Hubungan antara takwa dengan adab yang mulia
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai karena yang terbanyak membikin orang masuk ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan adab yang bagus.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh al-Albani)
Para ustadz menjelaskan bahwa di dalam sabda ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan antara takwa dengan adab yang mulia; lantaran dengan takwa bakal memperbaiki hubungan hamba dengan Allah, sedangkan dengan adab yang mulia bakal memperbaiki hubungan hamba dengan sesama manusia. (Lihat keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah yang dikutip oleh Syekh Abdurrazzaq al-Badr dalam Ahaditsul Akhlaq, hal. 7)
Akhlak mulia menjadi karena Allah mencintai seorang hamba. Dari Usamah bin Syarik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bagus akhlaknya.” (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan al-Hakim dalam al-Mustadrak, disahihkan oleh al-Albani)
Termasuk karena untuk meraih cinta Allah adalah memberikan faedah kepada umat manusia; dan ini pun termasuk bagian dari adab yang mulia. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling berfaedah bagi manusia…” (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya, sanadnya dihasankan al-Albani)
Dan di antara corak adab yang mulia adalah beristigfar dan bertobat kepada Allah. Karena itulah, Allah pun menyandingkan tauhid dengan istigfar. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mencontohkan,
واللَّهِ إنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وأَتُوبُ إلَيْهِ في اليَومِ أكْثَرَ مِن سَبْعِينَ مَرَّةً
“Demi Allah, sesungguhnya saya beristigfar (memohon ampunan) kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih banyak dari 70 kali.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)
Mak-hul meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa beliau berkata,
ما رأيت أحدًا أكثر استغفارًا من رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Tidaklah saya memandang seseorang yang lebih banyak istigfarnya dibandingkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Kemudian beliau (Mak-hul) mengatakan,
ما رأيت أكثر استغفارًا من أبى هريرة
“Tidaklah saya memandang ada orang yang lebih banyak beristigfar daripada Abu Hurairah.” (Riwayat ini dinukil oleh Ibnu Baththal dalam Syarh Shahih Bukhari)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
طوبى لِمَن وجد في صحيفته استغفاراً كثيراً
“Beruntunglah bagi orang yang mendapati di dalam lembaran catatan amalnya kelak ucapan istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ’anhu, dinyatakan sahih oleh al-Albani)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir-akhir hidupnya setelah sekian lama menjalani perjuangan dakwah dengan jiwa dan raganya pun diperintahkan oleh Allah untuk beristigfar kepada-Nya, sebagaimana disebutkan dalam surah an-Nashr. “Maka sucikanlah dengan memuji Rabbmu dan minta ampunlah kepada-Nya..”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku pasti masuk surga selain yang enggan.” Para sahabat pun bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barangsiapa alim kepadaku, maka dia masuk surga; dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka dia lah orang yang enggan itu.” (HR. Bukhari)
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,
إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ: رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيم
“Sungguh dulu kami sering menghitung kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis beliau mengucapkan kalimat ‘Rabbighfirlii wa tub ‘alayya, innaka antat tawwaabur rahiim‘ (yang artinya), “Wahai Rabbku, ampunilah saya dan berikanlah tobat kepadaku, sesungguhnya Engkau Mahapenerima tobat lagi Mahapenyayang.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إلى اللهِ، فإنِّي أَتُوبُ في اليَومِ إلَيْهِ مِئَةَ مَرَّةٍ
‘Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya saya bertobat kepada Allah dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim dari al-Aghar al-Muzani radhiyallahu ’anhu)
Memadukan antara khouf dan roja’
Di antara perkara yang sangat kita butuhkan pada masa seperti sekarang ini adalah keberadaan iktikad khouf dan roja’ di dalam hati. Para ustadz menggambarkan bahwa seyogyanya seorang mukmin hidup di alam bumi ini seperti seekor burung dengan dua belah sayap dan kepalanya.
Adapun kedua belah sayap itu seumpama dari khouf dan roja’. Khouf ialah rasa takut kepada Allah, takut terhadap balasan dan azab-Nya. Roja’ ialah angan kepada Allah dan pahala dari-Nya. Sementara yang menjadi kepalanya adalah mahabbah (rasa cinta); ialah cinta kepada Allah dan apa-apa yang Allah cintai. Dengan ketiga unsur inilah seorang muslim membangun kebaikan dan ketaatannya kepada Allah.
Allah berfirman,
نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ، وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ
“Beritakanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku lah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang, dan sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih.” (QS. al-Hijr: 49-50)
Syekh Muhammad bin Abdullah as-Subayyil rahimahullah (wafat 1434 H) mengatakan,
ولذا ينبغي على المؤمن أن يعيش في هذه الدنيا كالطائر الذي له جناحان ورأس ، أما الجناحان : فالخوف والرجاء ، وأما الرأس فالمحبة
“Oleh karena itu, semestinya seorang mukmin hidup di alam bumi ini seperti seekor burung yang mempunyai dua belah sayap dan sebuah kepala. Adapun kedua sayap itu adalah takut dan harapan, sedangkan yang menjadi kepalanya adalah kecintaan.” (Lihat Fatawa al-‘Aqidah dalam website resmi beliau. Link artikel: https://alsubail.af.org.sa/ar/node/210)
Di antara buah dan faedah dari khouf adalah segera bertobat kepada Allah dari dosa dan maksiat kemudian berupaya menjauhi perbuatan dosa. Sementara buah dari roja’ adalah tidak berputus asa dari rahmat Allah. Adapun kecintaan merupakan penggerak utama dalam melakukan beragam kebaikan kebaikan. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa hati-hati manusia itu tercipta dalam keadaan mencintai Dzat Yang melakukan baik kepadanya.
Takwa kepada Allah juga ditegakkan di atas pilar khouf dan roja’. Oleh karena itu, Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Takwa adalah Anda melakukan ketaatan kepada Allah di atas sinar dari Allah lantaran mengharapkan pahala dari Allah, dan Anda meninggalkan maksiat kepada Allah di atas sinar dari Allah lantaran takut balasan Allah.” (Disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Risalah Tabukiyah)
Allah berfirman,
وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ
“Dan sesungguhnya Aku (Allah) betul-betul Maha Pengampun terhadap orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh kemudian mengikuti petunjuk.” (QS. Thaha: 82)
Sebenar-benar takwa
Allah berfirman,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian meninggal selain dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)
Di dalam ayat yang mulia ini, Allah memerintahkan kepada segenap kaum beriman; ialah orang-orang yang Allah berikan nikmat keagamaan di dalam hatinya dan ketundukan beragama kepada Allah dengan jiwa dan raganya. Sebuah perintah untuk bertakwa kepada Allah; ialah mencakup sikap alim dan tunduk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Di dalam ayat ini, Allah juga melarang mereka dari meninggalkan kepercayaan dan keagamaan yang telah mereka pegang selama ini.
Ibnu Katsir rahimahullah menukil penafsiran dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu tentang maksud dari perintah bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata,
أن يطاع فلا يعصى ، وأن يذكر فلا ينسى ، وأن يشكر فلا يكفر
“Yaitu Allah ditaati, tidak didurhakai. Allah diingat dan tidak dilupakan. Allah disyukuri dan tidak boleh dikufuri.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surah Ali ‘Imran ayat 102)
Di dalam kalimat yang ringkas ini, Ibnu Mas’ud menjelaskan kepada kita beberapa simpul ketakwaan. Bahwa takwa kepada Allah itu dibangun di atas 3 landasan; ketaatan, zikir, dan syukur. Taat kepada Allah mencakup melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Termasuk corak ketaatan adalah sabar dan tawakal kepada Allah. Zikir kepada Allah mencakup kalimat tauhid, kalimat tasbih, tahmid, takbir, dan membaca al-Qur’an. Adapun syukur kepada Allah meliputi kepercayaan di dalam hati, ucapan dengan lisan berupa pujian kepada Allah dan menggunakan nikmat yang Allah berikan dalam kebaikan.
Sahl bin Abdullah rahimahullah mengatakan, “Syukur adalah bersungguh-sungguh dalam mengerahkan ketaatan dengan disertai tindakan menjauhi maksiat dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan.” (Lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 2: 105; karya al-Qurthubi)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Adapun syukur, dia adalah menunaikan ketaatan kepada-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan beragam perihal yang dicintai-Nya baik yang berkarakter lahir maupun batin.” (Lihat al-Fawa’id, hal. 193 penerbit ar-Rusyd)
Syekh Sa’ad bin Nashir asy-Syatsri hafizhahullah menerangkan bahwa prinsip syukur adalah menunaikan kewenangan atas nikmat yang Allah berikan. Syukur mencakup tiga aspek. Dengan hati, dia mengakui bahwa nikmat itu datang dari Allah. Dengan lisan, dia menceritakan nikmat yang Allah berikan dan menyandarkan nikmat itu kepada-Nya. Dan dengan personil badan, dia gunakan nikmat itu dalam hal-hal yang mendatangkan keridhaan Allah. Dengan demikian, syukur mencakup segala corak kebaikan ketaatan. (Lihat Syarh Mutun al-‘Aqidah, hal. 220)
Baca juga: Bertakwalah Kepada Allah Menurut Kesanggupanmu
***
Penulis: Ari Wahyudi
Artikel Kincai Media
English (US) ·
Indonesian (ID) ·