Hukum Endoskopi Saat Puasa

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Kincaimedia –  Endoskopi adalah prosedur medis nan dilakukan dengan memasukkan perangkat unik ke dalam organ internal. Pemeriksaan ini memungkinkan dokter untuk mendiagnosis masalah pada tubuh tanpa melakukan pembedahan besar. Nah berikut norma endoskopi saat puasa.

Prosedur ini dilakukan dengan perangkat nan sangat lentur dan mudah digerakkan disebut endoskop. Dokter bakal memasukkan endoskop ke dalam tubuh secara perlahan. Alat ini dapat dimasukkan melalui mulut, anus, saluran kemih, alias sayatan mini nan dibuat dekat persendian. Lantas, gimana norma endoskopi saat puasa?

Dalam literatur kitab fikih, barang nan masuk melalui lubang alias rongga tubuh, seperti hidung, telinga, dan dubur dapat membatalkan puasa andaikan sampai masuk kepada rongga dalam (jauf). Sedangkan andaikan tidak sampai masuk ke bagian dalam maka puasanya tidak batal.

Hal ini sebagaimana dalam keterangan kitab Badaius Shanai’, Jilid II, laman 93 berikut,

وَمَا وَصَلَ إلَى الْجَوْفِ أَوْ إلَى الدِّمَاغِ عَنْ الْمَخَارِقِ الْأَصْلِيَّةِ كَالْأَنْفِ وَالْأُذُنِ وَالدُّبُرِ بِأَنْ اسْتَعَطَ أَوْ احْتتَقَنَ أَوْ أَقْطَرَ فِي أُذُنِهِ فَوَصَلَ إلَى الْجَوْفِ أَوْ إلَى الدِّمَاغِ فَسَدَ صَوْمُهُ وَكَذَا إذَا وَصَلَ إلَى الدِّمَاغِ لِأَنَّهُ لَهُ مَنْفَذٌ إلَى الْجَوْفِ فَكَانَ بِمَنْزِلَةِ زَاوِيَةٍ مِنْ زَوَايَا الْجَوْفِ .وَلَوْ وَصَلَ إلَى الرَّأْسِ ثُمَّ خَرَجَ لَا يُفْسِدُ بِأَنْ اسْتَعَطَ بِاللَّيْلِ ثُمَّ  خَرَجَ بِالنَّهَارِ لِأَنَّهُ لَمَّا خَرَجَ عَلِمَ أَنَّهُ لم ييَصِلْ إلَى الْجَوْفِ أو لم يَسْتَقِرَّ فيه وَأَمَّا ما وَصَلَ إلَى الْجَوْفِ أو إلَى الدِّمَاغِ عن غَيْرِ الْمَخَارِقِ الْأَصْلِيَّةِ بِأَنْ دَاوَى الْجَائِفَةَ وَالْآمَةَ فَإِنْ دَاوَاهَا بِدَوَاءٍ يَابِسٍ لَا يُفْسِدُ لِأَنَّهُ لم يَصِلْ إلَى الْجَوْفِ وَلَا إلَى الدِّمَاغِ

Artinya : “Apapun nan bisa sampai ke rongga dalam (jauf) alias ke otak nan kelak juga berujung ke rongga dalam (jauf) melalui lubang alias rongga tubuh, seperti hidung, telinga, dubur, dll, maka puasanya batal.

Namun, seandainya hanya sampai pada kepala kemudian keluar lagi, dalam makna tidak sampai ke jauf alias sampai tapi tidak menetap di dalam jauf maka tidak batal. 

Sedangkan jika melalui selain rongga tubuh, semisal obat maka jika obatnya kering maka puasanya tidak batal. Apabila obatnya basah maka batal.”

Kalaupun pemeriksaan endoskopi ini sampai melewati rongga dalam, tidak lantas dapat dikatakan membatalkan puasa, lantaran tidak sesuai dengan ‘illat (alasan) penentuan batas tersebut ialah sampai dan menetapnya sesuatu di jauf sehingga dia memberi pengaruh kenyang (الغذاء), berbeda dengan endoskopi. Apabila ‘illat tersebut tidak dijumpai, maka puasanya tidak dapat dihukumi batal. Sebagaimana dijelaskan dalam norma fikih, 

الْحُكْم يَدُور مَعَ عِلَّته وُجُودًا وَعَدَمًا

Artinya: “Hukum didasarkan pada ada alias tidak adanya sebuah ‘illat (alasan).”

Keterangan ini juga sesuai dengan pendapat ustadz ajaran Hanafi nan menyatakan bahwa seseorang nan menelan daging, lampau mengeluarkannya seketika, maka puasanya tidak batal. Sebagaimana pendapat Imam al-Khasani dalam kitab Bada’i al-Shana’i  berikut,

مَنْ ابْتَلَعَ لَحْمًا مَرْبُوْطًا عَلَى خَيْطٍ ثُمَّ انْتَزَعَهُ مِنْ سَاعَتِهِ، إِنَّهُ لَا يُفْسِدُ 

Artinya : “Seseorang menelan daging nan diikat dengan tali, lampau mengeluarkannya seketika, maka puasanya tidak batal.”

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa pemeriksaan endoskopi ini tidak dapat membatalkan puasa, lantaran tidak sesuai dengan ‘illat (alasan) ialah sampai dan menetapnya sesuatu di jauf sehingga dia memberi pengaruh kenyang (الغذاء) berbeda dengan endoskopi. 

Demikian penjelasan mengenai norma endoskopi saat puasa. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah