Hakikat Penciptaan Manusia

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Setiap insan hendaknya senantiasa menyadari bahwa tidaklah dia diciptakan untuk sebuah kesia-siaan. Allah tabaraka wa ta’ala menciptakan manusia dengan haq sebagaimana firmanNya,

خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ بِٱلْحَقِّ

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan hak.” (QS. An-Nahl: 3)

Pada ayat di atas, Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan tentang ciptaanNya, berupa alam atas ialah tujuh lapis langit dan alam bawah ialah tujuh lapis bumi beserta segala isinya. Dan sungguh semuanya diciptakan dengan benar, tidak main-main. Bahkan,

لِيَجْزِىَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔوا۟ بِمَا عَمِلُوا۟ وَيَجْزِىَ ٱلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ بِٱلْحُسْنَى

Donasi Operasional YPIA

“Untuk memberi jawaban kepada orang-orang nan melakukan jahat terhadap apa nan telah mereka kerjakan dan memberi jawaban kepada orang-orang nan melakukan baik dengan pahala nan lebih baik (Surga)” (QS. An-Najm: 31) (Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, 5/148)

Dan Allah menciptakan mereka untuk sesuatu nan haq ialah untuk beragama kepadaNya semata, sebagaimana firmanNya,

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan saya tidak menciptakan hantu dan manusia melainkan agar mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Makna ayat di atas adalah bahwa Allah tabaraka wa ta’ala menciptakan para hambaNya agar beragama hanya kepadaNya saja, tidak ada sekutu bagiNya. Barangsiapa nan mentaatiNya, dia bakal diberi jawaban nan sempurna. Dan barangsiapa nan mendurhakaiNya, maka dia bakal disiksa dengan seberat-beratnya. (Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, 8/555)

Di dalam Al Quran, Allah juga menerangkan bahwa tidaklah manusia diciptakan kemudian dibiarkan begitu saja, hanya untuk permainan dan senda gurauan belaka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَيَحْسَبُ ٱلْإِنسَٰنُ أَن يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, bahwa dia bakal dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS. Al-Qiyamah: 36)

Yakni tidak dibiarkan begitu saja di bumi tanpa perintah alias larangan, dan tidak dibiarkan di kubur tanpa dibangkitkan kembali, semua manusia diperintahkan untuk (melakukan kebaikan) dan dilarang (melakukan keburukan) di dunia. Kemudian mereka bakal dibangkitkan pada hari hariakhir menuju Allah subhanahu wa ta’ala. (Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, 9/395)

Baca juga: Ketauhidan Sesuai dengan Fitrah Manusia

Ini merupakan sanggahan nan telak bagi orang-orang kafir nan beranggapan bahwa kehidupan di bumi ini hanyalah untuk meraih puncak kesenangan semata dan kelak mereka tidak bakal dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban atas apa nan telah mereka perbuat selama di dunia.

Allah ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْنَا ٱلسَّمَآءَ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَٰطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنَ ٱلنَّارِ * أَمْ نَجْعَلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ كَٱلْمُفْسِدِينَ فِى ٱلْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ ٱلْمُتَّقِينَ كَٱلْفُجَّارِ

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa nan ada antara keduanya tanpa hikmah. nan demikian itu adalah dugaan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu lantaran mereka bakal masuk neraka Patutkah Kami menganggap orang-orang nan beragama dan mengerjakan kebaikan nan salih sama dengan orang-orang nan melakukan kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang nan bertakwa sama dengan orang-orang nan melakukan maksiat?” (QS. Shad: 28)

Dan di dalam Al-Quran Allah telah memuji hamba-hambaNya nan bertakwa, wali-waliNya nan beriman, dan golongan orang-orang nan dekat denganNya, nan mempunyai pemikiran nan selamat lagi logika nan lurus, dimana mereka senantiasa memikirkan hikmah di kembali pembuatan langit dan bumi, merenungi ayat-ayat Allah nan terhampar di hadapan mata mereka, hingga mereka pun mengatakan,

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 191)

Aqidah ini (bahwa Allah tidak menciptakan makhlukNya untuk kesia-siaan) berakibat terhadap amal-amal mereka, pada akhlak, pola hidup serta ibadah mereka. Keyakinan ini membuahkan amal-amal shalih, ketaatan-ketaatan nan menyucikan dan memperindah kedekatan kepada Allah jalla jalaluhu.

Seorang nan beragama meyakini bahwa Allah adalah Al-Haqq ialah nan tidak ada kerancuan dan keraguan padaNya, tidak pada DzatNya, tidak pada nama-nama dan sifat-sifatNya, dan tidak pula pada uluhiyyahNya. Dia adalah sesembahan nan hak, tidak ada sesembahan nan kewenangan selain dariNya, maka Dia adalah Maha Haq, nama-nama dan sifat-sifatNya haq, seluruh perbuatan dan perkataanNya adalah haq, kepercayaan dan syariatNya juga haq, seluruh kabarNya adalah haq, janjiNya haq dan berjumpa denganNya adalah haq. (Fikih Asma’ul Husna, hal. 357)

Inilah sedikit perenungan bagi hati dan pencerahan bagi manusia tentang prinsip pembuatan mereka, agar mereka tidak tenggelam dalam kelalaian dan hendaknya memanfaatkan setiap waktu dengan sebaik-baiknya, karena tidaklah mereka diciptakan untuk kesia-siaan dan senda gurauan belaka.

Umar bin Abdul ‘Aziz mengatakan dalam khutbah terakhirnya, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian tidak diciptakan untuk kesia-siaan, dan kalian tidak dibiarkan begitu saja. Sesungguhnya kalian mempunyai tempat kembali di mana saat itu Allah turun untuk menetapkan keputusanNya di antara kalian dan memberikan ketetapanNya terhadap kalian. Sungguh merugi dan menyesal orang nan keluar dari rahmat Allah nan mencakup segala sesuatu, mengharamkan dirinya dari surga nan luasnya seluas langit dan bumi.

Ketahuilah bahwa agunan keamanan besok adalah milik orang-orang nan takut dan cemas kepada siksa Allah, dia menjual apa nan lenyap dengan apa nan kekal, menjual nan sedikit dengan nan banyak, menjual rasa takut dengan rasa aman. Apakah kalian tidak memandang bahwa kalian melangkah di atas rombongan orang-orang nan lenyap dan setelah kalian bakal datang orang-orang nan bakal menggantikan kalian sehingga bumi ini berpulang kepada Allah sebagai sebaik-baik pewaris?

Setiap hari kalian mengantarkan orang-orang nan pergi kepada Allah di pagi dan petang hari, dia telah menyelesaikan kehidupannya dan lenyap masa ajalnya, kalian meletakkannya dalam sebuah lubang di perut bumi, kemudian kalian meninggalkannya tanpa dasar dan tanpa tikar, dia meninggalkan orang-orang nan dia cintai, meninggalkan segala hubungan, dia tinggal di dalam tanah dan menghadapi hisab, dia tergadaikan dengan kebaikan perbuatannya, memerlukan apa nan telah dia lakukan dan tidak memerlukan apa nan dia tinggalkan. Maka bertakwalah kalian kepada Allah sebelum hadirnya kematian dan datang tanda-tandanya.” Kemudian Umar mengangkat ujung kainnya lampau dia menangis sesenggukan dan membikin orang-orang di sekitarnya ikut menangis. (Perjalanan Hidup Khalifah nan Agung Umar bin ‘Abdul Aziz – Ulama dan Pemimpin nan Adil, hal. 592-593)

Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk memanfaatkan kehidupan di bumi ini dengan sebaik-baiknya, menyiapkan bekal terbaik untuk perjumpaan dengan Allah tabaraka wa ta’ala. Hanya kepada Allah kita memohon hidayah dan taufik.

Baca juga: Apakah “Hijrahku” Jujur Kepada Allah?

Diintisarikan dari pengantar Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al- ‘Abbad Al-Badr dalam kitab beliau, Ta’liqat ‘Ala Risalah Wajibuna Nahwa Ma Amaranallahu Bih Lisyakhil Islam Muhammad Bin Abdul Wahhab Rahimahullah dengan penambahan.

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

  • Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Terjemahan), Terbitan Pustaka Ibnu Katsir Jakarta
  • Fikih Asma’ul Husna, Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr, Terbitan Darus Sunnah Jakarta
  • Perjalanan Hidup Khalifah nan Agung Umar bin ‘Abdul Aziz – Ulama dan Pemimpin nan Adil, Dr. Ali Muhammad Ash Shallabi, Terbitan Darul Haq Jakarta
Selengkapnya
Sumber Artikel Islami Muslimah.or.id
Artikel Islami Muslimah.or.id