keempat: Dalam melakukan hal-hal nan berfaedah itu, tidak sepantasnya manusia bersandar kepada kekuatan, kemampuan, dan kecerdasannya semata. Namun, dia kudu menggantungkan hatinya kepada Allah Ta’ala dan meminta pertolongan-Nya dengan angan Allah bakal memudahkan urusannya.

Kelima: Apabila seseorang menjumpai perkara nan tidak menyenangkan setelah dia berupaya sekuat tenaga, maka hendaknya dia merasa rida dengan takdir Allah Ta’ala. Tidak perlu berandai-andai. Karena dalam kondisi semacam itu, berandai-andai justru bakal membuka celah bagi setan. Dengan sikap semacam inilah, hati kita bakal menjadi tenang dan tenteram dalam menghadapi musibah nan menimpa.

Keenam: Di dalam sabda nan mulia ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggabungkan antara keagamaan kepada takdir dengan melakukan upaya nan bermanfaat. Kedua pokok ini telah ditunjukkan oleh dalil Al-Kitab maupun As-Sunnah dalam banyak tempat. Agama seseorang tidak bakal sempurna, selain dengan kedua perihal itu.

Sabda Nabi, “Bersemangatlah untuk melakukan apa nan berfaedah bagimu”, merupakan perintah untuk menempuh sebab-sebab kepercayaan maupun dunia. Bahkan, di dalamnya terkandung perintah untuk bersungguh-sungguh dalam melakukannya, membersihkan niat dan membulatkan tekad, mewujudkan perihal itu dan mengaturnya dengan sebaik-baiknya. Sedangkan sabda Nabi, “Dan mintalah pertolongan kepada Allah”, merupakan corak keagamaan kepada takdir serta perintah untuk bertawakal kepada Allah ketika mencari kemanfaatan dan mengelak dari kemudaratan dengan penuh rasa minta kepada Allah Ta’ala agar urusan bumi dan agamanya menjadi sempurna.

***

Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.

Artikel: Muslim.or.id

Sumber:

Diringkas dari Bahjat Al-Qulub Al-Abrar wa Qurratu ‘Uyun Al-Akhyar Syarh Jawami’ Al-Akhbar, karya Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu ta’ala, cetakan Darul Kutub Ilmiyah, hal. 40-46.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah