Hal-hal Yang Dilarang Saat Melaksanakan Haji Beserta Dalilnya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA,JAKARTA – Sebagai umat muslim nan beriman, wajib bagi mereka untuk melaksanakan segala ibadah nan diperintahkan oleh Allah SWT, salah satunya adalah haji. Haji merupakan ibadah nan termasuk ke dalam rukun Islam nan kelima dan kudu dilakukan sesuai dengan syariat. Terdapat perihal – perihal nan tidak boleh dilakukan ketika Ihram.

Bagi para jamaah, wajib memperhatikan apa saja larangan – larangan nan tidak boleh dilakukan selama Ihram. Hal tersebut guna menjaga kesempurnaan ibadah haji agar seluruh ibadah nan dilakukan dapat diterima oleh Allah SWT. Berikut perihal – perihal nan dilarang ketika Ihram,

Pertama, Nabi Muhammad SAW melarang bagi para jamaah laki – laki untuk memakai penutup kepala seperti peci, topi, sorban, dan penutup kepala lainnya. Hal tersebut dijelaskan pada Hadits Riwayat Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda,

   فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَلْبَسُوا الْقَمِيصَ وَلَا السَّرَاوِيلَاتِ وَلَا الْعَمَائِمَ وَلَا الْبَرَانِسَ   

Artinya : “Janganlah kalian memakai baju, celana, sorban, jubah (pakaian nan menutupi kepala.”

Kedua, selama berihram seluruh jamaah haji dilarang untuk memakai busana nan berjahit. Menurut Hadits Riwayat Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَاذَا تَأْمُرُنَا أَنْ نَلْبَسَ مِنْ الثِّيَابِ فِي الْإِحْرَامِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَلْبَسُوا الْقَمِيصَ وَلَا السَّرَاوِيلَاتِ وَلَا الْعَمَائِمَ وَلَا الْبَرَانِسَ إِلَّا أَنْ يَكُونَ أَحَدٌ لَيْسَتْ لَهُ نَعْلَانِ فَلْيَلْبَسْ الْخُفَّيْنِ وَلْيَقْطَعْ أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ  

 Artinya : “Dari Abdullah bin Umar r.a, seorang laki-laki datang lampau berkata: Wahai Rasulullah, busana apa nan Anda perintahkan untuk kami ketika ihram? Nabi Muhammad SAW menjawab, Janganlah kalian memakai baju, celana, sorban, jubah (pakaian nan menutupi kepala) selain seseorang nan tidak mempunyai sandal, hendaklah dia memakai khuf (sejenis sepatu kulit) dan tapi hendaklah dipotongnya hingga berada di bawah mata kaki.”

Ketiga, ketika berihram dilarang bagi wanita dan laki – laki untuk berasosiasi badan (jimak). Hal tersebut dapat merusak kemuliaan berhaji dan dapat menimbulkan dosa dan kafarah. Seperti nan tertulis pada surat Al Baqarah ayat 197 nan berbunyi,

اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

Artinya : “(Musim) haji itu (berlangsung pada) bulan-bulan nan telah dimaklumi. Siapa nan mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, janganlah melakukan rafaṡ, melakukan maksiat, dan bentrok dalam (melakukan ibadah) haji. Segala kebaikan nan Anda kerjakan (pasti) Allah mengetahuinya. Berbekallah lantaran sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang nan mempunyai logika sehat.” 

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam