Hak Suami Di Dalam Islam (bag. 2)

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Pada tulisan sebelumnya, telah disebutkan tiga kewenangan suami di dalam Islam. Pada tulisan ini, kita bakal membahas poin-poin selanjutnya.

4. Istri Tidak Keluar Rumah Tanpa Izin dari Suami

Jika sang istri mau keluar dari rumah, maka istri wajib meminta izin kepada suaminya. Sebagaimana dalam lafaz Ibnu Hibban disebutkan sabda dari Abu Hurairah,

لاَ تَأْذَنُ المَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَهُوَ شَاهِدُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tidak boleh seorang wanita mengizinkan seorang pun untuk masuk di rumah suaminya, sedangkan suaminya ada, melainkan dengan izin suaminya.” (HR. Ibnu Hibban 9: 476. Kata Syekh Syu’aib Al-Arnauth bahwa sanad sabda ini sahih sesuai syarat Muslim)

Akan tetapi, andaikan istri dihadapkan dengan keadaan nan mendesak dirinya untuk keluar rumah, maka perihal ini diperbolehkan oleh para ulama. Salah satunya dari Ar-Ruhaibani rahimahullah, beliau menjelaskan dalam kitab Mathalib Ulinnuha,

Donasi Operasional YPIA

“Haram bagi istri keluar rumah tanpa izin suami, bukan untuk keperluan nan darurat, seperti kebutuhan makan nan tak ada orang lain nan bisa membantunya mendatangkan ke rumah.”

5. Suami Mendisiplinkan Istri

Apabila istri tidak mematuhi suami alias melakukan perkara-perkara dosa, maka suami berkuasa untuk mendisiplinkannya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱلَّٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهْجُرُوهُنَّ فِى ٱلْمَضَاجِعِ وَٱضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا۟ عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“Wanita-wanita nan Anda khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah Anda mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisa 4:34)

Yang dimaksud dengan nusyuz adalah durhaka. Suami berkuasa untuk memukul istri tetapi dengan beberapa syarat nan kudu terpenuhi sebagaimana nan sudah dijelaskan pada tulisan sebelumnya.

Baca juga: Suami Berdosa Jika Tidak Menggauli Istrinya

6. Istri Melayani Suami dalam Urusan Sehari-hari

Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka dapat kita petik bahwa istri juga melayani suami dalam kehidupan sehari-hari. Pada surat Al-Baqarah ayat 228, nan dimaksud dengan ma’ruf ialah sesuai dengan ‘urf alias kebiasaan masyarakat sekitar.

Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam kitab Tafsir as-Sa’di menjelaskan tafsir dari ayat tersebut, yaitu,

“Maksudnya, para wanita mempunyai kewenangan nan wajib atas suami-suami mereka sebagaimana para suami mempunyai kewenangan nan wajib maupun nan sunnah atas mereka, dan patokan bagi hak-hak di antara suami-istri adalah pada nan Ma’ruf ialah menurut budaya nan bertindak pada negeri tersebut dan pada masa itu dari wanita nan setara untuk laki-laki nan setara, dan perihal itu berbeda sesuai dengan perbedaan waktu, tempat, kondisi, orang dan kebiasaan. Disini terdapat dalil bahwa nafkah, pakaian, pergaulan, dan tempat tinggal, demikian juga berjima, semua itu kembali kepada nan Ma’ruf.”

Selain itu, Syihabuddin al-Qasthalani rahimahullah juga menjelaskan,

“(Istri bertanggung jawab terhadap rumah suaminya), ialah dengan berupaya mengurus urusan rumah tangga dengan baik, serta berkomitmen untuk melayani keperluan suaminya serta tamu-tamu dari suaminya.” (Irsyadus Sari, 15/86)

7. Istri Menyerahkan Dirinya ke Suaminya

Setelah janji nikah dilakukan dan sah, maka istri wajib menyerahkan dirinya ke suaminya dan mengizinkan suaminya untuk mendapatkan haknya. Istri telah menjadi tanggungan suaminya, bukan lagi tanggungan ayahnya.

8. Istri Memperlakukan Suami dengan Akhlak nan Baik

Apabila istri berkuasa untuk diperlakukan baik oleh suaminya, maka suami juga berkuasa diperlakukan baik oleh istrinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berfirman tentang sifat wanita penunggu Surga,

وَنِسَاؤُكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ: اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا؛ اَلَّتِي إِذَا غَضِبَ جَائَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِيْ يَدِ زَوْجِهَا وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوْقُ غَمْضًا حَتَّى تَرْضَى

“Wanita-wanita kalian nan menjadi penunggu Surga adalah nan penuh kasih sayang, banyak anak, dan banyak kembali (setia) kepada suaminya nan andaikan suaminya marah, dia mendatanginya dan meletakkan tangannya di atas tangan suaminya dan berkata, ‘Aku tidak dapat tidur nyenyak hingga engkau ridha.’” (HR. ath-Thabrani dan an-Nasa-i, dihasankan oleh Syekh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahiihah (no. 287))

Wallahu ta’ala a’lam

Kembali ke bagian 1: Hak Suami di dalam Islam (Bag. 1)

Artikel ini terinspirasi dari tulisan berjudul “Rights of Husband and Rights of Wife in Islam”

pada laman IslamQA oleh Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid nan diakses di https://islamqa.info/en/answers/10680/rights-of-husband-and-rights-of-wife-in-islam

Referensi lain:

  • Al-Qur’an, terjemahannya, dan tafsirnya nan diakses pada https://tafsirweb.com/
  • Islamweb, 2019, “Peringatan terhadap Dosa Besar”, diakses dari https://www.islamweb.net/id/article/226084/Peringatan-terhadap-Dosa-Besar
  • Muhammad Abduh Tuasikal, 2012, “Kewajiban Istri (1)”, diakses dari https://rumaysho.com/2205-kewajiban-istri-1.html
  • Ahmad Anshori, 2023, “Keadaan nan Membolehkan Istri Keluar Rumah Tanpa Izin Suami”, diakses dari https://remajaislam.com/3623-keadaan-yang-membolehkan-istri-keluar-rumah-tanpa-izin-suami.html
  • Yulian Purnama, 2023, “Tugas-Tugas Istri”, diakses dari https://muslimah.or.id/12560-tugas-tugas-istri.html
  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas, “Hak Suami nan Harus Dipenuhi Istri”, diakses dari https://almanhaj.or.id/2080-hak-suami-yang-harus-dipenuhi-isteri.html

Penulis: Lisa Almira

Artikel Muslimah.or.id

Selengkapnya
Sumber Artikel Islami Muslimah.or.id
Artikel Islami Muslimah.or.id