Hukum Dan Tata Cara Salat Dengan Duduk Di Atas Kendaraan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Berdiri merupakan rukun dalam salat wajib, bagi orang nan bisa melakukannya.

Para fuqaha sepakat bahwa berdiri merupakan rukun dalam salat wajib, bagi orang nan bisa melakukannya.[1]

Allah Ta’ala berfirman,

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah segala salat(mu), dan (peliharalah) salat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk.” [2]

Sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga menegaskan tanggungjawab berdiri dalam salat. Hal ini berasas sabda nan diriwayatkan oleh Jama’ah, selain Muslim.

Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku menderita penyakit bawasir. Lalu, saya bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang salat, maka beliau bersabda,

صَل قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

‘Salatlah dengan berdiri. Jika tidak mampu, maka dengan duduk. Dan jika tidak bisa juga, maka dengan berbaring.‘ ” [3]

Khusus salat sunah, diperbolehkan dengan duduk

Diperbolehkan melakukan salat sunah dengan duduk lantaran uzur alias tanpa uzur.

Para fuqaha sepakat tentang bolehnya salat sunah dengan duduk baik lantaran uzur alias tidak. [4] Hal ini berasas sabda Imran bin Hushain bahwa dia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang seorang laki-laki nan salat dengan duduk, beliau bersabda,

مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَل وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ، وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ

“Barangsiapa salat dengan berdiri, itu lebih utama. Barangsiapa salat dengan duduk, maka baginya separuh pahala orang nan berdiri. Dan barangsiapa salat dengan tidur (berbaring), maka baginya separuh pahala orang nan duduk.” [5]

Terlebih lagi, salat sunah di atas kendaraan seperti pesawat, kapal, kereta, alias mobil, para ustadz sepakat tentang kebolehannya.

“Para ustadz sepakat [6] bahwa bagi musafir nan meringkas salatnya, diperbolehkan melakukan salat sunah di atas tunggangannya ke mana pun arahnya… Makam barangsiapa di dalam pesawat, kereta, mobil, dan sejenisnya, diperbolehkan melakukan salat sunah …” [7]

Hukum asalnya, tidak diperbolehkan salat wajib di atas kendaraan

Salat wajib tidak sah dilakukan dengan duduk di atas kendaraan, selain lantaran uzur (alasan nan dibenarkan).

Mazhab Maliki, Syafi’i, Hanbali, dan dua sahabat dari ajaran Hanafi, dalam pendapat nan lebih zahir, mengatakan,

أَنَّهُ لَا تَصِحُّ الصَّلَاةُ فَرْضًا فِي السَّفِينَةِ وَنَحْوِهَا كَالْمِحَفَّةِ وَالْهَوْدَجِ وَالطَّائِرَةِ وَالسَّيَّارَةِ قَاعِدًا إِلَاّ لِعُذْرٍ

“Bahwasanya salat fardu/ wajib tidak sah dilakukan dengan duduk di dalam kapal/ perahu dan sejenisnya, seperti tandu, kereta kuda, pesawat, dan mobil, selain lantaran uzur (alasan nan dibenarkan).” [8]

Namun demikian, bagi nan bisa melakukan salat fardu di atas kendaraan tunggangan dengan memenuhi seluruh syarat dan rukunnya, meskipun tanpa uzur, maka salatnya sah. Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah,

فَإِنَّ مَنْ أَمْكَنَهُ صَلَاةُ الْفَرِيضَةِ عَلَى الرَّاحِلَةِ مَعَ الإِْتْيَانِ بِكُل شُرُوطِهَا وَأَرْكَانِهَا، وَلَوْ بِلَا عُذْرٍ صَحَّتْ صَلَاتُهُ وَذَلِكَ كَمَا يَقُول الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ – وَهُوَ الرَّاجِحُ الْمُعْتَمَدُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ –

“… Maka, bagi siapa nan bisa melakukan salat fardu di atas kendaraan dengan memenuhi seluruh syarat dan rukunnya, meskipun tanpa uzur, maka salatnya sah. Ini pendapat ajaran Syafi’i dan Hanbali nan merupakan pendapat kuat dan dipegangi oleh ajaran Maliki.” [9]

Ringkasan dari pembahasan di atas

Hukum salat sunah dengan duduk di dalam kendaraan (misalkan pesawat alias kapal) adalah boleh. Sedangkan untuk shalat fardu dengan duduk, tidak diperbolehkan, selain lantaran uzur.

Baca juga: Safar Adalah Sebagian dari Azab

Tata langkah salat di atas kendaraan

Siapa saja nan diperbolehkan melaksanakan salat di atas kendaraan, dan dia mau mendirikan salat, maka

Dia menghadap ke arah mana pun kendaraan tersebut menuju.

Disunahkan kadang-kadang mengarahkan kendaraan menghadap kiblat, lampau bertakbir, kemudian salat ke arah mana kendaraan menghadap. [10]

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يسبح على الراحلة قبل أي وجه توجه، ويوتر عليها؛ غير أنه لا يصلي عليها المكتوبة

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan salat sunah di atas kendaraannya menghadap ke arah mana saja, dan beliau melakukan salat witir di atasnya, tetapi beliau tidak melakukan salat wajib di atasnya.” [11]

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أراد أن يصلي على راحلته تطوعاً؛ استقبل القبلة، فكبر للصلاة، ثم خلى راحلته، فصلى حيثما توجهت به

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak melakukan salat sunah di atas kendaraannya, beliau menghadapkan kendaraannya ke arah kiblat, lampau bertakbir memulai salat, kemudian membiarkan kendaraannya berjalan, maka beliau salat menghadap ke arah mana kendaraannya membawanya.” [12]

Dia kudu memberi isyarat dalam salatnya ketika rukuk dan sujud, dan menjadikan sujudnya lebih rendah daripada rukuknya. [13]

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata,

بَعَثَنِي رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي حَاجَةٍ فَجِئْتُ وَهُوَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ، وَالسُّجُودُ أَخْفَضُ مِنَ الرُّكُوعِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutusku untuk suatu keperluan. Lalu, saya datang (dan melihat) beliau salat di atas kendaraannya menghadap ke arah timur, dengan sujud lebih rendah daripada rukuk.” [14]

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan,

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي فِي السَّفَرِ عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ يُومِئُ إِيمَاءَ صَلَاةِ اللَّيْل إِلَاّ الْفَرَائِضَ

“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam andaikan dalam berjalan (safar), beliau salat di atas kendaraannya menghadap ke mana pun kendaraannya menuju. Beliau memberi isyarat seperti aktivitas salat malam, selain salat fardu (wajib).” [15]

Syekh Al-Utsmain rahimahullah ditanya tentang tata langkah salat di atas kendaraan dan mobil. Beliau menjawab,

الصفة أنك تجلس على ما أنت عليه ثم عند الركوع توميء إيماء وعند السجود يكون إيماؤك أكثر، وكذلك في السيارة، تصلي النافلة

“Caranya adalah duduk di atas apa nan Anda naiki, kemudian saat rukuk mengisyaratkan, dan saat sujud isyaratnya lebih rendah. Begitu pula di dalam mobil, Anda bisa melaksanakan salat sunah…” [16]

Demikian penjelasan ringkas, dan insyaAllah menyeluruh, tentang norma dan tata langkah salat dengan duduk di atas kendaraan. Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah bagi Nabi Muhammad, keluarga, dan pengikut beliau.

Baca juga: Adab-Adab Safar (Bepergian Jauh)

***

12 Syawal 1445, Rumdin Ponpes Ibnu Abbas Assalafy Sragen.

Penulis: Prasetyo, S.Kom.

Artikel: Muslim.or.id

Referensi:

Al-Fiqhul Muyassar Qism ‘Ibadat, Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar, Madarul Wathan, Riyadh, cet. ke-4, 2018 M.

Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, Tim Ulama Kuwait, Dar Shofwah, Mesir, cet. ke-1, 1421, (Maktabah Syamilah).

Bughyatu Al-Mutathawwi’ fi Shalati At-Tatawwu’, Dr. Muhammad Umar Bazmul, Darul Imam Ahmad, Kairo, cet. ke-1, 2006.

Catatan kaki:

[1] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 34:106.

[2] QS. Al-Baqarah: 238.

[3] HR. Bukhari, Fathul Bari, 2:587.

[4] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 34:109.

[5] HR. Bukhari, Fathul Bari, 2:586.

[6] Al-Mughni, 2:95.

[7] Al-Fiqh Al-Muyassar, 1:235.

[8] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 34:110.

[9] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 27:231.

[10] Bughyatu Al-Mutathawwi’ fi Shalati At-Tatawwu’, hal. 158.

[11] HR. Bukhari no. 1098 dan Muslim no. 700.

[12] HR. Ahmad, 3:203 dan Abu Dawud no. 1225. Dihasankan oleh Imam Al-Albani rahimahullah.

[13] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 27:233.

[14] HR. Abu Dawud, 2:22.

[15] HR. Bukhari, Fathul Baari, 2:489.

[16] https://al-fatawa.com/fatwa/45758

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah