Harta Warisan Kerap Jadi Sumber Konflik, Begini Penjelasannya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Konflik warisan dalam sebuah family adalah masalah nan sering terjadi dan bisa menjadi penyebab terpecahnya hubungan nan telah dibangun selama bertahun-tahun. Warisan, seringkali dianggap sebagai sumber bentrok nan paling umum, dan bisa memunculkan perselisihan antara personil keluarga.

Waris adalah peralihan kekayaan barang milik pewaris kepada mahir warisnya. Pewaris adalah orang nan meninggal bumi dan meninggalkan kekayaan benda. 

Ahli waris adalah orang nan mempunyai hubungan darah dan hubungan perkawinan dengan pewaris. Sedangkan warisan adalah kekayaan barang nan ditinggalkan oleh pewaris.

Menurut Dosen Bidang Ilmu Fiqh Mawaris UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sri Hidayati menyebut banyak aspek nan memicu terjadinya bentrok dalam pembagian waris. 

“Sifat serakah alias serakah dan tidak adanya kesadaran norma seseorang bakal mendorong seseorang melakukan langkah licik, melakukan jahat alias melakukan perbuatan melawan norma untuk menguasai kekayaan nan bukan haknya,” ungkapnya, Sabtu (21/4).  

Sri mengatakan, ada beberapa perihal penyebab bentrok perebutan warisan, yaitu:

Pertama, ketidak pahaman para mahir waris tentang norma waris

Ketidaktahuan siapa saja mahir waris nan berkuasa menerima warisan, kekayaan barang mana saja nan termasuk kekayaan warisan, besaran kewenangan waris masing-masing mahir waris menjadi salah satu penyebab konflik. 

Kedua, pluralisme norma waris nan ada di Indonesia

Setidaknya ada 3 norma waris nan bertindak di Indonesia, ialah norma waris Islam, norma waris budaya dan norma waris perdata. 

Hukum waris Islam bertindak bagi pemeluk kepercayaan Islam, norma budaya bertindak bagi masyarakat adat, dan norma waris perdata bertindak bagi non Muslim. 

Bagi masyarakat budaya nan berakidah Islam, tidak adanya kesepakatan tentang norma waris mana nan dipakai sehingga bisa menimbulkan bentrok pembagian warisan. 

Ketiga, berlarut-larutnya pembagian warisan yang belum diselesaikan

Sehingga menimbulkan mahir waris baru. Misalnya, istri meninggal, warisan belum dibagikan kepada para mahir waris dan suami menikah lagi dan wafat. Hal tersebut bisa terjadi perebutan warisan antara anak-anak pewaris dan ibu sambungnya.

Keempat, tidak adanya kesepakatan diantara para mahir waris tentang pembagian waris

dikarenakan warisan tersebut merupakan satu kesatuan nan tidak bisa dipecah-pecah, sementara kebutuhan para mahir waris berbeda-beda. 

Misalnya warisan berupa rumah, sebagian mahir waris menginginkan dijual dan hasil penjualan dibagi-bagi, sementara sebagian mahir waris tidak setuju dan bersikeras untuk tetap menempati rumah tersebut.

Kelima, adanya pengingkaran salah satu mahir waris

Atau beberapa mahir waris tentang kesepakatan nan pernah dibuat di antara sesama mahir waris tentang pembagian waris

Keenam...

Lihat laman berikutnya >>>

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam