Hadis: Perintah Kepada Para Pemuda Untuk Menikah (bag. 1)

Sedang Trending 4 minggu yang lalu

Teks sabda

Diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai sekalian pemuda, siapa saja di antara kalian nan telah mempunyai kemampuan, maka hendaklah dia menikah, lantaran menikah itu dapat menundukkan pandangan, dan juga lebih bisa menjaga kemaluan. Namun, siapa saja nan belum mampu, hendaklah dia berpuasa, karena perihal itu dapat meredakan nafsunya.” (HR. Bukhari no. 1905, 5065, 5066, dan Muslim no. 1905)

Kandungan sabda

Kandungan pertama

Hadis di atas ditujukan kepada para pemuda. Siapakah nan disebut dengan “pemuda” (asy-syabab) itu? Asy-syabab memiliki makna asal: aktivitas dan semangat. Hal ini lantaran pada masa itu, seseorang mempunyai lebih banyak aktivitas dan semangat dibandingkan periode kehidupan nan lainnya. Kata asy-syabab dimaksudkan untuk orang nan telah baligh hingga mencapai usia tiga puluh tahun. Ada pula nan menyebut hingga usia tiga puluh dua alias tiga puluh tiga tahun. Namun, ada pula nan menyebut hingga usia empat puluh tahun. (Lihat Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 9: 182; Al-I’lam li Ibnil Mulaqqin, 8: 109; Al-Mu’jam Al-Wajiz, hal. 333)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan menyebut para pemuda dalam sabda ini lantaran masa muda adalah masa bergolak dan meletupnya syahwat nan mendorong untuk jimak (hubungan badan). Berbeda halnya dengan orang-orang nan sudah separuh baya alias tua renta. Akan tetapi, jika kondisi nan sama juga didapatkan pada orang separuh baya alias tua renta, maka mereka pun tercakup dalam seruan sabda ini, lantaran mempunyai argumen (sebab) nan sama.

Kandungan kedua

Apakah nan dimaksud dengan “mampu” (al-ba’ah) dalam sabda ini? Para ustadz berbeda pendapat tentang makna al-ba’ah, ada nan mengatakan bahwa maknanya adalah keahlian untuk berjimak. Sehingga makna sabda tersebut menjadi, “Siapa saja di antara kalian nan bisa berjimak lantaran sudah mempunyai biaya untuk menikah, baik mahar, nafkah, alias tempat tinggal, maka hendaklah dia menikah.” Pendapat kedua mengatakan bahwa maknanya adalah mempunyai biaya untuk menikah, baik mahar alias nafkah. (Lihat Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 9: 183; Fathul Bari, 9: 108)

Pendapat kedua inilah nan lebih tepat, dengan beberapa argumen berikut ini:

Pertama, seruan tersebut ditujukan kepada para pemuda nan memang sudah bisa untuk berjimak. Sehingga kurang sesuai andaikan dimaknai bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Siapa saja di antara kalian nan bisa untuk berjimak.” Hal ini lantaran memang masa muda itu adalah masa di mana seseorang secara umum sudah bisa untuk berjimak.

Kedua, di ahir hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Siapa saja nan belum mampu, hendaklah dia berpuasa.” Jika “mampu” tersebut dimaknai dengan bisa berjimak, maka kalimat tersebut menjadi aneh. Karena orang nan belum bisa berjimak (atau belum ada gejolak syahwat untuk berjimak), tidak perlu berpuasa untuk bisa menahan syahwatnya.

Ketiga, hadis tersebut juga terdapat dalam Sunan An-Nasa’i dengan lafal,

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ ذَا طَوْلٍ فَلْيَتَزَوَّجْ

“Siapa saja di antara kalian nan mempunyai kemampuan, maka hendaknya dia menikah .. “ (HR. An-Nasa’i no. 3206)

Oleh lantaran itu, sabda ini merupakan dorongan dan motivasi kepada para pemuda nan mempunyai biaya untuk menikah. Karena menikah itu mempunyai maslahat nan besar. Menikah mempunyai hikmah nan agung, ialah bisa menjaganya dari terjerumus ke dalam perkara nan diharamkan.

Meskipun demikian, tidak masalah jika “mampu” tersebut dimaknai lebih umum, ialah mencakup kedua makna tersebut sekaligus: bisa untuk berjimak dan bisa menanggung biaya menikah. (Lihat Al-I’lam, 8: 110)

Baca juga: Menikah adalah Sunah Nabi

Kandungan ketiga

Para ustadz berbeda pendapat tentang norma menikah ketika aspek pendorongnya terpenuhi dan tidak ada aspek penghalang, menjadi dua pendapat:

Pendapat pertama, hukum menikah adalah wajib. Ini adalah pendapat Dawud bin ‘Ali, Ibnu Hazm, Abu ‘Awanah (salah satu ustadz Syafi’iyyah), dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. (Lihat Musnad Abu ‘Awanah, 3: 5; Al-Mughni, 9: 340; Al-Muhalla, 9: 440)

Mereka beralasan dengan perintah untuk menikah, seperti firman Allah Ta’ala,

فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء

“Maka nikahilah wanita-wanita (lain) nan Anda senangi … “ (QS. An-Nisa’: 3)

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ

“Dan nikahkanlah orang-orang nan sendirian di antara kalian .. “ (QS. An-Nuur: 32)

Mereka juga beralasan dengan sabda nan sedang kita telaah saat ini. Ibnu Daqiq Al-‘Id rahimahullah berkata, “Diksi kata perintah itu zahirnya menunjukkan norma wajib.”

Pendapat kedua, menikah itu sunah. Ini adalah pendapat jumhur ulama, di antaranya pemimpin ajaran nan tiga (Imam Abu Hanifah, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Malik), serta pendapat kedua dari Imam Ahmad. (Lihat Bidayatul Mujtahid, 3: 7; Syarh Fathul Qadir, 3: 187; Al-Mughni, 9: 340; Mughni Al-Muhtaj, 3: 127)

Akan tetapi, mereka mengatakan bahwa andaikan kemauan (kebutuhan) terhadap menikah itu sangat mendesak, dari sisi dia takut bahwa dirinya bakal terjerumus ke dalam zina, maka wajib baginya menikah andaikan mempunyai keahlian menanggung biaya nikah.

Mereka beralasan dengan firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

“Dan orang-orang nan menjaga kemaluannya, selain terhadap istri-istri mereka alias budak nan mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam perihal ini tiada tercela.” (QS. Al-Mu’minun: 5-6)

Sisi pendalilan dari ayat tersebut adalah bahwa ayat tersebut jelas menunjukkan pujian kepada orang-orang nan menjaga kemaluannya dari perbuatan zina dengan (menyetubuhi) budak-budak nan mereka miliki, sehingga tidak perlu menikah. Seandainya norma menikah itu wajib, maka orang nan tidak menikah itu tidak bakal mendapatkan pujian. Karena orang nan meninggalkan tanggungjawab itu tidak dipuji, tetapi dicela.

Mereka juga beralasan dengan sabda nan sedang kita telaah saat ini. Sisi pendalilannya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan puasa sebagai pengganti menikah, sedangkan puasa dalam kondisi ini tidaklah sampai derajat wajib. Sehingga perihal ini menunjukkan bahwa menikah itu tidak wajib. Amal nan tidak wajib (yaitu puasa) tidak bisa menggantikan kebaikan nan wajib (yaitu menikah). (Lihat Al-Mu’lim, 2: 85; karya Al-Maziri)

Syekh ‘Abdullah Al-Fauzan hafizahullah berkata, “Yang tampak bagiku, wallahu Ta’ala a’lam, adalah wajibnya menikah secara absolut dengan dua syarat: (1) jika dia mempunyai syahwat; dan (2) mempunyai keahlian menanggung biaya nikah, berasas atas sabda ini. Juga lantaran mencegah perkara haram itu wajib, sedangkan perkara nan menjadi sarana mengerjakan perkara wajib itu juga hukumnya wajib. Betapa bagusnya perkataan Al-Qurthubi, ‘Orang nan bisa (menikah) nan dikhawatirkan terdapat marabahaya (mudarat) pada diri dan agamanya jika tidak menikah, dan marabahaya tersebut tidak bakal lenyap selain dengan menikah, maka tidak ada perbedaan pendapat tentang wajibnya menikah atas dirinya.’ (Al-Mufhim, 4: 82)” (Dikutip dari Minhatul ‘Allam, 7: 174)

[Bersambung]

Baca juga: Anggapan Sial Menikah di Bulan Muharam

***

@BA, 28 Syawal 1445/ 7 Mei 2024

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Buluughil Maraam (7: 170-177).

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah