Hukum Bacaan Bilal Shalat Tarawih Dan Witir

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia – Lantunan sholawat atau radhiyallahu ‘anhu oleh bilal dan jamaah pada shalat tarawih dan shalat witir senantiasa dipraktikkan pada banyak masjid dan mushalla di Indonesia. Susunan referensi shalawat mempunyai keragaman referensi nan berbeda-beda di beberapa daerah. Lantas, bagaimanakah norma referensi bilal dan jawaban jamaah pada shalat tarawih dan witir?

Dalam literatur kitab fikih, dijumpai beberapa keterangan nan menjelaskan bahwasanya tidak ada dalil unik dalam al-Qur’an alias sabda nan menyatakan kesunnahan membaca sholawat dan taraddi ketika shalat tarawih dan witir. Sebagaimana dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidīn laman 74 berikut,

وَأَمَّا التَّرَضِّي عَنِ الصَّحَابَةِ فَلَمْ يَرِدْ بِخُصُوْصِهِ هُنَا كَبَيْنَ تَسْلِيْمَاتِ التَّرَاوِيْحِ ، بَلْ هُوَ بِدْعَةٌ إِنْ أَتَي بِهِ يَقْصِدُ أَنًّهُ سُنَّةٌ فِي هَذَا المَحَلِّ بِخُصُوْصِهِ ، لَا إِنْ أَتَي بِهِ بِقَصْدِ كَوْنِهِ سُنَّةً مِنْ حَيْثُ الْعُمُوْمِ لِإِجْمَاعِ المُسْلِمِيْنَ عَلَى سَنِّ التَّرَضِّي عَنْهُممْ ، وَلَعَلَّ الحِكْمَةَ فِي التَّرَضِّي عَنْهُمْ وَعَنِ الْعُلَمَاءِ وَالصُّلَحَاءِ التَّنْبِيْهُ بِعُلُوِّ شَأْنِهِمْ وَالتَّنْبِيِهُ بِعَظْمِ مَقَامِهِمْ.

Artinya : “Mengucapkan taraḍḍī (raḍiyallahu ‘anhu) kepada sahabat (Abū bakar, ‘Umar bin Khattab, ‘Utsmān bin ‘Afāfn, ‘Alī Ra.) tidak dikenal secara unik seperti nan dilakukan di antara shalat tarawih. Membaca dengan meyakini alias bermaksud bahwa referensi tersebut disunahkan pada saat salat tarawih dihukumi bid’ah.

Pada sisi lain, membaca tidak dihukumi bid’ah andaikan membaca taraddli dengan maksud bahwa referensi tersebut disunnahkan kapan saja-bukan tertentu pada salat tarawih. Mungkin hikmah penyebutan sahabat, para ulama, dan orang-orang saleh ditujukan untuk mengingatkan tingginya derajat dan kedudukan mereka.”

Mengenai perbedaan ragam referensi nan berbeda-beda di beragam wilayah dapat dimaklumi lantaran referensi ini memang bukan dari Nabi Muhammad Saw.  Sebagaimana dalam keterangan kitab Al-Majmū’ Syarh Muhażżab, juz 6, laman 172 berikut,

يُسْتَحَبُّ التَّرَضِّي وَالتَّرَحُّمُ عَلَى الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ فَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ الْعُلَمَاءِ وَالْعُبَّادِ وَسَائِرِ الْأَخْيَارِ فَيُقَالُ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ أَوْ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ أَوْ رَحِمَهُ اللَّه وَنَحْوُ ذَلِكَ.

Artinya : “Disunahkan membaca taraḍḍī, tarahum kepada sahabat, tabi’in, ulama, mahir ibadah, dan orang terpilih. Bacaan taraḍḍī adalah raḍiyallahu ‘anhu, rahmatullahi ‘Alaihi, rahimallahu ‘alaihi dan sebagainya.”

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa bahwasanya tidak ada dalil unik dalam al-Qur’an alias sabda nan menyatakan kesunnahan membaca sholawat dan taraddi ketika shalat tarawih dan witir. Sehingga, seseorang tidak boleh meyakini sholawat dan taraddi sebagai ibadah nan disunahkan pada saat tarawih, tapi cukup meyakini bahwa referensi itu disunnahkan secara umum.

Demikian penjelasan mengenai norma referensi bilal dan jawaban jamaah pada shalat tarawih dan witir. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. [Baca juga: Bacaan Niat Sholat Tarawih Lengkap]

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah