Hukum Dan Kondisi Orang Puasa Saat Safar

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Islam adalah kepercayaan penuh kasih sayang. Dan di antara corak kasih sayang kepada umatnya adalah adanya kemudahan dan keringanan tatkala ada uzur, kesulitan, alias kepayahan bagi umatnya saat menjalankan sebagian ibadah. Baik itu berupa boleh meninggalkan ibadah tersebut dan diganti di lain waktu alias tetap mengerjakannya tetapi dengan corak peribadatan nan berubah dari asal tata caranya sehingga lebih ringan untuk dikerjakan.

Di antara uzur nan mendapatkan rukhsah (keringanan) adalah safar. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan barangsiapa sakit alias dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari nan ditinggalkannya itu pada hari-hari nan lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah Anda mencukupkan bilangannya dan hendaklah Anda mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya nan diberikan kepadamu agar Anda bersyukur.”[1]

Adapun safar nan mendapatkan rukhsah (keringanan) andaikan jarak tempuhnya sudah mencapai kurang lebih 83 km. Ini merupakan pendapat kebanyakan ustadz dan nan dipilih oleh Syekh Ibnu Baz rahimahullah.[2] Mereka beralasan dengan sabda berikut,

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَابْنُ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهم – يَقْصُرَانِ وَيُفْطِرَانِ فِى أَرْبَعَةِ بُرُدٍ وَهْىَ سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا

“Dahulu Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum mengqasar salat dan tidak berpuasa ketika bersafar menempuh jarak 4 burud (yaitu: 16 farsakh).”[3]

Sehingga, pada asalnya andaikan seseorang bersafar di bulan Ramadan alias dia sedang menjalankan puasa wajib lainnya (nazar, kafarat, atau qada’), maka boleh baginya untuk tidak berpuasa. Namun, meski demikian, setidaknya ada empat rincian norma dan kondisi orang puasa saat safar sebagai berikut:

Pertama, andaikan puasa saat safar bisa membahayakan dan memberikan mudarat baginya, maka kondisi seperti ini hukumnya makruh untuk puasa. Namun, andaikan tetap puasa, maka puasanya sah. Sebagian ustadz beranggapan hukumnya haram, dan ini pendapat nan lebih kuat.[4] Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

“Tidak boleh melakukan sesuatu nan membahayakan diri sendiri ataupun orang lain.”[5]

Kedua, apabila puasa saat safar memberatkan dirinya, namun tidak sampai membahayakan dan memberikan mudarat baginya, maka kondisi seperti ini hukumnya makruh juga untuk puasa. Namun, andaikan tetap puasa maka puasanya sah. Berdasarkan sabda Jabir bin ‘Abdillah. Jabir mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى سَفَرٍ ، فَرَأَى زِحَامًا ، وَرَجُلاً قَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ ، فَقَالَ « مَا هَذَا » . فَقَالُوا صَائِمٌ . فَقَالَ « لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِى السَّفَرِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika bersafar memandang orang nan berdesak-desakan. Lalu, ada seseorang nan diberi naungan. Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, ‘Siapa ini?’ Orang-orang pun mengatakan, ‘Ini adalah orang nan sedang berpuasa.’ Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Bukanlah suatu nan baik jika seseorang berpuasa ketika dia bersafar.’”[6]

Ketiga, apabila puasa alias tidak puasa saat safar sama saja tidak ada bedanya baginya. Artinya dia tidak merasa keberatan sama sekali puasa saat safar. Maka, nan lebih utama bagi dia adalah tetap berpuasa lantaran lebih sigap menggugurkan tanggungjawab bagi mukallaf (orang nan dibebani syariat), lebih mudah menjalankan puasa berbareng orang-orang juga puasa, dan mendapati waktu nan mulia dan utama, ialah bulan Ramadan.[7]

Keempat, apabila seseorang tidak merasa keberatan dan kesulitan puasa saat safar, namun dia merasa berat dan susah untuk meng-qada’-nya. Seperti seseorang nan jauh lebih sibuk dengan pekerjaan dan banyak safar di luar bulan Ramadan, maka kondisi nan seperti ini lebih utama baginya puasa saat safar di bulan Ramadan.

Waallahu Ta’ala a’lam.

Semoga bermanfaat.

Baca juga: Hukum Sengaja Melakukan Safar agar Tidak Berpuasa

***

Penulis: Junaidi, S.H., M.H.

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] QS. Al-Baqarah: 185.

[2] Fatawa Nur ‘ala Al-Darb, 42:13-43.

[3] HR. Bukhari secara mu’allaq –tanpa sanad-. Di-washal-kan oleh Al-Baihaqi, 3: 137. Lihat Al-Irwa’, 565.

[4] Asy-Syarhu Al-Mumti’ oleh Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, 6:355.

[5] HR. Imam Ahmad, 1:313.

[6] HR. Bukhari no. 1946 dan Muslim no. 1115.

[7] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 28:73.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah