Hukum Keramas Saat Puasa

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia– Salah satu pertanyaan nan sering muncul ketika memasuki bulan puasa ialah norma keramas saat puasa Ramadhan. Pembahasan ini sering kali menjadi perdebatan bagi sebagian umat Islam. 

Alasannya lantaran ada kekhawatiran jika keramas dapat membatalkan puasa seseorang. Perkara tersebut menjadi perihal krusial nan perlu diperhatikan oleh seluruh umat Islam agar dapat menjalankan ibadah puasa sesuai dengan hukum agama dan terhindar dari hal-hal nan dapat membatalkan puasa. Lantas gimana norma keramas saat puasa Ramadhan?

Hukum Keramas Saat Puasa

Hukum keramas saat puasa Ramadhan didasarkan dari sejumlah pendapat para ustadz adalah boleh. Namun dengan catatan tidak ada air nan masuk ke dalam lubang tubuh seperti telinga, hidung, dan mulut. Sementara, bagi nan tidak bisa menjaga air tersebut untuk masuk ke dalam lubang tubuh, maka hendaknya lebih berhati-hati ketika mengguyurkan air ketika sedang mandi. 

Pada dasarnya, keramas alias mandi di siang hari saat berpuasa hukumnya mubah (tetap diperbolehkan) asalkan bisa menjaga bagian lubang tubuh nan tidak boleh kemasukan air. Dalam berpuasa tidak ada rekomendasi unik untuk keramas. Sedangkan air nan tidak sengaja masuk ke dalam lubang tubuh lantaran mandi Junub alias mandi sebelum shalat Jumat, maka puasanya tetap terhitung sah lantaran mendapat toleransi (marfu).

Penjelasan Hadist

Salah satu sahabat Nabi, Anas bin Malik pernah mandi dan berkeramas di siang hari ketika sedang berpuasa. Hal ini disebutkan dalam sebuah Hadis Riwayat Bukhari nan berbunyi:

“Saya punya kolam air dan saya berendam di dalamnya saat keadaan berpuasa,” (H.R Bukhari).

Nabi Muhammad SAW juga pernah melakukan aktivitas keramas di siang hari ketika berpuasa lantaran merasa tidak nyaman bakal teriknya matahari. Ia mengguyurkan air ke kepalanya, sebagaimana disaksikan oleh para sahabat. Hal tersebut telah diriwayatkan dalam sebuah hadis, yaitu:

كان صلى الله عليه وعلى آله وسلم يصب الماء على رأسه وهو صائم من العطش أو من الحر

Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyiramkan air ke atas kepala Beliau ketika sedang puasa, lantaran kehausan alias terlalu panas.” (HR. Ahmad 16602, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Adapun sebuah sabda riwayat dari Aisyah RA nan menyebut jika Rasulullah SAW melaksanakan mandi junub di waktu subuh.

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصْبِحُ جُنُباً مِنْ جِمَاعِ غَيْرَ احْتِلَامٍ ثُمَّ يَصُومُ فِي رَمَضَانَ

Artinya: “Bahwasanya Rasulullah SAW suatu ketika tetap berada dalam keadaan junub di waktu subuh lantaran jima’ (sebelum subuh), bukan lantaran ihtilam (mimpi basah), lampau beliau menjalankan puasa Ramadhan (di hari itu).”

Dari sejumlah hadist di atas maka kesimpulannya adalah norma keramas alias mandi ketika berpuasa tetap diperbolehkan dalam Islam. Dengan catatan, orang tersebut bisa menjaga air agar tidak masuk ke dalam tubuh melalui lubang-lubang seperti hidung, telinga maupun mulut. Demikian semoga bermanfaat.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah