Bunda, ada berita yang cukup mengkhawatirkan soal kualitas lingkungan di Jakarta. Dilansir dari detikcom, temuan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa air hujan di Ibu Kota rupanya mengandung mikroplastik.
Tentu saja, perihal ini memunculkan kekhawatiran baru, apalagi mikroplastik dalam jangka panjang bisa membahayakan kesehatan manusia. Penasaran kan, dari mana sih asalnya hujan mikroplastik ini dan seberapa bahayanya? Yuk, kita simak tiga kebenaran krusial yang wajib Bunda tahu.
Alasan di kembali ramai air hujan DKI mengandung mikroplastik
Fenomena air hujan mengandung mikroplastik ini rupanya bukan perihal yang mustahil, Bunda, dan bisa dijelaskan secara ilmiah. Menurut Guru Besar IPB University, Prof. Etty Riani, mikroplastik, terutama yang berukuran sangat mini alias nanoplastik, mempunyai massa yang sangat ringan. Oleh lantaran sangat ringan inilah, partikel-partikel tersebut mudah terangkat ke atmosfer.
Prof. Etty menjelaskan, mikroplastik dan nanoplastik ini bisa berasal dari beragam sumber di darat. Sumber-sumbernya termasuk gesekan ban mobil, pelapukan sampah plastik yang kering dan terbawa angin, hingga serat dari busana berbahan sintetis. Hujan mikroplastik ini juga terjadi lantaran aspek lingkungan seperti suhu tinggi dan kondisi udara kering yang mempercepat pelapukan plastik dan mempermudah partikel lembut beterbangan ke atmosfer.
Uniknya, hujan berkedudukan seperti "pencuci udara". Mikroplastik yang melayang di atmosfer bakal menyatu dengan tetesan air hujan. Karena ukurannya sangat kecil, partikel itu tidak terlihat, sehingga seolah-olah air hujan terlihat bersih. Akar masalah utamanya adalah tingginya penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, manusia tidak lepas dari plastik, yang akhirnya terurai menjadi mikroplastik dan nanoplastik.
Bahaya mikroplastik plastik berbahaya
Bunda, temuan ini menjadi sinyal serius lantaran mikroplastik berpotensi membahayakan kesehatan dalam jangka panjang. Kepada detikcom, Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mengatakan bahwa mikroplastik sudah ditemukan di beragam bagian tubuh manusia, seperti paru-paru, darah, apalagi plasenta. Hal ini menunjukkan adanya potensi paparan kronis dan meluas.
Bahaya yang mengintai termasuk potensi peradangan kronis pada saluran napas alias usus, gangguan hormon endokrin disebabkan oleh bahan kimia aditif plastik seperti BPA (Bisphenol A), dan peningkatan akibat penyakit kardiovaskular dan stres oksidatif dari partikel mikro yang berkarakter toksik.
Selain itu, mikroplastik juga menjadi perantara bagi sebaran penyakit, lantaran patogen bisa menempel di situ. Ini sama halnya dengan polutan yang bisa memperburuk situasi penyakit.
Fenomena hujan mikroplastik ini juga terjadi di banyak negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea, China, Australia, hingga negara-negara di Benua Eropa. Artinya, mikroplastik bisa terbawa melalui atmosfer jarak ribuan kilometer, beredar layaknya karbondioksida dan air, dan menjadi bagian permanen dari sistem Bumi.
Cara mencegah mikroplastik berbahaya
Meskipun masalahnya berskala global, ada banyak langkah untuk membantu mengurangi cemaran hujan mikroplastik ini. Pertama, krusial untuk menetapkan standar periode pemisah mikroplastik dalam air, udara, dan makanan. Perlu juga kampanye literasi lingkungan agar masyarakat memahami bahwa plastik tidak hanya mencemari laut, tapi juga ada di udara yang kita hirup dan air hujan.
Selain itu, perubahan style hidup juga berpengaruh. Kita kudu mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan beranjak ke bahan alami serta biodegradable (bahan yang dapat terurai alami oleh mikroorganisme). Prof. Etty menyarankan, "Kita perlu hidup lebih sederhana dan kembali ke alam".
Terakhir, Dicky menyarankan untuk menghindari membakar alias membuang plastik sembarangan. Kita juga perlu menghindari produk perawatan tubuh yang mengandung mikroplastik dan memilih busana berbahan alami, seperti katun alias linen, untuk mengurangi pelepasan serat sintetis.
Selain upaya yang sudah disebutkan di atas, pemerintah daerah perlu meningkatkan edukasi dan sistem daur ulang air hujan serta limbah yang ramah lingkungan.
"Pemerintah daerah perlu untuk mengembangkan sistem pengelolaan air hujan dan limbah yang ramah lingkungan. Supaya mikroplastik tidak bersirkulasi," ujar Dicky.
Dengan tindakan kolektif, kita bisa membantu menjaga kualitas udara dan lingkungan kita agar tetap sehat.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·