Hajar Aswad Pernah Hancur Berkeping-keping, Ini Sejumlah Penyebabnya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA— Hajar Aswad mempunyai banyak kisah nan menyertainya. Batu nan semula berwarna hitam ini pun, rupanya semula utuh lampau pernah rusak hingga menjadi delapan kepingan.

Menurut riwayat, Hajar Aswad dahulunya adalah sebongkah batu besar berwarna putih.     

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَكَانَ أَشَدَّ بَيَاضاً مِنَ الثَّلْجِ حَتَّى سَوَّدَتْهُ خَطَايَا أَهْلِ الشِّرْكِ.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berbicara bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hajar aswad adalah batu dari surga. Batu tersebut lebih putih dari salju. Dosa orang-orang musyriklah nan membuatnya menjadi hitam.” (HR Ahmad)

Namun, saat ini batu itu telah terpecah menjadi sekitar delapan keping dengan beragam ukuran. Batu-batu itu dikumpulkan dan diikat dengan lingkaran perak. Ada beberapa peristiwa nan menyebabkan kerusakan Hajar Aswad. 

Di antaranya adalah musibah banjir, pengepungan, dan penjarahan Kabah oleh sekte Syiah ketua Abu Thahir.

Ashim bin Musthafa dalam tulisan berjudul "Penjarahan Hajar Aswad" nan dilansir laman Almanhaj mengungkapkan, Abu Thahir mempunyai nama komplit Sulaiman bin Abu Said al-Husain al-Janabi.

Dia adalah tokoh golongan Qara mithah (salah satu sekte Syiah Isma'ili yah) pada masanya. Abu Thahir al-Janabi bertanggung jawab atas kerusakan dan peperangan terhadap kaum Muslimin nan terjadi pada musim haji 317 H. Bahkan, kota suci Makkah dan Masjidil Haram pun tak luput dari kejahatannya.

Kisah pilu tentang kesadisan Abu Thahir al-Janabi dan kelompoknya itu terekam jelas dalam kitab Bidayah wan Nihayah nan ditulis Ibnu Katsir. Pada 8 Dzulhijah 317 H, orang-orang Qara mithah melancarkan huru-hara di Tanah Haram. Mereka merampok dan membunuhi kaum Muslim nan sedang me nu naikan ibadah haji.

Saat gerombolan Qaramithah menjalankan tindakan kejahatannya, sebagian jamaah haji berupaya menyelamatkan diri dengan berpegangan pada kiswah Kabah. Namun, mereka tetap menjadi korban. 

Pedang-pedang milik kaum Syiah Qaramithah menebas mereka de ngan tanpa ampun. Begitu pula halnya dengan para jamaah nan sedang mela kukan tawaf, juga tewas seketika di tangan golongan Abu Thahir al-Janabi. "Bahkan, di antara korban nan meninggal akibat keganasan kaum Qaramithah itu juga terdapat para ustadz mahir hadis," ujar Ashim.

Kekacauan tidak berakhir sampai di situ saja. Abu Thahir kemudian memerintahkan anak buahnya untuk mencongkel Hajar Aswad dari tembok Kabah. Batu dari surga itu selanjutnya dibawa Abu Thahir ke daerahnya dan terus berada di dalam penguasaan golongan Syiah Qaramithah selama 22 tahun. Pada 339 H, Hajar Aswad akhirnya dikembalikan ke tempatnya semula di Makkah. 

sumber : Harian Republika

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam