Haruskah Muslimah Berangkat Haji Dengan Mahram?

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Musim haji sudah tiba. Saat ini, sebagian saudara-saudara kita sedang berada di Tanah Suci guna menunaikan rukun Islam kelima tersebut.

Kesempatan berhaji janganlah disia-siakan, minimal sekali seumur hidup. Terlebih lagi, tidak semua orang Islam mempunyai keahlian untuk berangkat ke Tanah Suci.

Khususnya bagi wanita Islam, ada persiapan unik nan kudu diperhatikan. Jamaah Muslimah hendaknya ditemani mahramnya saat menunaikan ibadah haji.

Ketentuan ini dilandaskan pada sabda riwayat Imam Bukhari. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan wanita selain dengan ditemani mahramnya."

Mendengar itu, seorang laki-laki bangkit seraya berkata, "Wahai Rasulullah, istriku berangkat hendak menunaikan haji, sementara saya diwajibkan untuk mengikuti perang ini dan ini."

Beliau berkata, "Kalau begitu, kembali dan tunaikanlah haji berbareng istrimu."

Ketentuan kudu ditemani mahram berdasar sabda di atas rupanya menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada nan mewajibkan jamaah haji Muslimah kudu ditemani mahramnya berasas norma tertulis di atas.

Selain itu, kalangan ustadz nan mewajibkan juga menguatkan pendapatnya dengan beberapa sabda lainnya. Ambil contoh, dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, "Janganlah seorang wanita berjalan selama tiga hari selain berbareng mahramnya" (HR Ahmad).

Pandangan ini diambil oleh ulama-ulama Maliki. Menurut para fukaha dari ajaran ini, ibadah haji bagi seorang Muslimah kudu disertai suaminya, alias salah seorang mahramnya, alias seorang kawan wanita nan dapat dipercaya. Kalau semua itu tidak ada, maka tidak wajib baginya melaksanakan ibadah haji.

Adapun ustadz dari ajaran Hanbali secara tegas mewajibkan adanya suami atau mahram. Sebab, perihal itu merupakan syarat keahlian (istitaah) wanita melaksanakan haji. Imam Ahmad bin Hanbal berkata, "Kalau seorang wanita tidak ada suami alias mahramnya, maka ibadah haji tidak wajib atasnya."

Pendapat tersebut didasarkan pada sabda Nabi SAW, "Tidak legal bagi seorang wanita nan beragama kepada Allah dan hari akhir berjalan selama tiga hari alias lebih, selain berbareng ayahnya alias suaminya alias anaknya alias saudaranya alias mahramnya" (HR Bukhari dan Muslim).

Bagaimana pandangan ajaran Syafii?

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam